Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 141 Aksi Baron Pranoto 2


__ADS_3

Baron Pranoto POV


"Kita kembali ke markas besar di Kramat jati, bawa mereka semua termasuk Ramos Sandara" perintah Baron Pranoto lagi.


Mata Baron Pranoto menatap tajam ke arah Ramos Sandara seolah-olah ingin mengoyak kulit tubuhnya karena berani membangkang dan berniat menggulingkan kekuasaannya.


Dengan di angkut empat mobil anak buah Ramos Sandara dan ditambah enam mobil anak buah Leo Bardan bergerak ke markas besar yang ada di dekat pasar induk Kramat jati Jakarta timur.


Saat sampai di gerbang markas itu ada yang bergegas membukakan gerbang setelah semua mobil masuk ditutup kembali gerbang itu dan mereka satu persatu turun dari mobil dengan beberapa senjata otomatis yang mengarah kepada kepala mereka terutama pada Ramos Sandara.


"Masukkan mereka di ruang bawah tanah sampai ada perintah selanjutnya, dan bawa Ramos ke ruangan ku" perintah Baron dengan suara yang sangat keras dan mata yang merah karena menahan amarah.


"Yang lain tunggu di luar termasuk kau Andri dan Leo" titah Baron lagi.


"Tapi papa---?" jawab Andri Pranoto tidak melanjutkan ucapannya.


"Tidak ada yang membantah, atau aku akan menghajar kalian satu persatu" teriak Baron semakin memuncak amarahnya.


Semua anak buah yang ada di situ sontak menunduk tidak ada yang berani menatap wajah bos mereka yang siap menerkam siapa saja yang ada di depannya.


Setelah Ramos masuk di kantor Baron Pranoto Andri dan Leo keluar dari sana barulah Baron masuk dengan seketika menghajar Ramos dengan membabi-buta, yang semula wajah Ramos yang pucat pasi sekarang menjadi lebam, bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah.


"Kenapa kamu tidak membalas hah, apakah kamu jadi pengecut setelah berhadapan dengan orang tua seperti aku?" ucap Baron begitu emosi melihat wajah Ramos yang menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Kemarin petantang petenteng sesumbar ingin menghadapi secara langsung tanpa melewati Leo, ayo cepat buktikan!" perintah Baron sambil tetap menghajar Ramos dengan nafas yang tersengal-sengal karena menahan emosi.


Ramos Sandara tetap tidak menjawab pertanyaan dari bosnya itu, ternyata walaupun sudah cukup tua tetapi tenaganya tidak bisa di remehkan sedikitpun gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Baron kembali menghajar Ramos dengan pukulan ataupun tendangan kaki sampai Ramos roboh di lantai tanpa memiliki tenaga sedikitpun.


"Andri.... Leo...masuk!" perintah Baron dengan suara yang menggelegar membuat yang mendengar menjadi ciut nyalinya.


Leo dan Andri berlari cepat mendorong pintu bersamaan dan melihat Ramos yang sudah babak belur berbaring di lantai karena di hajar oleh Baron Pranoto.


"Obati dia sampai sembuh, setelah itu kirim dia dan keluarganya ke Indonesia bagian timur, sekali aja menampakkan batang hidungnya di Jakarta patahkan kedua kakinya" perintah Baron dengan nada yang tegas.


"Siap bos, ayo Ramos kita keluar" jawab Leo membantu Ramos Sandara berdiri dan memapahnya di bawa ke ruang bawah tanah bergabung dengan anak buah Ramos yang dikurung disana serta mengobati semua luka-lukanya.


"Andri mana kunci kamar atas, aku akan tidur disini saja, kamu terserah mau tidur dimana?, satu lagi Andri, berikan pilihan kepada bekas anak buah Ramos mau pilih di Jakarta atau ikut Ramos, tetapi kurung mereka terlebih dahulu selama satu bulan di ruang bawah tanah" Seloroh Baron beranjak dari kantornya setelah mendapatkan kunci kamarnya.


"Baik papa, dan aku ikut papa tidur di sini saja, nanti kalau papa mencari aku, aku di kamarku ya pa?" jawab Andri ikut keluar dari ruangan itu tetapi turun mencari Leo untuk melihat keadaan Ramos Sandara dan anak buahnya.


Baron hanya menganggukkan kepalanya berjalan ke lantai atas membuka kamar yang jarang dia tempati semenjak istri keduanya Sarah meninggalkannya saat mengetahui apa sebenarnya pekerjaan yang di geluti selama ini.


Saat masih muda dulu Baron begitu egois, mau menang sendiri tanpa perduli harus berhadapan dengan teman atau lawan.


Apalagi saat adik kandungnya tewas tertembak peluru panas oleh sahabatnya sendiri, tanpa menyelidiki siapa yang salah dan siapa yang benar, dia langsung memutuskan persahabatan dengan Tomy Sanjaya.


Walaupun Tomy Sanjaya sudah berkali kali meminta maaf dan menceritakan jika dia tidak mengetahui siapa target yang di habisi saat itu, serta tidak mengetahui jika sasarannya adalah adik kandungnya.


Sedari muda hingga sekarang walaupun Baron selalu berusaha melenyapkan anak keturunan laki-laki yang dimiliki oleh Tomy Sanjaya tetapi sampai sekarang Tomy Sanjaya tidak pernah membalasnya.


Tomy mengetahui jika Ameera Safitri tidak memiliki keturunan karena ulahnya, bahkan mengetahui jika anak laki-laki Tomy juga yang menyebabkan meninggal dunia tetapi Tomy tidak pernah membalasnya sedikitpun.


Terkadang Baron Pranoto merindukan sosok sahabat lamanya itu, merindukan celotehan yang begitu ceplas-ceplos dan merindukan bertanding menembak seperti waktu masih muda.

__ADS_1


Hanya karena sumpah dan dendam kepada Tomy Sanjaya sahabatnya sampai sekarang Baron terkadang merasa hampa dan kesepian menjalani hidup tanpa adanya sahabat yang bisa diajak diskusi mengenai segala hal, seperti dulu saat mereka belum berpisah karena peristiwa penembakan yang tanpa di sengaja oleh Tomy Sanjaya.


Lamunan Baron berakhir setelah menjelang pagi karena terlelap tidur sampai matahari mulai mengintip di balik gunung dengan warna jingga yang merona.


Tetapi Baron baru keluar kamar pukul sepuluh pagi, setelah membersihkan diri, keluar menuju meja makan, sarapan nasi goreng kesukaannya yang sudah buat oleh bibi yang sudah bertahun tahun tinggal di markas itu.


"Ardi... kita ke Bekasi, aku ingin menengok cicit yang belum pernah aku lihat langsung?" perintah Baron kepada putranya setelah selesai sarapan.


"Baik Pa, aku persiapkan mobilnya terlebih dahulu" jawab Andri meninggalkan papanya yang masih duduk di kursi meja makan.


Sesampainya di kediaman keluarga ibu Sarah, Baron dan Andri di sambut langsung oleh Marisa yang menggendong putranya beserta ibu Sarah sendiri, sedangkan Putrinya atau ibu kandung Heri yaitu ibu Indri sedang berada di toko milik mereka.


"Opa Baron, Papa Andri silahkan masuk" kata Marisa sambil meraih dan mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Apakah kalian sehat, dimana suami dan ibumu?" tanya Baron sambil melirik ke arah istrinya Sarah.


"Kami sehat Opa, suamiku kerja dan ibu lagi ada toko" jawab Marisa singkat.


Marisa berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi untuk tamunya, sedangkan Papa Andri, mengikuti Marisa dan menggendong cucu laki-laki pertamanya itu.


Sedangkan Sarah dan Baron duduk di ruang tamu, hening beberapa saat, mereka dalam pikirannya masing-masing, sampai Sarah memulai duluan mengawali pembicaraan.


"Untuk apa kesini, kan sudah aku bilang, Sebelum kamu berubah dan meninggalkan pekerjaanmu jangan kesini kecuali kami yang mengundang?" tanya Sarah dengan suara ketus.


"Maaf aku hanya ingin bertemu dengan putranya Heri.


Sarah langsung meninggalkan Baron di ruang tamu itu, masuk kamar, dan sampai mereka pulang tidak menemuinya lagi, benar benar mempunyai prinsip yang kuat istri keduaku ini gumam Baron dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2