
Waktu berjalan begitu cepat, umur baby Ezo sudah menginjak lima bulan saat mendengar kabar bahwa Kemmy juga akan memiliki bayi karena sudah hamil enam Minggu.
Faro sudah ada di semester akhir kelas lima dan akan memasuki kelas enam SD, sedangkan Fia tahun ajaran ini akan memasuki sekolah TK.
Dalam karate dan menembak Faro semakin hari semakin terasah kemampuannya dan tidak mudah untuk mengalahkannya.
Faro pada liburan kenaikan kelas ini sudah meminta di khitan, karena teman teman sekolahnya hampir semua sudah mengalami peristiwa yang wajib di jalani bagi setiap laki-laki muslim.
"Bi, nanti liburan sekolah Abang mau khitan ya, banyak teman Abang yang sudah melakukannya" pinta Faro kepada Ken yang duduk di ruang keluarga bersama Imma, Fia dan baby Ezo.
"Oooo rupanya putra Abi sudah mulai berani, baiklah...Abang siap-siap aja" jawab Ken dengan tersenyum bahagia.
"Sayang... apakah di khitan terasa sakit?" tanya Imma dengan khawatir.
"Kata teman Abang, cuma seperti di gigit semut umi" jawab Faro dengan mata berbinar.
Ken dan Imma saling menatap mata seperti ingin meminta penjelasan dari mana mendapatkan informasi tentang khitan.
"Abang dapat informasi dari mana kok seperti di gigit semut?" tanya Imma dengan penasaran.
"Teman teman Abang semua cerita seperti itu umi, ada juga yang cerita katanya kabur saat mau dikhitan gara-gara di takut-takuti akan di potong habis burungnya" cerita Faro dengan cengar-cengir.
Ken dan Imma tertawa lepas mendengar cerita Faro yang lucu nyeleneh menurut mereka.
"Umi... Abi..ada juga kata teman Abang, kalau khitan akan mendapatkan amplop berisi uang yang banyak apakah itu betul?" tanya Faro lagi.
"Sepertinya betul sih...memang mau buat beli apa kalau Abang mendapatkan amplop yang banyak?" tanya Ken sambil terkekeh dengan pertanyaan Faro.
"Buat beli apa ya?, Handphone punya, leptop ada, tidak tahu Bi bingung, kemarin Tino teman Abang beli handphone, sedangkan Roni beli leptop" jawab Faro dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Di tabung aja Bang, kalau Abang pingin beli sesuatu bilang umi saja nanti umi belikan" ucap Imma bijak.
__ADS_1
Faro mengangguk, masih berfikir apa yang ingin di belinya jika mendapatkan uang banyak saat di khitan nanti, Faro teringat dengan teman sekolah yang beda kelas tetapi satu angkatan dalam berlatih karate yang bernama Mario, anak piatu yang tinggal bersama ayah dan neneknya saja.
"Umi apakah boleh jika dapat amplop nanti Abang bantu teman Karate yang namanya Mario?".
"Memangnya Mario kenapa bang?" tanya Imma mendekati Faro dan duduk disebelahnya.
"Mario sudah tidak punya ibu, umi... Dia pingin khitan juga, katanya ayahnya sudah nabung tetapi karena neneknya sakit uangnya untuk berobat dulu" cerita Faro sedang hati yang sedih.
"Kenapa tidak di ajak khitan bareng Abang aja biar nanti Abi yang panggil dokternya" jawab Ken dengan antusias.
"Tidak usah Bi, Abang ingin memakai uang Abang sendiri, kemarin sih rencana pakai uang tabungan, karena banyak teman yang cerita akan dapat amplop banyak jadi Abang berniat memakai uang itu untuk Mario" celoteh Faro tersenyum simpul.
"Baiklah jika itu niat baik Abang, Abi dan umi akan mendukung Abang" ucap Imma.
Faro tersenyum bahagia mendengar persetujuan kedua orang tua yang sangat di sayanginya itu.
Acara khitanan itu akan di laksanakan setelah liburan sekolah kenaikan sekolah yang tinggal satu bulan lagi.
***********
Di dalam kamar Dini saat mendapatkan kabar bahwa bulan depan akan khitan langsung berlari keluar kamar menuju ke ruang keluarga dimana semua keluarga ngumpul kecuali Ameera karena dia sedang berada di boutique yang ada di kota.
"Papa, Mama bulan depan Abang akan khitan, ayo kita ke Jakarta, aku sudah kangen dengan mereka?" ucap Dini saat mendekati mereka dan duduk di samping kedua putrinya.
"Asyik sekalian kita liburan disana ya Mama" sahut Lia senang.
"Iya sayang, memang pingin liburan dimana?" tanya Dini sambil mengusap rambut Lia dengan lembut.
"Trans studio Bandung Mama, yang terkenal itu, boleh kan?" tanya Lia lagi dan Dini hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Kapan dapat informasi dari Jakarta Din?" tanya Mama Nadia antusias dan sangat bahagia.
__ADS_1
"Ini barusan mama, aku juga lagi ngasih kabar untuk mbak Meera, siapa tau dia mau ikut?" jawab Dini sambil mengirim pesan WA kepada Ameera Safitri.
Setelah beberapa saat ternyata Ameera Setuju akan ikut menghadiri keluarga Ken saat Faro khitan, karena Meera juga sangat menyayangi anak laki-laki kandung dari almarhum suaminya.
Datang Hendra dengan tergesa-gesa mendekati Tomy Sanjaya berbisik di telinga bosnya itu. Tomy dan Hendra bergegas masuk ke kantor pribadi Tomy.
"Ada apa Hendra, apakah ada yang penting mengapa hari Minggu kesini?" tanya Tomy kepada Hendra setelah sampai dalam kantor.
Hendra menunjukkan berita yang berada dalam leptopnya, ada berita dari salah satu koran digital Singapura bahwa terjadi perpecahan di kalangan mafia Asia antara kepemimpinan Baron Pranoto keturunan Indonesia Singapura dengan rivalnya kelompok PAGODA DRAGON yang dipimpin oleh Theo Thanapon laki-laki keturunan Thailand Malaysia.
Didalam berita itu juga di ceritakan jika satu bulan yang lalu Jasson Pranoto putra dari Andri Pranoto di culik oleh anak buah Theo Thanapon, tetapi berhasil di selamatkan oleh pihak kepolisian Singapura.
Tetapi dalam berita itu tidak di ceritakan dimana kelompok Theo Thanapon bermarkas, karena kelompok mafia sebagian besar memiliki wilayah yang luas di beberapa negara.
"Apa hubungannya kita dengan berita ini Hendra?" tanya Tomy Sanjaya heran.
"Karena penculikan anaknya Andri Pranoto itu, sekarang mereka tinggal di Jakarta terutama Andri, istri dan kedua anaknya, itu informasi yang aku dapat dari orang kita di Jakarta bos" jawab Hendra panjang lebar.
"Mereka tinggal dimana sekarang?" tanya Tomy Sanjaya.
"Di apartemen yang ada di Jakarta barat bos, tetapi mereka sering mengunjungi Bu Sarah di Bekasi" keterangan Hendra lagi.
Tomy Sanjaya mengerutkan keningnya berpikir sejenak dengan adanya peristiwa itu pasti anak buah Leo Bardan akan sedikit mengendor dalam pengawasan baik yang di Jakarta ataupun di daerah sekitar perkebunan teh.
"Kamu tambah orang untuk mengawasi mereka Hendra terutama keluarga Kenzie Wiguna, apakah Baron Pranoto ada di Jakarta juga?".
"Baik bos, menurut laporan tidak bos, Baron Pranoto masih tinggal di Singapura beserta istrinya".
Hendra langsung menghubungi anak buahnya yang ada di Jakarta untuk menambah orang untuk mengawasi gerak-gerik keluarga Andri Pranoto dan melaporkan secepat mungkin jika ada yang penting dan mendesak.
Kemudian Hendra juga menghubungi Sandi mengabarkan berita yang baru saja di dapatkan di koran digital Singapura, Hendra juga meminta agar Sandi mendekati Heri Pranoto yang notabene bekerja satu kantor untuk mencari informasi tentang keluarga dari kakeknya yang ada di Singapura.
__ADS_1
Hendra juga menanyakan bagaimana kabar handphone yang pernah di sita dari pewarta saat acara eniversery perusahaan PT WIGUNA GROUP.