Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 94 Pecah Ban


__ADS_3

"Darimana kamu tahu tentang Leo Bardan, dia tangan kanan Baron Pranoto?" kata Tomy Sanjaya dengan suara agak keras.


"Haaaaa... "


Semua yang hadir di pembukaan peletakan batu pertama itu mendengar ucapan Tomy Sanjaya termasuk Ken.


"Pa... yang menyerang ku kemarin adalah anak buah dari Leo Bardan" kata Edi cepat.


Tomy Sanjaya memundurkan langkah kaki nya ke belakang, ternyata memang Baron Pranoto masih mengawasi keluarga nya dimana pun mereka berada.


Bergegas Budi mengabarkan kembali kepada Sandi informasi yang baru saja di dengarnya langsung Tomy Sanjaya.


Tepat pukul sepuluh pagi peletakan batu pertama di resmikan dari perkebunan teh diwakili oleh Tomy Sanjaya sedangkan dari pengembang diwakili oleh Kenzie Wiguna.


Dalam pembangunan destinasi wisata alam itu banyak menyerap tenaga kerja yang banyak terutama untuk masyarakat daerah sekitar, Target awal dari pembangunan nya sekitar dua sampai tiga tahun ke depan sudah akan bisa di nikmati oleh masyarakat umum destinasi pariwisata alam itu.


Selesai peresmian dan para pekerja memulai pekerjaan nya, Ken, Bayu dan seluruh staf dari perusahaan teh kembali ke kantor sampai menjelang sore, banyak sekali rencana yang di persiapkan oleh Ken sehingga pekerjaan yang bisa di tangani hanya yang penting dan mendesak sisanya di serahkan oleh orang kepercayaan Ken saja.


Waktu seperti cepat berlalu sampai sore tanpa terasa karena pekerjaan yang padat, pukul lima sore Ken dan Bayu bersiap pulang ke rumah Tomy untuk istirahat hanya menunggu jemputan saja.


Di jemput oleh asisten Budi Ken dan Bayu masuk mobil meluncur ke kediaman Tomy, sampai di pertengahan jalan ban mobil Budi kempes terpaksa berhenti sebentar untuk mengganti ban.


"Kenapa bro...kok berhenti?" tanya Bayu kepada Budi.


"Sepertinya kempes bannya, sebentar aku cek dulu".


Budi turun dari mobil melihat ban mobil belakang sebelah kanan pecah dan robek lumayan lebar, Budi membuka pintu mobil belakang mencari ban serep, ternyata ban serep juga kempes, karena jengkel kaki Budi menendang ban depan mobil itu.


"Si....alan, mengapa kok apes begini?".


Ken dan Bayu turun dari mobil mendekati Budi yang sedang kesal.


"Maaf bos.... ban serep nya ternyata juga kempes, saya hubungi asisten bos besar sebentar".


Budi menghubungi asisten nya Tomy Sanjaya yaitu asisten Hendra, tetapi ternyata dia berada di Surabaya baru berangkat tadi siang, terpaksa Budi menelpon Edi Darmawan untuk minta bantuan.


Dijalan perkebunan itu sudah mulai sepi karena memang menjelang senja, para pekerja pun sebagian sudah pada pulang ke peraduan masing masing.

__ADS_1


Ken duduk di pinggir jalan aspal itu sambil memandangi daerah sekitar nya, baru menghubungi Imma dari tadi pagi belum sempat kontak dengan nya.


Karena berada di tengah hamparan teh yang sangat luas sepertinya sinyal kurang begitu bagus, menghubungi melalui vedio call lumayan lama baru tersambung.


"Honey........lagi ngapain?"


Ucap Ken sambil tersenyum melambaikan tangan dan duduk di pinggir jalan aspal di kelilingi pohon teh yang lebat.


"Sayang.....lagi dimana.... sudah mau gelap ini".


"Ini masih di perkebunan teh... honey, ban mobil yang Abi tumpangi kempes, jadi masih di tengah jalan ini".


"Waduh.... Bi...apakah aman saja?, Apa Abi sudah makan?, Apakah tidak ada orang lewat yang bantu?".


Imma begitu khawatir mendengar Ken masih di jalan dan memberondong pertanyaan yang sangat banyak.


"Honey...... honey.....dengar.... Abi tidak sendiri, coba lihat ada Bayu, yang disana ada Budi juga, jangan khawatir ok" ucap Ken sambil memutar handphone nya agar Imma bisa melihat sendiri orang yang ada di dekatnya.


"Iya.....iya.... terus ini Abi lagi nunggu siapa?, kenapa tidak jalan cari bantuan?".


"Sudah ada yang menuju kesini, umi lagi ngapain?" tanya Ken untuk sedikit mengalihkan perhatian Imma biar tidak terlalu khawatir.


"Abi maunya makan umi aja, tidak mau kalau mi goreng" goda Ken sambil mengedipkan matanya.


Imma mengerucutkan bibirnya sambil meracik masakan mi goreng dengan cekatan.


"Abi masih disitu, mana bisa mau makan umi, kapan pulang nya Bi.... kangen?".


"Besok sore mungkin baru bisa pulang honey....Abi juga kangen".


Saat sedang asyik berbincang dengan istri tercinta nya, ada mobil lewat yang melintasi mereka, di dalam mobil itu sekitar enam orang yang berbadan tegap dan berotot.


Budi yang tadinya berada di depan mobil, berlari mendekati Ken dan mengajaknya kedalam mobil untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


"Bos.....ayo masuk kita harus waspada kepada orang yang belum begitu di kenal, bergabunglah dengan Bayu di dalam mobil" perintah Budi kepada Ken.


Ken menganggukkan kepalanya, berjalan mengikuti Budi di belakang nya menuju mobil.

__ADS_1


"Honey..... sudah dulu ya, ini sudah datang orang bengkel nya" kata Ken berbohong agar Imma tidak khawatir.


Ken mematikan handphone nya di masukkan kedalam kantong celana, membuka pintu mobil dan duduk di samping Bayu, sedangkan Budi mendekati mobil yang baru datang dan menganggukkan badan nya.


"Mobilnya kenapa pak?" tanya sopir mobil yang baru datang.


"Ini ban mobil nya bocor" jawab Budi singkat.


Pintu mobil itu serentak terbuka dan keenam laki-laki itu akan keluar, sedangkan Budi sambil memegang handphone memotret nya berkali-kali tanpa berhenti dengan diam diam.


Baru satu kaki orang itu turun datang mobil Edi Darmawan dengan membawa anak buahnya nya di mobil yang lain mendekati mereka.


Sehingga keenam orang laki-laki itu tidak jadi turun dari mobil dan meneruskan perjalanan mereka, Ken dan Bayu yang dari tadi tegang merasa lega tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Bos... ikut mobil bos Edi saja, nanti mobil ini biar mereka yang mengurus" ucap Budi.


Ken dan Sandi turun dari mobil yang dan duduk di mobil Edi Darmawan, Edi Darmawan bergeser dari tempat duduknya, Budi mengemudikan mobil Edi dengan kecepatan sedang.


Sampai di pertigaan perkebunan teh itu tiba-tiba mobil yang sempat berhenti yang berisi enam orang laki-laki itu ada di belakang mereka dan mengikuti nya dengan jarak agak jauh.


"Bos....itu mobil yang tadi berhenti mendekati kita tadi?" kata Budi.


"Bisa lihat nomor plat mobil nya kah?" perintah Edi Darmawan segera.


Ken dan Bayu juga ikut melirik ke belakang untuk melihat plat nomor mobil yang ada di belakang nya.


"Yang depan huruf L dan belakang huruf DL" kata Ken


"Ya ....terima kasih Ken, angka nya berapa?" tanya Edi sambil tetap mengawasi spion untuk memilih nomor plat mobil di belakang nya itu.


"Itu nomor nya 32XX kayaknya..... betul tidak bos....." kata Bayu ragu-ragu.


"Iya....betul sepertinya" jawab Ken lagi.


"Sudah aku catat ..... terima kasih" ucap Edi Darmawan.


Mobil rombongan Ken masuk ke jalan raya pinggir perkebunan sehingga ada beberapa mobil yang melintas tidak seperti yang tadi ada di tengah perkebunan yang sepi.

__ADS_1


"Apakah masih mengikuti kita mobil itu?"


__ADS_2