Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 71 Bed Rest


__ADS_3

Muka pucat Faro membuat Ken semakin khawatir, memeluknya dan mengusap punggungnya saja yang bisa di lakukan oleh Ken.


"Sabar nak kita tunggu dokternya ya"


Dari kejauhan tampak datang bersamaan uthi Sumi dan Mami Winda beserta Papi Bastian menghampiri mereka.


"Abi..... Abang, bagaimana keadaan umi?".


"Masih ada di ruang UGD Uthi"


Uthi Sumi meraih tubuh mungil Faro dan mendekapnya dengan erat, air matanya menetes tetapi di hapus dengan perlahan penuh kasih oleh uthi Sumi.


"Abang kan anak kuat, tidak boleh nangis dong, bagaimana nanti adik bayi pipi tembem cantik kalau lihat Abang nya menangis?".


Dokter Tanti datang dengan cepat setelah mendapat kabar dari dokter Jaka jika pasien nya itu ada di UGD.


"Pak Ken apa yang terjadi?".


"Kami belum tahu dok, tetapi sopir kami menceritakan kalau istri saya terpeleset dari kamar mandi sekolah".


"Baik.... saya periksa dulu, sabar ya"


Dokter Tanti mendorong pintu UGD dan masuk untuk mencari informasi tentang pasien ibu Imma Anjani.


"Bu Imma, bagaimana apa yang di rasakan, saya periksa sebentar ya".


Imma mengangguk, dokter Tanti menempelkan stetoskop di dada dan perut Imma.


Dokter Tanti memberikan perintah kepada suster di bawa keruang USG untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Dokter Tanti keluar ruang UGD berjalan beriringan dengan brankar Imma, sampai di luar semua keluarga berdiri dan berlari mengikuti brankar itu.


Ken menggenggam tangan Imma sambil berjalan mengikuti menuju ke ruang USG.


Keluarga menunggu lagi di luar ruang USG itu kecuali Ken yang ikut masuk bersama dokter Tanti.


Suster mengoleskan jell pada perut Imma dan menempelkan alat USG menggerakkan ke kanan dan kiri perut Imma.


"Syukurlah bayi nya masih aktif dan tidak terjadi apa-apa didalam, cuma karena ini mengalami pendarahan dan umur kandungan yang belum cukup umur untuk melahirkan sebaiknya bed rest" dokter Tanti menerangkan dengan jelas.


"Berapa lama dok?" tanya Ken cemas.


"Sampai minimal memasuki sembilan bulan, dan pendarahan bisa di hentikan".


"Tetapi istri saya tampak kesakitan dok bagaimana ini?".


"Ya pak Ken sebentar ini sudah saya persiapkan untuk penghilang nyeri dan penguat kandungan".

__ADS_1


Ken mengusap punggung Imma dengan lembut, mencium keningnya, memberikan kekuatan kepada nya, Imma mencengkram erat tangan Ken karena sakit dan nyeri yang tidak tertahankan.


"Sabar honey.... pindahkan semua sakitnya pada tangan Abi, I love you".


Dokter Tanti memberikan suntikan di selang infus yang ada di tangan kiri Imma, perlahan cengkraman tangan Imma melemah seiring matanya yang mulai terpejam.


"Nanti jika sudah terbangun akan mulai berkurang nyerinya pak, biarkan pasien istirahat, kita pindahkan ke ruang rawat inap".


Suster mendorong brankar itu kembali ke ruang rawat inap VVIP, Ken sedikit bernafas sedikit lega memandangi istri tercintanya tertidur lelap.


"Abang Faro sini nak" ucap Ken saat Imma sudah di ruang rawat inap.


"Umi dan adik cantik sedang bobok, ayo cium umi dulu".


Ken menggendong Faro, mendudukkan tubuhnya di samping uminya yang terpejam, Faro menciumi pipi uminya, mengusap perut nya dengan lembut.


"Umi baik baik saja kan?, sekarang Abang pulang dulu, ganti baju makan, istirahat tidur siang, baru sorenya kesini lagi".


"Apakah nanti sore umi sudah bangun Abi?, Abang pingin ngobrol sama umi?".


"Tentu sayang, nanti sore kita bisa bercerita dengan umi ok".


"Umi....Abang pulang dulu ya, Abang Faro sayang umi".


Faro memeluk uminya dengan erat, turun dari brankar itu, pulang bersama Uthi Mami yang sudah menunggu di pintu rawat inap.


Dua jam berlalu Imma baru membuka matanya perlahan lahan, mendapati suami disampingnya memandangi dengan khawatir, tidak beranjak dari sisinya sedetikpun.


Ken mencium kening nya dengan lembut, bernafas dengan berat.


"Apakah sudah tidak sakit lagi pinggang nya?".


"Sudah lumayan kok Bi, dinikmati aja".


"Mana ada sakit dinikmati, bagi kalau gitu jangan dinikmati sendiri" celoteh Ken sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sini umi bagi".


Ken mendekatkan wajahnya di atas wajah Imma sambil tersenyum.


"Cup... cup.." Imma mencium pipi Ken dua kali.


"Terima kasih .... honey... sudah merelakan rahimmu mengandung putri ku"


"Bukan cuma putrimu tapi putri kita".


Pintu terbuka datang uthi Sumi, guru sekolah Faro dan kepala sekolah nya.

__ADS_1


"Selamat sore pak, ibu" ucap kepala sekolah dan guru itu


"Selamat sore Bu, silahkan duduk" jawab Ken.


Kepala sekolah itu meminta maaf atas insiden yang terjadi di sekolah mereka, Ken juga tidak mempermasalahkan kejadian itu, karena memang murni kecelakaan.


Ken juga tidak menuntut sekolah itu, yang penting Imma dan putri yang ada didalam kandungan nya tidak terjadi apa-apa, walaupun Imma harus bed rest di rumah sakit.


saat kepala sekolah dan ibu guru Faro masih berbincang hangat datang Faro dan mami Winda serta Kemmy yang tidak mau ketinggalan.


"Umi.....umi.....umi, salim muaaah....muaaah"


Faro mencium punggung tangan pada semua yang ada di ruangan itu, kepala sekolah dan guru Faro pamit meninggalkan ruang rawat inap itu dan di antar uthi Sumi sampai depan rumah sakit.


"Umi dan adik bayi pipi tembem cantik sehat?".


"Ya Abang ganteng, cuma sementara umi tidur di rumah sakit dulu ya" ucap Imma sambil membelai pipi Faro.


"Sampai kapan umi, tidak bisa pulang kah?"


"Sampai adik bayi pipi tembem cantik keluar dari perut umi" jawab Ken semangat.


"Kapan keluar nya Abi?".


"Belum tahu Abang, kita tunggu dokter nya dulu".


Imma hanya boleh berbaring di brankar tempat tidur saja, tidak boleh bangun dari sana, semua aktivitas di lakukan di tempat tidur.


Pernah sekali duduk keluar darah menggumpal sebesar genggaman tangan dengan cepat, Ken bingung dan berteriak teriak memanggil uthi Sumi saat itu, duduk bersimpuh di samping darah yang keluar dari sana.


Dengan cepat uthi Sumi menekan bel yang berada di atas brankar itu, dan membaringkan tubuh Imma kembali dengan hati hati.


Imma menatap sendu Ken dan melambaikan tangan nya untuk mendekati nya, Ken langsung memeluknya dan meneteskan air mata tanpa bisa di kendalikan lagi.


"Bi.... kendalikan diri, ingat latihan kita saat senam hamil".


Ken bernafas dengan berat, Imma justru yang menenangkan suaminya yang kalut.


Dokter Tanti dan suster berlari menghampiri mereka, dan memeriksa kondisi Imma dengan cepat.


"Saya tambahkan suntikan penguat kandungan nya Bu, sementara kita pantau lagi perkembangan nya, jangan bangun lagi dari tempat tidur sampai saya mengijinkan bangun".


"Bagaimana dengan bayinya dok?" tanya Ken khawatir.


"Tidak apa-apa pak, ini terjadi karena dinding rahim yang luka kemarin belum pulih benar".


Ada kelegaan di hati Ken mendengar keterangan dokter Tanti, dan menggenggam tangan Imma seakan tidak mau terlepas dari sana.

__ADS_1


"Satu lagi Bu Imma jangan banyak pikiran, tidak usah berpikir terlalu berat, santai saja agar bayi dalam kandungan juga aman" pesan dokter Tanti dan para suster Sebelum keluar dari ruangan itu.


"Baik dok, terima kasih".


__ADS_2