Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 100 Endoskopi


__ADS_3

"Dua tahun yang lalu?.... mengapa kamu tidak menceritakan kepada ku...nak?" tanya Mama Nadia dengan hati yang berdebar-debar dan bahagia.


"Tetapi ada banyak syarat yang harus mama lakukan" ucap Dini.


Ada tatapan mata yang tajam di mata Dini untuk memberikan semangat kepada mamanya itu untuk sembuh.


"Tentu syarat apapun itu akan aku lakukan jika kau pertemukan aku dengan nya".


Dini tersenyum manis melihat mama nya memiliki semangat untuk sembuh, itu yang diharapkan dari kemarin.


"Yang pertama mama harus memiliki semangat untuk sembuh, mau makan, minum obat secara teratur".


"Baiklah......apalagi?".


"Buktikan dulu.... ini mama harus menghabiskan bubur ini, dan di minum obatnya setelah itu".


Mama Nadia meraih piring yang berisi bubur nasi dengan kuah soto yang di taburi ayam suwir dan telur rebus, memakan nya sedikit demi sedikit, walaupun sesekali ingin muntah dan terasa mual, tetapi Mama Nadia memaksakan memasukkan bubur itu sesuap demi sesuap sampai habis.


"Sudah habis......mana minum dan obatnya?" kata Mama Nadia dengan semangat.


"Ini ma......setiap hari harus seperti ini ya.... semangat biar mama cepat sembuh".


Mama Nadia meminum air putih dan mengambil beberapa obat yang harus di minum nya hari ini dengan perlahan.


"Apa syaratnya selanjutnya?" kata Mama Nadia setelah selesai minum obat.


"Selama ini mana tidak pernah mau di endoskopi, mama harus melakukan itu, agar ke depannya nanti mag kronis mama tidak kambuh lagi, bagaimana?".


"Tapi aku takut Din?".


"Terserah mama, kalau tidak mau juga tidak apa-apa, Papa dan suamiku juga tidak tahu kok kalau aku sebenarnya sudah menemukan anak mas Dona" jawab Dini pura-pura merajuk.


"Baiklah.... baiklah... aku mau?".


Ok.... kita endoskopi dulu, selesai itu baru kita lanjutkan perjanjian kita".


Walaupun sedikit kecewa, Mama Nadia menundukkan kepalanya tanda setuju akan melakukan endoskopi.

__ADS_1


"Satu lagi....ma......ini hanya rahasia kita berdua, jangan sekali kali mama cerita kepada siapapun termasuk papa" kata Dini dengan tegas.


"Iya baiklah....bantu aku ke kamar mandi mau buang air kecil".


Dini memapah mamanya ke kamar mandi dengan senang karena selama ini dia tidak pernah mau ke kamar mandi, jika ingin BAB ataupun buang air kecil selalu menggunakan pispot.


Setelah selesai dari kamar mandi, dan membantu mama berbaring di tempat tidur lagi, Dini ijin pergi ke ruang perawatan untuk mengatakan jika mamanya setuju untuk melakukan endoskopi.


Endoskopi adalah salah satu cara untuk mengetahui penyakit yang ada di sekitar bagian dalam organ tubuh manusia termasuk usus atau lambung yang bermasalah.


Cara kerja endoskopi yaitu dengan memasukkan selang yang memiliki kamera di unjung selang melalui mulut ataupun anus.


Mama Nadia memiliki mag akut sehingga endoskopi dilakukan dengan cara memasukkan selang yang sebesar jari telunjuk nya melalui mulutnya, dan sebelum nya harus puasa semalaman agar ususnya bersih tidak ada sisa makanan.


Keesokan harinya jadwal Mama Nadia untuk melakukan endoskopi, Papa Tomy yang mendengar kabar jika istrinya mau melakukan endoskopi sangat bahagia, dan menemani nya di ruang endoskopi itu.


Dimasukkan nya kedalam mulut Mama Nadia setelah di berikan alat kecil di mulut nya agar tidak tertutup saat selang itu masuk, dengan perlahan selang itu masuk dan bisa di lihat dari layar monitor yang tersambung ke selang itu.


Ada banyak sekali luka di lambung Mama Nadia sehingga membuat Mama Nadia sering kambuh mag nya, dan tidak ada nafsu makan karena seringnya asam lambung yang naik akibat ada banyak luka di lambung.


"Syukurlah jika istri bos besar sudah mulai ada perkembangan dengan kesehatan nya" tulis Anton sambil tersenyum setelah mendapatkan informasi dari Dini.


"Terima kasih mas, atas ijinnya untuk memberitahukan kepada mama" jawab Dini kemudian.


"Tetapi kamu harus ingat, jangan seorang pun tahu tentang masalah ini" pesan Anton lagi.


"Ya mas pasti itu......".


Hampir setengah jam pemeriksaan endoskopi itu berlangsung baru selesai, Mama Nadia di bawa kembali ke ruang rawat inap kembali.


"Sekarang mama sudah terlihat lebih segar ya Din?' tanya Papa Tomy senang.


"Iya papa, semoga mama kembali sehat seperti sedia kala, Aamiin".


"Aamiin...." jawab kedua orang tua Dini bareng.


Sambil berbincang dengan papa dan mama nya Dini juga berkirim pesan kepada Imma mengabarkan jika dia dan keluarganya nya berada di Jakarta mengantarkan mamanya berobat di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.

__ADS_1


Bersamaan Tomy Sanjaya menghubungi Ken karena hari ini akan berkunjung ke PT WIGUNA GROUP secara resmi sebagai perwakilan dari perusahaan teh dan kerja sama pembangunan destinasi wisata alam yang hampir selesai.


Kunjungan Tomy Sanjaya akan di jadwalkan setelah makan siang dan lakukan dua tempat yaitu PT WIGUNA GROUP dan Imma Kafe.


Papa Tomy selesai menemani Mama Nadia endoskopi pamit kepada istri dan putrinya karena ada kunjungan kerja ke PT WIGUNA GROUP.


Papa Tomy bergegas keluar, menghubungi asisten Hendra dan tiga orang perwakilan agen penjualan produk teh yang ada di Jakarta untuk segera bersiap siap.


Mama Nadia bangun dari duduknya dengan cepat ingin sekali mendengar cerita tentang cuci laki-lakinya yang di janjikan Dini.


"Ayo Din.....papamu sudah berangkat lanjutkan lagi cerita nya kemarin!" pinta Mama Nadia.


Dini duduk di depan Mama Nadia, menggenggam tangan mama nya dan mulai bercerita dari pertemuan pertama nya dengan Anton tanpa sengaja dan perjanjian nya jika akan melindungi anak laki-laki Kakak itu dalam diam.


Dini juga menceritakan jika ide pembangunan destinasi wisata alam itu juga dari Anton agar keluarga Tomy Sanjaya bisa mendekati keluarga Ken tanpa di curigai oleh Baron Pranoto dan anak buahnya.


Semua ini skenario Anton untuk melindungi kedua keluarga karena beban amanah dari teman sekaligus bosnya Anton yaitu Dona Sanjaya.


"Berarti firasat ku tentang Faro benar ya nak?" tanya Mama Nadia.


"Ya mama..... darah memang lebih kental dari air, bagaimanapun juga hubungan darah akan bisa menunjukkan siapa kita dan keluarga kita.


"Apakah aku bisa bertemu dengan nya walaupun dalam diam seperti yang kamu lakukan?".


"Tentu mama.....akan aku atur nanti dengan mas Anton, yang penting mama harus sehat dulu sebelum bertemu dengan cucu laki-laki mama?"


"Umur berapa sekarang dia.... Din?".


"Sekitar delapan tahun mama....kelas dua SD, dan mama tahu?, hobi Faro dan papa itu sama?".


"Apakah hobi nya menebak seperti papamu?" .


"Ya....ma...ini kalau tidak percaya....".


Dini menunjukkan vedio Faro terbaru saat latihan menembak bersama Akung Letnan dengan gagahnya.


Mama Nadia memandangi vedio itu dengan seksama dan tanpadi sadari meneteskan air matanya tanpa bisa di kendalikan, hatinya sangat bahagia seperti melihat putranya itu hidup kembali dan hadir di hadapan nya.

__ADS_1


__ADS_2