Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 45 Malam Pertama dan Terungkapnya Siapa Faro


__ADS_3

"Abi............"


"Pakai baju dulu, kenapa begitu umi sudah mandi basah lagi nanti".


Justru Ken langsung mengacak rambutnya di dekat Imma.


"Biar basah lagi, nanti kita bisa mandi bersama"


Ken menggoda Imma dan memeluknya dari belakang dan masih mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya.


"Bi..... pakai baju cepat, nanti dingin".


Imma melepaskan pelukan Ken dan ingin berlari keluar kamar, baru beberapa langkah sudah di tarik lagi oleh Ken, sebelum protes lagi Ken sudah membungkam mulut Imma dengan ciuman yang bergairah.


"Bi... awas naah, umi mau bantuin uthi Sumi belum selesai beberesnya".


Ken tidak memperdulikan kata Imma dia langsung menciumi bibir, pipi dan dagu Imma dengan penuh gairah.


"Biar aja, uthi Sumi banyak yang bantu, umi disini aja, bantu Abi".


"Bantu apa Abi?"


"Bantu.... bantu...hati Abi"


Ken menarik umi ke samping ranjang dan mendudukkan dirinya langsung menciumi lagi, bibirnya yang tipis itu.


Semakin lama semakin menuntut lebih, Imma mulai merespon dan membalas ciuaman itu, sampai kehabisan nafas.


"Bernafaslah dulu umi"


Ken melanjutkan gerilya kebawah mencium lehernya dan memberikan tanda kepemilikan di sana, pindah lagi ke bawah dan di kedua gunung kembar nya.


"Umi pernah menyusui Faro kah?"


Imma hanya menggelengkan kepalanya saja, karena setahu Ken Imma sudah punya satu anak, seharusnya sudah ada perubahan walaupun tidak banyak, tetapi ini masih mulus dan keras seperti belum pernah tersentuh oleh diapun.


"Siapkah yang pernah memegang ini?" tanya Ken sambil membelai gunung kembar itu.


Pertanyaan Ken tidak di jawab oleh Imma hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Faro belum pernah juga?"


Imma menggelengkan kepalanya lagi sambil tertunduk, Ken membaringkan tubuh Imma pelan pelan sambil memeluk nya.


Ken kembali bergerilya meraba perut nya yang tata mulus tanpa ada stretmart tanda garis bekas ibu yang pernah hamil, tetapi tidak ada sama sekali tanda itu.

__ADS_1


"Berapa bulan Faro pernah didalam sini?"


Pertanyaan Ken juga tidak dijawab oleh Imma, Imma malah menenggelamkan kepalanya di dada bidang Ken.


Ken tersenyum karena Imma sudah mulai merespon apa yang Ken lakukan, Ken tidak bertanya lagi, Ken semakin intens dengan gerakan nya, mencium seluruh nya disana.


Desahan kecil Imma membuat hati Ken semakin membara, Ken melempar handuk yang melilit di tubuh nya, dan membuka baju Imma dan melemparnya satu persatu entah kemana.


Ken mengulang kembali memberikan tanda kepemilikan di setiap inci tubuh Imma, Ken ingin menyatukan keduanya.


"Bi.... pelan pelan sakit...."


Ken berhenti sebentar dan berfikir, dan memandangi wajah Imma yang merah merona seperti tomat karena malu.


"Faro lewat mana kok masih sakit?"


"Bertanya nya nanti aja, nanti umi jawab apapun pertanyaan Abi"


"Baiklah kita lanjutkan, ternyata honey ku ini sudah tidak tahan juga".


Ken berkata itu sambil berbisik di telinga Imma dan melanjutkan yang terputus tadi, menyatukan keduanya naik turun awalnya pelan lama lama cepat sampai pada klimaksnya.


Ken langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Imma dan miring sambil menatap Imma dengan intens.


Ken bangun sebentar dan memeriksa di seprai bagian bawah itu ada noda darah tanda bahwa Imma masih virgin, dan kembali berbaring memeluk Imma tanpa sehelai benang sehelai pun.


"Honey.... siapa sebenarnya Faro kau masih virgin?, Abi sangat bahagia, Abi juga baru pertama kali melakukan ini"


Imma langsung memeluk Ken dengan erat, semua ini baru pertama kali dia merasakan nya, malu rasanya menenggelamkan wajahnya di dada Ken.


"Sebenar nya Faro.... Faro..... bukan...?"


Imma belum sempat menjawab pertanyaan Ken, karena mendapat pelukan mesra dari Imma, Ken langsung membungkam mulut Imma dengan ciuman yang penuh gairah lagi.


"Nanti saja jawab nya salahnya kau bangun kan lagi Ken junior"


Ken mengulangi lagi adegan panas itu sampai klimaks nya kembali.


"Ayo cerita kan dari awal, apa dengan ini semua honey, umi hanya milik abi seorang, tidak ada orang yang pernah menyentuh mu kecuali Abi seorang"


"Faro bukan anakku tetapi Adikku"


"Adik....adik?"


Ken terbengong bengong mendengar kata Imma, dia tidak pernah berfikir sejauh itu.

__ADS_1


"Lanjutkan cerita nya?" pinta Ken sambil memeluk Imma dengan erat.


"Faro adalah adikku dari satu ibu tetapi beda ayah, ibu Lestari adalah ibu kandung Faro dengan ayah Dona Sanjaya".


"Mengapa harus diakui sebagai putra mu umi?".


Imma menceritakan semua dari awal pernikahan ibu Lestari dan ayah Dona Sanjaya, perpindahan nya ke Jakarta karena sembunyi dari Tomy Sanjaya sampai meninggal nya ayah Dona dan kemudian sampai meninggal nya Ibu Lestari serta amanah yang harus dia laksanakan Imma untuk melindungi Faro.


"Sampai sekarang umi juga tidak tahu melindungi Faro dari siapa?, setahu umi dari kakek kandung nya saja, tetapi seperti nya lebih dari itu, ibu Lestari juga tidak menceritakan lebih rinci tetapi beliau sudah di panggil oleh yang maha kuasa"


Cerita Imma itu sambil mengeluarkan air mata tanpa disadari nya.


"Sssttt, honey.... mulai sekarang jangan ada yang di tutupi lagi ya...., biar Abi yang menjaga Faro, tugas umi mendidik nya dengan baik, semua akan baik-baik Saja".


Ken langsung memeluk dan mencium bibir Imma lagi sambil tersenyum dan bergerilya kembali.


"Bi...... sudah, besok lagi, ini sudah jam berapa, besok kita masih ada acara resepsi, ini masih agak sakit, kalau besok umi tidak bisa jalan bagaimana?".


Ken tersenyum tetapi tidak menghentikan gerilya nya.


"Nanti Abi gendong kalau tidak bisa berjalan"


"Tidak.... lagi Bi, umi mau mandi".


"Baiklah kita mandi bersama saja lah"


"Tidak Bi, umi malu....."


"Kenapa harus malu, Abi sudah melihat nya bahkan merasakan nya".


Ken langsung menggendong Imma dengan bridal tanpa benang sehelai pun, di letakkan nya di bat-up kecil kamar Imma.


Ken menggosok punggung Imma dengan lembut, tetapi lama kelamaan malah bergerilya lagi, seperti nya karena Ken yang membelai lembut Imma, Imma juga terbawa suasana, mendesah lirih, akhirnya justru terjadi adegan panas kembali di kamar mandi itu.


Selesai adegan panas itu barulah mandi Bersama, Ken menggendong Imma lagi ke tempat tidur dan mengambilkan baju tidur, dibantu nya memakai baju, serta di keringkan rambut Imma yang panjang dengan handuk kecil dengan penuh kasih dan cinta.


Hampir menjelang pagi keduanya baru tertidur dengan pulas sambil berpelukan.


Pagi hari nya semua sudah bersiap siap untuk acara resepsi yang akan di lakukan nanti siang sampai malam hari.


Waktu menunjukkan pukul delapan pagi tetapi Imma dan Ken belum keluar dari kamar, sepertinya masih terlelap dalam peraduannya.


Rombongan Papi Bastian sudah datang, karena acara resepsi akan di lakukan di samping Imma kafe, rumah yang dipakai sebagai mas kawin.


Semua keluarga Imma belum ada yang tahu tentang tempat acara resepsi itu, karena masih ada pembatasan terpal besar antara Imma kafe dan rumah tempat resepsi.

__ADS_1


__ADS_2