Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 103 Bertemu Cucu Laki-laki


__ADS_3

"Papa....!!!" ucap Mama Nadia dan Dini bersamaan.


Dini dengan cepat mematikan handphonenya, dengan saling memandang takut ketahuan Tomy Sanjaya apa yang mereka lihat barusan.


Tetapi Tomy yang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum dan heran saat dia datang istri dan anaknya itu terkaget-kaget.


"Kalian ini kenapa sih, seperti habis lihat hantu saja, orang ganteng masuk kok malah ekspresi nya seperti itu?" gerutu Tomy Sanjaya.


"GR aja nich punya papa, gantengnya di lihat dari puncak gunung" jawab Dini sambil tersenyum.


Mama Nadia tertawa lepas melihat suami dan anaknya itu bercanda dengan akrab, sedangkan Tomy sangat bahagia melihat istrinya sudah mulai pulih seperti sedia kala.


"Oya.. Din, tadi papa ketemu istrinya Ken, kemungkinan hari Minggu keluarga nya mau besuk kesini" cerita Tomy dengan senang.


"Betulkah Pa?, tetapi roman-roman nya muka papa berseri seri habis bertemu siapa?" tanya Dini lagi.


"Itu tadi papa ketemu dengan putranya Kenzie Wiguna yang mempunyai Hobi sama dengan papa" cerita Tomy dengan antusias.


"Memang ngapain pa kok senang betul?" gantian Mama Nadia bertanya.


"Kita sempat bertanding battle tetapi karena senjatanya mainan papa dikalahkan oleh nya" celoteh Tomy lagi.


"Wuiiih....papa kalah, hebat dong berarti dianya?" puji Dini pura-pura tidak tahu tentang battle itu.


Seperti ada rasa sedikit kecewa di hati Tomy Sanjaya, selama ini dia tidak pernah mendapatkan lawan yang tangguh, sekali dapat malah kalah hanya dengan anak berumur delapan tahun parahnya lagi dengan senjata mainan pula.


Lain lagi hati dengan Dini dan Mama Nadia, hati mereka sangat bangga dan bahagia mendengar opa di kalahkan oleh cucunya sendiri, cuma antara cucu dan opanya itu tidak menyadari ada hubungan darah diantara mereka.


"Sudah lah pa...tidak usah kecewa, anggap saja papa mendapatkan generasi muda yang meneruskan hobi seorang Tomy Sanjaya yang katanya ganteng tapi di lihat dari puncak gunung" rayu Dini sambil cengar-cengir.


"Bisa aja Din... Din" mereka tertawa bersama-sama.


Sampai menjelang malam mereka bertiga bercengkerama dengan riang, dan beristirahat disana juga, mereka memutuskan untuk tidur di rumah sakit.

__ADS_1


Pukul sepuluh pagi adalah waktu besuk rumah sakit Ken membawa keluarga kecilnya dan kedua orang tua Ken juga ikut untuk menjenguk mama Nadia.


Saat pintu terbuka di rumah sakit itu, mata Mama Nadia mencari keberadaan Faro karena yang masuk pertama adalah Ken, Imma dan si cantik Fia.


Sedikit kecewa pada awalnya hati Mama Nadia karena hanya mereka bertiga yang masuk, setelah mereka bersalaman bergantian baru pintu terbuka kembali datang Bastian Wiguna, mami Winda dan Faro yang sedang mengobrol dengan hangatnya.


Ternyata mereka berempat sedari tadi bertemu di luar kamar ruang rawat inap itu, mata Mama Nadia berbinar-binar melihat si ganteng Faro yang mengenakan kaos berwarna putih dan celana jeans itu, sekilas memang jika di perhatikan seperti duplikat Dona Sanjaya saat masih seumuran Faro.


Setelah Faro mencium punggung tangan Mama Nadia, Faro duduk di samping Ken dan bercanda ria dengan adik Fia dengan riang.


Mata Mama Nadia tidak lepas dari pandangan kedua bocah itu seakan akan dia ingin memeluk nya dengan erat, tetapi karena Mama Nadia harus berjanji kepada Dini untuk melindunginya dalam diam, dia menahan diri tidak mendekatinya.


Dini hanya memandangi mamanya yang sangat sendu, tidak banyak yang bisa dia lakukan, sekedar ingin mengakrabkan suasana, Dini mendekati Fia pada awalnya.


"Cantik.... namanya siapa?" tanya Dini duduk di bawah berjongkok dihadapan Fia dan Faro.


"Fia....." jawab nya singkat.


Dipeluknya Fia dengan hangat, dan si ajaknya bercerita, kemudian Fia memanggil Faro mengajaknya bergabung.


"Bang....tini main tama Fia, celita Tama Oma dan mama Dini" celoteh Fia dengan bahasa yang cadel.


"Sana bang main sama adik" perintah Imma saat mereka duduk di sofa panjang bercengkerama dengan Papi Bastian, Mami Winda, Ken dan Imma.


Faro berlari mendekati Fia di brankar tempat tidur Mama Nadia dan bergabung untuk bermain.


"Sini duduk samping Oma sayang... seperti adikmu juga" pinta mama Nadia menepuk tempat tidur di sampingnya yang masih kosong.


Faro duduk dengan tenang nya, mama Nadia langsung memeluknya dari samping dengan spontan.


"Abang sekolah nya kelas berapa?" tanya Mama Nadia basa basi.


"Kelas dua Oma" jawab nya singkat.

__ADS_1


Yang awalnya canggung, lama kelamaan mereka berempat menjadi akrab karena seringnya celoteh Fia yang tidak begitu di mengerti oleh Mama Nadia dan Dini sehingga Faro lah yang menjadi terjemahan dadakan di saat itu.


Akhirnya Imma dan Mami Winda bergabung dengan mereka berempat bercengkerama dengan akrabnya, seperti sudah kenal bertahun tahun padahal baru bertemu sekali.


Tidak kalah akrab juga antara Ken, Papi Bastian dan Tomy Sanjaya mereka banyak membicarakan tentang bisnis dan rencana kedepannya tentang destinasi pariwisata alam yang sudah mereka kerjakan tinggal 20% lagi.


Lain lagi di dalam parkiran ada empat orang laki-laki yang sedang mengawasi daerah sekitar, keempat laki-laki itu duduk tidak jauh dari mobil Tomy Sanjaya, karena sudah hampir menjelang siang, belum ada pergerakan dari keluarga Tomy Sanjaya mereka berempat membagi tugas yang dua akan masuk untuk mengawasi di dalam rumah sakit.


Sebelum kedua orang laki-laki itu masuk, datang asisten Hendra memakirkan mobilnya disamping mobil Tomy Sanjaya, sehingga mereka tidak jadi melanjutkan untuk masuk ke dalam rumah sakit.


Hendra cuma mengawasi gerak-gerik mereka melalui kaca spion, Hendra sudah mulai hafal dengan anak buah Leo Bardan karena sudah hampir seluruh waktunya selama bekerja dengan bos Tomy Sanjaya selalu di awasi oleh mereka.


Saat mau turun dari mobil Hendra menelpon bosnya itu jika ada empat orang laki-laki yang mengawasi nya di parkiran samping mobil Tomy Sanjaya, dan Tomy Sanjaya menceritakan jika sedang ada tamu keluarga Bastian Wiguna.


Hendra langsung turun dari mobil itu cepat, dia memperhatikan daerah parkiran sekitar dengan hanya meliriknya saja agar mereka tidak curiga, ternyata di deretan parkir mobil Tomy Sanjaya tidak ada mobil Ken ataupun mobil Bastian Wiguna.


Hendra bernafas lega, berjalan melalui deretan parkir mobil itu sesekali melirik mencari keberadaan mobil bos PT WIGUNA GROUP itu.


Hendra bergegas masuk rumah sakit menuju ruang rawat inap yang di tempati oleh Mama Nadia, sampai di sana ternyata keluarga Bastian sudah tidak ada di ruangan itu.


"Bos....di luar ada empat orang laki-laki yang sedang mengawasi kita, dimana keluarga bos Bastian sekarang?" tanya Hendra cemas.


__________________________


Jangan lupa baca novel ku satu lagi ya....


tidak kalah serunya lho.......


IKAT PINGGANG CINTA


serta jangan lupa like vote dan komentar


terima kasih.......

__ADS_1


__ADS_2