Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 72 Sendiri


__ADS_3

"Jangan biarkan hati ini lepas dari raga umi...." Ucap Ken sambil mengusap air matanya.


"Sayang..... Umi baik baik saja jangan terlalu khawatir, pulang lah untuk istirahat sebentar".


Imma tersenyum memandang suami nya yang terlalu takut dengan kondisinya.


"Sudah berapa hari Abi tidak pulang, ada uthi Sumi disini, istirahat lah sebentar, coba berkaca suami ganteng ku ini kusut kayak benang".


"Ya Abi, betul kata umi, pulang lah dulu, nanti malam baru Abi ke sini lagi" kata uthi Sumi.


"Kasihan Faro juga Abi, tidak cuma umi yang butuh Abi, Faro juga".


"Baiklah Abi akan pulang, bermain sama Faro baru nanti malam Abi kesini lagi, uthi titip umi ya".


Ken bersiap untuk pulang membawa baju kotor untuk di antar ke laundry, mencium kening Imma dan mengusap perut Imma dengan lembut.


"Abi pulang dulu putri cantik Abi, jangan buat umi sakit lagi ya".


"Baik Abi hati hati" jawab Imma menirukan anak kecil.


Tersenyum simpul Ken mendengar ucapan Imma dan keluar kamar rawat inap dengan hati yang bahagia.


Di Jakarta saat siang hari jalanan padat merayap tetapi Ken tetap melajukan mobilnya membelah riuk pikuk ibukota.


Di dalam ruang khusus menembak Faro sedang konsentrasi membidik sasaran beberapa balon yang di lepas dari lantai bergerak pelan ke atas atap dan tepat sasaran tembakan Faro ketika Ken tiba disana.


"Dor.....dor....dor".


"Aduh Abang Faro......Abi kaget".


"Abi... Maaf kapan datang, tadi Abang lagi konsentrasi, tidak mendengar Abi datang".


"Baru aja sih...., ayo... Abi juga ikut latihan menembak".


Ken dan Faro beradu untuk menembak dengan berbagai macam sasaran, di ruang khusus itu terdapat papan sasaran menembak, botol plastik, balon, ban bekas dan masih banyak lagi.


Tetapi Ken hanya bisa menembak tepat sasaran sekitar empat peluru, lain lagi dengan Faro, tidak ada yang melesat satupun sasaran nya.


Hampir satu jam mereka bermain, sambil bercanda ria, baru beristirahat tidur siang di tempat itu juga. Ada tempat tidur di pojok ruangan itu.


"Abi,. ...Abang.... Sudah sore ayo bangun". Mami Winda menggoyangkan badan keduanya.

__ADS_1


Ken dan Faro menuju kamar masing-masing untuk mandi sore, baru berkumpul di ruang keluarga bersama.


Hampir dua Minggu setelah Imma terpeleset dari kamar mandi sekolah, tetapi masih bed rest di rumah sakit, siang hari dijaga oleh uthi Sumi bergantian dengan Mami Winda ataupun uthi Marni, dan malamnya Ken yang menjaganya, sesekali Faro juga membesuknya saat sore hari.


Karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan setiap siang Ken harus bekerja dan malam nya menemani istrinya di rumah sakit, membuat berat badan Ken sedikit kurus dan tidak begitu terurus.


Pagi ini Ken ada rapat penting di kantor, jam delapan pagi sudah harus tiba disana, Ken berangkat dari rumah sakit, tadi malam sekalian bawa ganti baju dari rumah.


Uthi Sumi belum tiba di rumah sakit tetapi Ken harus meninggalkan Imma dengan berat hati.


"Tidak apa-apa Abi, berangkat aja umi akan baik baik saja".


"Tapi honey..... Uthi Sumi belum sampai di sini, bagaimana Abi meninggalkan umi sendirian".


"Tapi uthi Sumi sudah jalan kesini kan?".


"Tadi Abi menghubungi uthi Sumi katanya masih di jalan".


"Abi berangkat sudah paling sebentar lagi uthi Sumi tiba, jangan khawatir".


Dengan terpaksa Ken meninggalkan istri tercintanya sendirian dengan harapan uthi Sumi cepat sampai di rumah sakit.


Tetapi banyak sekali pesan yang ditinggalkan Ken, pegang handphone, jangan tidur sebelum uthi Sumi datang, tekan tombol jika memerlukan bantuan, jangan berpikiran macam-macam, jangan bangun dari tempat tidur.


Ken mencium kening nya, mencium perut buncit nya dan mengelus nya perlahan.


"Jangan nakal cantik, Abi berangkat kerja dulu".


"Iya Abi ganteng" Imma menirukan suara anak kecil.


Ken berlari menuju parkiran mobil rumah sakit, karena waktu tinggal setengah jam lagi rapat itu diadakan, bagaimanapun juga tanggung jawab sebagai wakil CEO harus dilakukan demi semua karyawan dan keluarga, banyak rapat atau meeting yang Ken tunda selama Imma di rumah sakit.


Sudah satu jam, dua jam Imma menunggu uthi Sumi datang, hati nya mulai gelisah, hampir tiga jam Imma menunggu dengan gelisah.


Padahal dokter berpesan jangan terlalu berpikir yang macam macam, tanda disadari basah di bawah sana, semakin banyak keluarnya.


Imma mencoba tenang dan mengambil nafas panjang, baru menekan tombol yang ada di atas kepala nya.


Tidak sampai lima menit ada dua suster yang datang dengan sedikit berlari.


"Ada yang perlu di bantu Bu?" Tanya salah satu suster itu.

__ADS_1


"Ini kenapa basah suster?".


Dengan cepat dua suster itu memeriksa Imma.


"Sepertinya ketubannya sudah pecah Bu".


Salah satu suster itu berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter Tanti yang ada di ruangan nya, dan kembali lagi bersama nya ke ruangan itu.


Dokter Tanti memeriksa dengan teliti Imma dari denyut nadi, detak jantung bayi dan tensi darah nya.


"Kemana suaminya Bu?" Tanya dokter Tanti.


"Tadi pagi berangkat kerja dok, ada rapat yang tidak bisa di tinggalkan, kebetulan uthi Sumi belum sampai, padahal dari tadi pagi sudah berangkat dari rumah".


"Bu, sepertinya bayi nya pingin keluar sekarang, sebentar saya hubungi suami anda sebentar" kata dokter Tanti.


"Suster persiapkan semua, saya mau menghubungi keluarga nya".


"Baik dok".


Dokter Tanti menghubungi Ken lebih dari lima kali, menggunakan handphone Imma ataupun handphone nya sendiri, tetapi tidak ada jawaban walaupun sebenarnya handphone itu tersambung.


"Bagaimana ini Bu, tidak bisa dihubungi, ada yang perlu di tandatangani Sebelum di adakan nya operasi Caesar?".


"Sini saya sendiri yang tanda tangan dok" ucap Imma dengan tenang.


"Tidak bisa begitu Bu, harus ada yang bertanggung jawab".


"Atau dokter Tanti saja yang bertanda tangan, yang penting Putri saya selamat dok".


"Ya Bu jika terpaksa, tetapi saya hubungi dulu dokter Jaka, karena mertua Anda teman beliau".


Tidak menunggu nanti, dokter Tanti mengirimkan pesan kepada dokter Jaka menceritakan situasi yang ada di rumah sakit.


Dokter Tanti mendorong brankar tempat tidur Imma ke kamar operasi setelah mengirim pesan kepada dokter Jaka dan menandatangani surat persetujuan operasi itu.


Sebetulnya satu Minggu yang lalu Ken juga sudah menandatangani surat persetujuan operasi jika terjadi sesuatu yang mendesak tetapi harus ada saksi yang bisa mempertanggung jawabkan jika terjadi hal yang tidak di inginkan.


Sebelum operasi di mulai Imma memberikan handphone nya kepada salah satu suster yang akan membantu operasi Caesar Imma untuk merekam momen saat putri kecilnya lahir nanti.


Sudah hampir satu jam operasi Caesar berlangsung uthi Sumi tiba di rumah sakit, ternyata ada tabrakan beruntun di salah satu jalan menuju rumah sakit itu, ada sekitar enam mobil bertabrakan beruntun sehingga jalanan di tutup total.

__ADS_1


Uthi Sumi tidak menemukan Imma di ruangan nya, menanyakan keberadaan kepada suster yang jaga saat itu, baru mengetahui bahwa Imma berada di kamar operasi tanpa di dampingi oleh siapapun.


__ADS_2