
Pulang dari rumah sakit Ken mengantarkan Imma pulang kerumah, makan siang bersama dan baru berangkat ke kantor karena ada jadwal meeting hari ini dengan investor dari Bogor.
"Umi... Abi berangkat ke kantor ya, jangan lupa nanti malam Abi sudah tidak sabar lagi" kata Ken sambil mengedipkan matanya.
"Sini........umi bayar cicilan bunga sebentar, biar nanti di kantor bisa konsentrasi" Imma mendekati Ken dan mencium nya dengan lembut.
"Umi.... sudah mulai genit ya.... siapa yang ngajarin?" ucap Ken sambil mentowel hidung istrinya.
"Siapa lagi suamiku tercinta lah, sana sudah berangkat.... hati hati".
"Hemmm".
Ken berangkat dengan hati yang berbunga bunga, sudah membayangkan nanti malam tidak akan gagal lagi seperti kemarin.
Karena selalu membayangkan Imma saja Ken menjadi tidak begitu konsentrasi dalam rapat nya, terkadang senyum senyum sendiri, Sandi sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku bos nya, seperti anak remaja yang baru kasmaran.
Selesai rapat Ken dan Sandi kembali masuk ke kantor, Sandi menjadi penasaran dengan bosnya itu.
"Bos kenapa sih dari tadi senyum senyum sendiri, apa sudah berhasil setor?".
"Belum...aku cuma membayangkan saja nanti malam baru mau setornya" ucap Ken jujur.
Sandi hanya tertawa terbahak-bahak, mendengar bos nya yang bucin.
"Bos... bos...dasar bucin".
"Makanya menikah lah biar tahu rasanya, jangan cuma meledekku saja" ucap Ken sambil melempar pensil kepada Sandi.
Sore harinya Ken pulang dengan semangat, dengan bersenandung kecil masuk rumah.
"Abi pulang".
Faro berlari menyambut Ken pulang dari tangga atas menuju abinya.
"Abi.....Abi....adik Fia badannya panas"
"Badan adik panas.... sudah minum obat belum?".
"Tidak tau Bi.... dari tadi rewel terus".
Ken dan Faro berlari kecil menuju tangga dan masuk kamar, melihat Imma yang sedang menggendong adik Fia.
"Kenapa adik Fia umi.... bilang Abang badan nya panas?".
"Iya Bi, dari tadi rewel terus, maunya di gendong terus".
"Kok bisa panas kenapa?".
"Tadi pagi habis imunisasi, kata dokter efeknya badan Fia akan panas".
"Gantian Abi gendong sini".
__ADS_1
"Abi.....mandi dulu.... nanti adik Fia tambah sakit" protes Faro.
"Naaah tuh.... Abang aja pintar, mandi dulu Bi"
Ken bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya dengan cepat, memakai baju rumah dengan rapi baru mendekati umi yang sedang menggendong adik Fia.
"Ayo.... anak Abi yang cantik.... gantian ikut Abi, umi mandi dulu sana".
"Abang.... mandi juga sana... nanti jika sudah selesai bisa jagain adik lagi".
"Ya umi..... adik Fia abang mandi dulu ya"
"Iya Abang ganteng..." Jawab Ken dengan menurunkan suara anak kecil.
Dari sore hingga menjelang tengah malam adik Fia sama sekali tidak turun dari gendongan, menangis dan merengek saja, seisi rumah menjadi khawatir.
Faro baru bisa tidur pukul sepuluh malam, mengkhawatirkan adik cantik nya itu, uthi Sumi kemudian merayu Faro agar mau tidur, adik Fia sudah di jaga oleh Abi dan uminya.
Sekitar pukul dua belas malam panas adik Fia mulai turun, setelah kenyang disusui oleh Imma, adik Fia mulai tertidur, tetapi setiap mau di tempatkan di box bayi ataupun di tempat tidur adik Fia masih merengek dan menangis.
"Uthi beristirahat lah, sepertinya adik Fia sudah mulai turun panasnya" pinta Imma kepada uthi Sumi.
"Iya uthi, biar umi dan Abi yang menjaga nya, sudah tidak rewel lagi kok".
"Baiklah.... uthi istirahat dulu, nanti kalau ada apa-apa panggil uthi".
"Ya Uthi.... terima kasih".
Ken ikut duduk di sebelah Imma merangkul pinggang Imma dan bersandar di pundak nya.
"Maaf Abi.... sepertinya umi tidak bisa bayar hutang malam ini"
"Tidak apa-apa honey.... masih ada besok lagi kan?"
Menjelang pukul tiga pagi Imma berdiri dari tempat tidur, meletakkan pelan pelan putri nya di tempat tidur, ternyata sudah normal suhu tubuh nya, meluruskan posisi tidur Ken dengan sangat hati-hati agar tidak sampai terbangun.
Tetapi Ken justru kaget dan terbangun dan membuka matanya.
"Umi belum tidur, sudah jam berapa ini?".
"Sudah jam tiga pagi Abi, istirahat lah".
"Bagaimana adik Fia?".
"Sudah normal suhu tubuh nya, Abi tidur saja lagi".
Imma merebahkan diri di samping adik Fia terlelap disusul oleh Ken dari belakang nya memeluk nya.
"Umi juga istirahat, sini Abi peluk".
Seperti baru memejamkan matanya sudah mulai matahari mengintip dari balik Mega, mulai menampakkan wajah ceria nya di pagi hari.
__ADS_1
Adik Fia mulai menendang kaki dan tangan nya membangunkan Abi dan uminya yang terlelap dalam tidurnya.
Imma terbangun mendengar suara putri kecilnya yang mencari ***** mungkin karena sudah haus.
"Abi..... bangun.... sudah siang".
"Hemmmm, masih ngantuk umi sebentar lagi".
Imma memangku adik Fia memberikan ASI sambil duduk si sofa panjang, datang Abang Faro yang sudah rapi menggunakan seragam sekolah nya.
"Adik Fia...... sudah sehat kah?".
"Sudah bang....nich lagi *****, iiiih Abang sudah ganteng berangkat sama pak Sardi ya hari ini".
"Iya ... Abi belum bangun?".
"Belum... bangunkan aja gin.... nanti terlambat ke kantor nya".
"Bi...... Bi... sudah siang bangun....bang Faro sudah mau berangkat sekolah, mau salim".
Ken membuka matanya perlahan dan duduk di samping tempat tidur.
"Salim Abi.... Abang Faro berangkat muuuah, umi...muaah, adik Fia muaaah juga".
Faro keluar kamar dan turun tangga menuju ruang makan dan sarapan pagi yang sudah di siapkan oleh uthi Sumi.
Sedangkan Ken berjalan ke arah kamar mandi dengan gontai untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor.
Hari ini Adik Fia tidak mandi hanya di lap dengan air hangat, tetapi dia sudah ceria seperti sedia kala.
Sampai sore pun adik Fia sudah tidak panas lagi, sehingga setelah pulang dari kantor Ken langsung memandikan Fia dengan telaten.
Ken segera bersiap setelah semua terlelap dalam mimpi indahnya, adik Fia sengaja di tidurkan di box bayi.
"Sudah siap untuk bayar hutang".
"Apa sih ah.... hutang umi memang berapa sih, dini uni bayar".
Imma mencium pipi Ken kanan dan kiri, padahal Ken sudah siap mempersiapkan bibir nya untuk di cium.
" Honey... bukan di sini cium nya, di ulang".
"Tidak ada kata ulang, adanya kata sambung".
Imma mencium lembut tengkuk Ken, kemudian Imma berniat akan turun dari tempat tidur.
"Mau kemana, ayo bayar.... dari kemarin janji bayar dobel kenapa mau melarikan diri?".
Ken menarik Imma dalam dekapan nya, menciumi bibir Imma dengan rakusnya, mulai membuka bajunya satu persatu dan dilemparkan entah kemana.
Seperti baru pertama kali nya mereka melakukan pergumulan panas malam itu, kedua nya saling mendesah kecil, sampai tidak sadar Imma melukai punggung Ken dengan kuku nya.
__ADS_1
Ken hanya meringis menahan luka yang di timbulkan oleh kuku Imma tetapi sepadan dengan kenikmatan yang mereka rasakan sampai ke ******* dan puncak kenikmatan itu bersama sama.