Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 97 Memendam Rasa


__ADS_3

Imma duduk memberikan ASI eksklusif kepada adik Fia, duduk di sofa panjang, Ken yang baru keluar kamar mandi hanya melilitkan handuk itu di pinggang nya, mendekati Imma dan duduk di samping nya.


Ken mentoel pipi adik Fia dengan gemas, sedangkan yang di towel seolah tidak perduli orang yang ada di sekitarnya.


Ditoelnya lagi sampai puncak gunung Imma keluarga dari mulut adik Fia, membuatnya menangis keras karena ulah Ken.


"BI.....kok mengganggu adik Fia sih?, sana cepat ganti baju nya nanti kedinginan".


Ken terkekeh dan berlalu menjauhi mereka mendekati koper untuk mengambil bajunya, dan berganti baju dengan santainya


Imma kembali memberikan ASI kepada adik Fia sambil sesekali memandangi Ken yang berganti baju.


Sepertinya adik Fia sudah kenyang di lepaskan nya puncak gunung kembar Imma, adik Fia mencari suara yang memanggil nya, kemudian terkekeh dan tertawa.


Imma ingin menutup nya kembali gunung yamg asik Fia sedot tadi, buru-buru Ken mendekati nya.


"Eeeeee jangan ditutup dulu, hanya pegang aja kok, nyicil sedikit aja dulu".


"Tidak bisa Bi......ada adik Fia disini".


"Yaaaa.....gagal lagi dong...masak sebentar tidak boleh sih?".


Imma menutup bajunya dengan segera, berdiri dan menyodorkan putri kecilnya ke Ken, digendong nya adik Fia kemudian keluar kamar berjalan ke belakang wisma untuk menemui Faro di tenda perkemahan.


Ken membaringkan adik Fia, mereka bercengkerama bersama sambil sesekali menggoda adik Fia yang selalu bergumam sendiri yang tidak tahu apa maksudnya.


Datang bibi yang biasa memasak di dapur menunduk dan jongkok di depan tenda.


"Pak.... Bu...makan malam sudah siap, anda di tunggu di ruang makan".


Faro yang dari tadi asyik bermain langsung menjawab ucapan bibi.


"Bibi.....Abang mau makan di tenda saja".


"Iya...bibi....bilang pada mereka duluan aja makan malam nya, kami makan di tenda bisa tolong antar ke sini?" pinta Imma.


"Baik Bu.... sebentar saya ambilkan".


Bibi berjalan kembali ke ruang makan memberitahukan kepada mereka yang sedang menunggu Ken dan keluarga akan makan di tenda Faro.

__ADS_1


"Umi.... Abang lupa bilang tadi tidak minta air putih es, Abang kesana dulu ya?".


Faro berjalan keluar tenda menuju ruang makan dengan cepat, Ken yang dari tadi duduk di sebelah adik Fia bergeser sedikit demi sedikit sampai di samping dan Imma dan berbisik di telinga nya.


"Honey....dia bangun lagi....tanpa di bangunin'".


"Siapa yang bangun sih Abi?".


Ken menarik tangan di letakkan di bawah perut nya ternyata ada yang keras dan menonjol tanpa di sadari yang punya.


"Idih.....Abi ini apa sih yang dipikirkan..... jangan ngeres terus makanya, suruh tidur dulu dia nya"


Ucap Imma sambil mencubit pinggang Ken dengan gemas serta menarik tangan nya dari sana.


"Auw.....auw..... sakit honey..."


Ada dua bibi yang datang bersama Faro membawa menu makan malam dan di letakkan di tengah tengah tenda itu.


Mereka bertiga makan dengan lahap, kedua bibi itu menunggu nya di luar tenda, tidak ikut makan, diajak Imma makan tetapi mereka sudah makan katanya.


Selesai makan kedua bibi itu membawa kembali sisa makanan nya ke dapur, kemudian Faro kembali bermain sesekali mengajak adik Fia nya berbincang.


Karena terlalu penuh oramg tenda itu sering terlihat bergoyang goyang dari luar, udara pun terasa sedikit panas, sehingga membuat adik Fia berkeringat dan menangis karena kurang nyaman.


"Umi...sudah malam... ngantuk mungkin adik Fia nya, ke kamar sana atau mungkin minta ASI" ucap Mami Winda.


Imma tersenyum dan mengangguk serta mengangkat adik Fia untuk di gendong nya dan keluar tenda menuju kamar dengan perlahan, Ken hanya melirik kepergian Imma dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Sudah hampir satu jam Ken dan Papi Bastian membicarakan tentang bisnis dan proyek yang sedang di kerjakan, sesekali Ken menguap dan menutup mulutnya.


"Pi... aku tidur dulu ya.... capek nich".


"Heleh.... alasan aja, memang Papi percaya kalau kamu mau tidur?".


Ken menguap lagi, terkekeh dan tersenyum, sambil melirik Faro yang sedang asyik bercanda dengan Kemmy dan Mami Winda.


"Tapi pastinya tetap tidur Pi....tetapi setelah yang itu".


Papi Bastian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ken yang bisa dibaca oleh papa nya itu.

__ADS_1


"Abang..... Abi istirahat dulu ya capek...., nanti di temani Tante Kemmy cantik ya?"


ucap Ken sambil mentoel pipi Kemmy yang sedang duduk di samping Mami Winda.


"Kakak.....baru jam berapa?.... masak sudah mengantuk....mau modus aja paling?".


Ken tidak memperdulikan protes Kemmy adiknya berlalu meninggalkan mereka yang sedang asyik bermain dengan gembira.


Pelan pelan Ken membuka pintu kamar, dan mencari sosok istrinya, tetapi yang ada hanya putri kecilnya Fia sedang tertidur pulas di tengah tempat tidur.


Ken berjalan mendekati pintu kamar mandi ternyata ada suara air yang gemercik di dalam sana, bergegas Ken berganti baju tidur, menggeser adik Fia di sisi pinggir tempat tidur, agar Ken dan Imma bisa berbaring di sebelah sana.


Imma keluar kamar mandi, melihat wajah suaminya yang sudah berbaring di tempat tidur, Ken yang melihat istrinya datang langsung merentangkan kedua tangannya ingin membawanya dalam pelukannya.


Imma tersenyum mendekati Ken dan berangsur menyusup ke dada Ken membiarkan dirinya dalam dekapan Ken dengan hangat, mencium aroma suaminya seperti tadi saat baru bertemu di teras wisma.


"Sudah dari tadi aku memendam rasa, sangat menyakitkan, sekarang aku mau balas dendam" ucap Ken mulai mencium bibir Imma dengan rakusnya.


Imma tidak kalah rindu nya dengan Ken yang biasanya Ken memulai duluan memberikan sentuhan, belaian, isapan yang membuat Imma terpancing baru mulai merespon.


Kini Imma cenderung lebih agresif tidak seperti biasana, pernah juga Imma agresif tetapi ini lebih agresif lagi, seolah olah Imma lah yang memimpin permainan itu.


Sekarang terbalik Ken yang mengarang dengan penuh gairah, Ken mengikuti irama Imma mendesah karena tangan Imma sudah bergerilya sampai mendarat di senjata Ken.


"Terus..... honey...... cepat.... lanjutkan"


Imma mengentikan sejenak tangannya, Ken langsung memegang tangan yang terlepas, mengembalikan ke posisi yang tadi.


"Honey......aku sudah tidak tahan ayo cepat".


Ken menyatukan tubuhnya membuat irama lembut, perlahan lama-lama di percepat dan semakin cepat sampai ada yang keluar dari sana bersamaan.


Ken berbaring pelan pelan di samping tubuh Imma yang penuh dengan peluh yang mengalir di tubuhnya.


"Umi.... semakin pintar..... Abi sangat menyukai gerakan mu honey".


Imma menjadi memerah pipinya seperti tomat rebus, masuk di dada bidang nya memeluknya agar tidak terlihat oleh Ken wajah nya.


Imma menarik selimut tebal dan ingin mencari baju untuk di kenakan kembali.

__ADS_1


"Eeeeee siapa yang mengijinkan memakai baju......baru satu episode"


__ADS_2