
"Kita mau ketemu dokter siapa honey, kenapa tidak bilang Abi, biar Abi yang membuat janji dengan dokter?" tanya Ken penasaran.
Belum sempat menjawab pertanyaan Ken, ada suara telepon masuk di handphone Imma, setelah di lihat ternyata Papi Bastian yang menghubunginya.
"Ya Papi, ada apa?" tanya Imma mengawali pembicaraan.
"Sudah sampai mana nak, ditunggu dokter Tanti di ruangannya sekarang?".
"Ini kita sudah sampai parkiran Pi, terima kasih" jawab Imma.
Imma turun dari mobil dengan cepat karena sudah ditunggu oleh dokter Tanti, tanpa menunggu Ken membukakan pintu mobil.
"Honey tunggu dulu Abi, hati-hati jangan lari!" perintah Ken khawatir.
Imma berjalan dengan berlari kecil, setelah menutup pintu mobil Ken berlari menyusul Imma dan menggandeng tangannya.
Ken sedikit heran ternyata Imma bertemu dengan dokter kandungan, yaitu dokter Tanti, sehingga Ken menjadi bingung apa sebenarnya yang terjadi.
Imma langsung masuk ruang dokter Tanti di bukakan pintu oleh salah satu suster untuk masuk dan duduk di kursi didepan dokter Tanti.
"Bagaimana Bu Imma, kapan anda terakhir kali haid?" tanya dokter Tanti.
"Sepertinya sih awal bulan dok, karena akhir akhir ini saya tidak begitu teratur jika haid" jawab Imma.
Ken semakin tidak mengerti tetapi setelah mendengar pembicaraan antara Imma dan dokter Tanti baru dia menyadari jika kemungkinan Kenzo sudah ada di dalam rahim Istri tercintanya.
"Honey apakah Kenzo sudah tercetak?" bisik Ken di telinga Imma.
Imma hanya memukul lengan Ken dengan perlahan, sedangkan dokter Tanti hanya tersenyum melihat tingkah Ken itu.
Setelah pengecekan tensi, berat badan, tinggi badan, suhu tubuh, Imma dipersilahkan untuk tidur di brankar tempat tidur untuk melakukan USG.
"Selamat ya Bu Imma, ini sudah ada janin yang ada dalam rahim, ini sudah memasuki usia kehamilan Minggu ke enam" kata dokter Tanti sambil menggerakkan mouse USG itu.
Senyum Ken mengembang dengan sempurna, menggenggam tangan Imma dengan mesra, sambil mengingat saat hamil yang pertama dulu dia mengalami mual dan muntah tetapi sekarang tidak mengalaminya.
"Dok boleh tanya, kok akhir akhir ini saya ngantuk banget ya, tetapi Istri saya tidak mengalami tanda-tanda apapun ya?" tanya Ken dengan antusias.
__ADS_1
"Begini pak Ken, setiap kehamilan itu berbeda-beda, terkadang tidak mengalami gejala seperti yang di alami sebelumnya, ada juga lebih parah dari kehamilan yang pertama" keterangan dokter Tanti.
"Tetapi istri saya sepertinya tidak mengalami tanda-tanda apapun dokter" kata Ken lagi.
"Bisa juga yang mengalami ngidam itu suaminya saja, seperti yang anda alami saat ini, mungkin mengantuk itu bawaan bayinya" jawab dokter Tanti lagi.
Ken hanya mengangguk tanda faham apa yang di jelaskan oleh dokter Tanti, Ken juga merasa bersyukur jika istrinya tidak mengalami ngidam yang berat.
Pulang dari rumah sakit Ken dan Imma menjemput Faro di sekolah nya yang sedang berlatih karate, baru kemudian ke rumah Papi Bastian untuk menjemputnya putrinya Fia.
Di rumah Papi Bastian semua keluarga sudah berkumpul untuk makan siang termasuk Kemmy dan Rama.
"Bagaimana sayang, pemeriksaan apakah betul prediksi Mami?" tanya Mami Winda kepada Imma.
"Abang dan kakak Fia sebentar lagi akan memiliki adik baru?" jawab Ken sambil memeluk Imma dengan erat.
Faro dan Fia sampai berjingkrak kegirangan mendengar abinya bercerita jika sebentar lagi akan memiliki adik baru.
"Selamat ya Ken, tambah satu lagi cucu Papi, Rama Kemmy kapan ngasih cucu juga biar tambah rame?" tanya Papi Bastian kepada pasangan pengantin baru.
Kemmy hanya tersenyum dan melirik suaminya Rama tanpa menjawab pertanyaan papinya itu.
"Makanya usaha keras dong, masak kalah sama kakak?" ledek Ken sambil melempar kerupuk kearah Kemmy.
Kemmy hanya mengerucutkan bibirnya karena ledekan kakaknya itu, hanya memandangi wajah Rama dengan sendu.
"Sabar nanti juga kita akan berusaha lebih keras seperti kakak ya!" Celoteh Rama dengan menggenggam erat tangannya.
"Berguru dulu pada ahlinya ha..ha.." kata Ken jumawa.
"Kakak, jangan meledekku terus, kak Imma suamimu tuuuh" jawab Kemmy dengan manjanya sambil melempari kerupuk kearah Ken kembali.
"Sayang.. jangan mengganggu pengantin baru terus, kasihan dia!" ucap Imma melototi Ken dengan kesal.
"Abi, adik nanti cewek atau cowok?" tanya Faro penasaran.
"Belum bisa diketahui Bang, nanti kalau perut umi sudah besar baru ketahuan jenis kelaminnya" jawab Ken senang.
__ADS_1
"Fia mau adik cowok sepelti Abang" celoteh Fia dengan riang.
"Iya sayang...Abi juga pingin adik cowok, nanti kita beri nama adik Kenzo ya" ucap Ken dengan antusias.
"Adik Kenzo, waah nama yang bagus Abi, Abang suka dengan nama itu" Jawab Faro.
Kebersamaan keluarga itu sangat hangat dan begitu bahagia karena akan menyambut datangnya anggota keluarga baru dalam keluarga.
************
Di kediaman keluarga Tomy Sanjaya saat ini sedang berkumpul karena setelah menunggu beberapa lama dan Papa Tomy pulih seperti sedia kala Ameera Safitri meminta penjelasan tentang keturunan dari almarhum suaminya Doni Sanjaya.
Di ruang keluarga itu ada Papa Tomy, Mama Nadia, Dini, Edi Darmawan dan Ameera Safitri.
"Apakah papa sudah sehat, bisakah papa menjelaskan tentang peristiwa kemarin,?" tanya Meera.
"Maafkan aku...Meera, itu memang benar, sebetulnya sudah beberapa tahun lalu kami mengetahui jika suamimu memiliki keturunan tetapi baru kemarin mengetahui pastinya" jawab Papa Tomy lemah.
"Pantas saja saat aku bertemu dengan anak itu, sorot matanya yang tajam seperti tidak asing bagiku" ucap Ameera lagi.
"Apakah kita tidak bisa menemuinya Papa, terus terang aku sangat merindukan almarhum suamiku" pinta Ameera sambil menunduk.
Keluarga itu saling bertatapan mata karena jika bertemu akan sangat membahayakan keselamatan cucu laki-laki nya itu beserta keluarga besarnya.
"Maaf mbak Meera, kita belum berani, takutnya malah membuat keluarga itu menjadi terancam" jawab Dini dengan menundukkan kepalanya dan mata yang berkaca-kaca.
"Mama juga sangat merindukan dia Meera, tetapi Mama lebih mementingkan keselamatannya" kata Mama Nadia tak kalah sedihnya.
"Maafkan aku, karena kesalahan masa laluku, jadi membuat kalian sangat menderita, maafkan aku" kata Tomy
Papa Tomy menangis tersedu-sedu melihat semua keluarganya terkena imbas dari pekerjaan yang di lakukan pada masa lalunya itu.
"Sudahlah Pa, ini semua sudah terjadi, jangan seperti ini, nanti papa sakit lagi, kami juga yang khawatir" nasehat Edi Darmawan bijak.
Dini menundukkan kepalanya, berpikir sejenak dengan mengerutkan keningnya, ingat undangan Ken waktu itu tentang eniversery perusahaan PT WIGUNA GROUP.
"Ayolah jangan bersedih semua, aku menemukan cara agar bisa bertemu dengan anaknya mas Dona tanpa dicurigai oleh anak buah Baron Pranoto ataupun Leo Bardan" usul Dini dengan mengacungkan jarinya.
__ADS_1
"Apa itu Din?" tanya Meera bersemangat.
"Kita menghadiri acara eniversery perusahaan PT WIGUNA GROUP Minggu depan, pasti akan bertemu dengan dia" jawab Dini dengan antusias.