
Imma menunggu di teras wisma dengan hati yang berdebar-debar seperti bertahun tahun tidak bertemu suaminya.
Mobil Sandi masuk di parkiran wisma, Ken memandangi wajah Imma dari kejauhan sambil tersenyum, dia sudah tidak sabar ingin berlari memeluk nya.
Mobil Sandi belum berhenti sempurna tetapi Ken sudah melesat lari mendekati Imma yang berdiri di teras wisma.
"Bos..... tidak bisa sabar sedikit kah, dasar bucin" celoteh Sandi memberhentikan mobilnya agar Ken tidak terluka.
Sandi, Bayu dan Mely hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bos nya itu, dia melupakan koper nya karena melihat istrinya berdiri di depan teras itu.
Ken langsung memeluk Imma dengan erat, Imma menenggelamkan kepalanya di dada Ken dan mencium harum tubuh Ken, sudah dua hari Imma tidak bisa melakukan ini,
Sandi dan Mely terpaksa membantu membawakan koper Ken dan mendorong nya ke teras mendekati Ken dan Imma yang sedang berpelukan dengan mesra.
Dari kejauhan Faro juga berlari mendekati kedua orang tua nya ikut memeluk kedua, sehingga bertiga saling berpelukan dengan erat.
"Abi........ Abang kangen....."ucap Faro sambil memeluk Ken dan Imma bersamaan.
Ken melepaskan pelukan Imma dan jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Faro serta mengusap pipinya.
"Abi juga kangen sama Abang ganteng" kata Ken sambil memeluk Faro lagi.
"Bi... ayo lihat tenda Abang Faro... untuk nanti malam...bagus deh" ajak Faro sambil menarik tangan Ken.
Ken beradu pandang dengan Imma dengan menaikkan pundaknya nya, Imma hanya tersenyum dan mengangguk setuju.
Sandi tersenyum sambil meledek bos nya yang tidak berdaya karena putranya, dan tidak bisa melepaskan rindu kepada istrinya itu.
"Yaaaaah.... gagal lagi deh kangen kangenan nya, tahan dulu bos...... sampai nanti malam" ledek Sandi.
Ken menatap nanar kepada Sandi dan melempar kertas tiket yang di ambil dari kantong celananya.
"Bilang aja ngiri tidak bisa begituan, cuma membayangkan aja?" gantian Ken meledek.
"Enak aja satu bulan lagi aku juga bisa merasakan itu" jawab Sandi tidak mau kalah.
"Ha...ha ... kelamaan"
Jawaban Ken itu terdengar kecil karena Ken sambil berlalu mengikuti Faro yang menarik nya.
Mely yang tidak tahu permasalahan nya jadi heran apa yang mereka bicarakan dan dia ingin tahu yang di bicarakan antara bos dan asisten nya itu.
__ADS_1
"Merasakan apa sih kak?" tanya Mely penasaran.
"Merasakan itu tu... kalau kita sudah halal" kata Sandi jujur.
"Eeeeee..... kakak jangan bicarakan itu tabu tau!".
"Atau kita nyicil sekali boleh kah hari ini, biar tidak di ledek terus sama bos?" rayu Sandi sambil mengedipkan matanya.
"Kak.... macam-macam aja pikiran nya, mau di gantung sama papaku, itu papa ada di kamar depan".
"Aduh....sadis banget di gantung...aku belum merasakan yang itu...malah digantung"
"Makanya...di buang tuuh pikiran ngeres nya"
"Tidak bisa..... karena bukan sampah, tidak bisa di buang, ada di otakku terus gara-gara bos meledek terus dari kemarin".
Imma hanya tersenyum mendengarkan perdebatan calon pengantin itu dan berlalu begitu saja ke kamar nya dengan santai.
"Imma.... tunggu..ini koper suamimu" teriak Mely dengan kencang nya.
Imma berbalik badan mendekati mereka dan mengambil koper dan satu kotak kardus dan menarik nya kedalam kamar.
"Terima kasih.... awas... jangan begituan dulu di tahan sampai penghulu menyatakan sah" ucap Imma sambil masuk kamar.
"Mana bisa...itu pikiran nya sendiri lah..... jangan menyalakan suamiku".
Imma menutup pintu kamar dan mendekati putri nya yang tertidur pulas di tempat tidur, merebahkan tubuhnya disana terpejam dan terlelap dalam mimpi indahnya, setelah memeluk Ken dan menghirup aroma suaminya Imma menjadi bisa tidur sesaat setelah tadi malam tidak bisa tidur sampai menjelang pagi.
Sedangkan Faro begitu antusias nya menceritakan perkemahan yang di pakainya untuk tidur nanti malam, semua keperluan di tata rapi, sedangkan di samping tenda perkemahan Faro ada Kemmy yang akan menemani Faro nanti malam.
Ada juga karyawan yang akan berkemah disana, mereka di bebaskan memilih tempat untuk menginap, boleh di wisma ataupun di tenda.
"Bang......Abi mandi dulu ya.... nanti kita cerita lagi, badan Abi gerah nich" pinta Ken.
"Ya Abi.... nanti kesini ajak umi dan adik Fia untuk melihat Abang Faro bobok".
Ken keluar dari tenda Faro menuju wisma tetapi Ken tidak tahu yang mana Imma saat ini, Ken menghubungi Imma tetapi tidak ada jawaban, akhirnya menghubungi Sandi kembali.
"Ada apa bos?" jawab Sandi saat mengangkat handphone dari Ken.
"Kau dimana....kesini sebentar, aku di depan wisma?".
__ADS_1
Sandi yang tadinya berbincang dengan calon mertua nya di meja makan ngopi bersama berlari mendekati Ken dengan tergesa-gesa sambil berpamitan kepada mereka.
"Dimana kamar istriku?" tanya Ken saat Sandi ada di depan nya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Bos....bos... dasar bucin...dari tadi rupanya sudah tidak tahan nya, kenapa tidak menghubungi nya langsung?".
"Sudah tetapi tidak di jawab".
"Ooooo yang itu kamar paling ujung itu kamar utama nya".
Ken berjalan menuju kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun hanya meliriknya sekilas saja senyum senyum sendiri seolah meledak Sandi lagi.
"Yaelah bos, coba mengucapkan terima kasih kek....nyelonong aja aja, mentang mentang mau begituan".
Ken tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sandi berhasil membuat nya uring-uringan karena selalu berpikir ngeres.
"Kasihan deh lu....!" kata Ken sambil masuk ke kamar Imma.
Ken melihat Imma terlelap tidur di samping adik Fia, Ken mencium bibir Imma perlahan sambil menahan badan dengan tangan nya agar tidak menimpa nya.
Baru merasakan sensasi ciuman Ken dan Imma mulai membuka matanya tetapi adik Fia terbangun dengan suara ocehan yang tidak bisa di mengerti.
"Yaaaaah...tidak jadi lagi...tadi karena abangnya... sekarang adik nya" kata Ken frustasi sambil mengacak rambut nya.
"Abi....datang sayang.....adik Fia senang ya...." kata Imma dengan menganggukkan kepalanya.
Ken ikut mendekati putri kecilnya itu, mencium pipinya, Fia semakin terkekeh melihat Abi nya datang.
"Abi mandi dulu honey..., rasanya gerah banget tapi......"
Imma turun dari tempat tidur dan berdiri akan menggendong adik Fia.
"Tapi kenapa sayang.....?".
Ken memeluknya dari belakang menempelkan badan nya sampai ada yang menonjol di bawah sana, di gesek-gesekkan nya perlahan.
"Abi.....ada adik Fia tidak boleh macam macam".
"Tapi Abi kangen banget honey.... sampai tidak bisa menahannya".
"Sabar sayang...umi juga kangen, sana mandi dulu biar badannya segar kembali".
__ADS_1
Ken berjalan ke kamar mandi dengan mata sendu dan menahan rasa, terpaksa menuntaskan nya di kamar mandi sendiri dengan cara mengguyur badannya dengan air dingin agar ikut tertidur juga yang tadi sudah terbangun tanpa bisa masuk ketempat yang seharusnya.