
"Iya gagah sekali putramu, tetapi aku masih ngilu, apalagi melihat tanganmu luka begitu?" tanya Ken heran.
"Ini karena saat Mely mau melahirkan memegang tanganku dengan sangat kuat" jawab Sandi singkat.
Mama dan papa Mely datang dengan sedikit berlari melihat Sandi sudah menggendong bayi mereka mendekati mereka.
"Apakah cucuku sudah lahir, Sandi?" tanya Mama Mely.
"Iya ma, ini cucu laki-laki anda" jawab Sandi dengan tersenyum manis.
Setelah dibisikkan azan dan Iqomah dan ditemani oleh orang tua Mely, Ken dan Imma pamit pulang waktu juga sudah hampir tengah malam.
Dalam perjalanan Ken menjadi sedikit gelisah terbayang bayang suara Mely yang sangat kesakitan saat mau melahirkan, membuat Ken berpikir ulang ingin memiliki seorang bayi laki-laki yang di beri nama Kenzo sesuai keinginannya.
"Sayang... kenapa kok mukanya masih ditekuk begitu?" tanya Imma sambil menautkan salah satu tangannya.
"Abi masih ingin punya Kenzo tapi, membayangkan umi akan kesakitan seperti Mely, apakah Abi akan sekuat Sandi ya?" tanya Ken semakin gundah dan ragu.
"Bukankah selama ini umi kuat karena adanya Abi, apakah Abi tidak percaya kita mampu menghadapi semua jika saling menguatkan?".
Ken hanya menganggukkan kepalanya, menatap sendu sorot mata Imma yang teduh, membuat Ken menjadi semangat lagi ingin memiliki Kenzo kembali.
"Berarti kita buat jadwal untuk bertemu dokter Tanti ya honey,...., dan satu lagi kita akan berjuang keras agar cepat jadi cetakan Kenzo nya".
"Kalau mau berjuang keras mau cetak Kenzo itu cuma modusnya Abi aja, betulkan?" Celoteh Imma sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Ken hanya terkekeh sambil tetap fokus menyetir membelah jalanan yang tidak pernah sepi Walaupun sudah tengah malam.
"Umi memang yang terbaik, tahu aja apa yang Abi mau, berarti sampai rumah kita target berapa ronde?" tanya Ken dengan mentowel hidung Imma mesra.
"Sudah malam ini, sayang... satu ronde saja ya.. please" rayu Imma dengan memelas.
"Kita lihat aja nanti, tergantung!" jawab Ken lagi.
Ternyata tidak sesuai permintaan Imma, malam itu Ken membuat Imma bergadang, mengerang merasakan sensasi kenikmatan surga dunia sampai jam tiga pagi melakukan pergumulan panas itu sampai tiga ronde tanpa lelah.
Keesokan harinya setelah mengantar Faro berangkat ke sekolah, baru kemudian pukul sembilan pagi Ken dan Imma berkonsultasi dengan dokter Tanti untuk melepas IUD karena program menambah satu lagi yang berharap tercetak seorang Kenzo seperti keinginan Ken.
Usia putra Sandi 14 hari saat mereka mengadakan acara aqiqah untuk putranya, mereka hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja, aqiqah itu diadakan di apartemen Sandi dan putranya di beri nama Raffa Melsando Putranto.
Waktu cepat berlalu hampir dua bulan ini Ken didampingi Heri Pranoto, membimbingnya untuk menjadi asisten Rama nantinya, hampir dua bulan juga Sandi mendampingi Rama di bimbing oleh ayahnya sendiri Anton dan Papi Bastian di gembleng dan dipersiapkan untuk mengganti Ken sebagai wakil CEO, sedang Ken akan menggantikan Papi Bastian sebagai CEO perusahaan PT WIGUNA GROUP.
Persiapan pernikahan Kemmy juga hampir selesai, semua diserahkan kepada wedding organizer profesional, akan di laksanakan di sebuah hotel bintang lima ternama di Jakarta.
Ken, Papi Bastian dan Anton Sahroni menjadi bingung dan galau gara-gara memikirkan soal undangan jika untuk undangan teman bisnis dan kolega itu mudah tetapi undangan untuk keluarga Tomy Sanjaya akan menjadi buah simalakama, jika tidak diundang akan merasa tidak enak karena termasuk kolega dan teman dekat dan pasti berita acara itu akan tersebar di seluruh surat kabar atau di media sosial tetapi jika di undang pasti akan bertemu dengan Anton Sahroni.
Jika antara Tomy Sanjaya dan Anton Sahroni bertemu pasti akan terbongkar semua rahasia yang selama ini disembunyikan, dan akan membuat Faro dan keluarga pasti akan terancam keselamatannya, menjadi incaran dari Baron Pranoto dan anak buahnya.
Tidak ada cara dan jalan keluar untuk mengatasi masalah undangan ini, Anton hanya berharap jika Tomy Sanjaya tidak bisa hadir di pernikahan antara Rama putranya dan Kemmy, tetapi dari pihak Papi Bastian akan merasa bersalah jika keluarga Tomy Sanjaya tidak diundang, undangan juga tidak mungkin di kirim ke keluarga Tomy Sanjaya karena di undangan itu ada tulisan nama orang tua pengantin.
Pada malam harinya, Ken bercerita tentang masalah undangan ini kepada istri tercinta Imma berharap ada jalan keluar yang bisa mengatasi masalah itu.
__ADS_1
"Sayang, sebaiknya umi saja yang mengundang secara langsung jadi tidak usah memakai undangan".
"Honey...ide brilian, kenapa tidak kepikiran dari kemarin ya, tapi---" Ken tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa sayang, nanti jika mereka datang untuk sementara asisten Anton dan istrinya sembunyi aja sebentar ke belakang panggung, gampang kan?"
Ken tersenyum dan dengan spontan memeluk Imma dengan erat merasa lega karena masalah bisa di atasi tanpa membahayakan keselamatan keluarga dan tidak merusak persahabatan dengan keluarga Tomy Sanjaya sebagai teman bisnis.
"Tolong nanti jika mereka akan datang ke acara resepsi untuk memberikan informasi ya Honey, jadi asisten Anton bisa turun dari panggung pelaminan".
"Ya... nanti umi bilang sama Tante Dini, semoga nanti acaranya lancar seperti yang kita harapkan".
"Aamiin ya rabbal Alamin"
**************
Dalam dua bulan ini juga Andri Pranoto diam diam tanpa sepengetahuan papanya Baron Pranoto menyelidiki anak laki-laki yang telah menyelamatkan nyawanya saat di kejar oleh tiga orang laki-laki yang mengejarnya.
Karena setiap hari Jum'at Faro berlatih menembak selalu di jemput dan diantar pulang langsung oleh Akung Letnan dengan mudah anak buah Leo Bardan mengetahui jejak mereka.
Leo Bardan memberikan laporan lengkap biodata Faro dengan nama Faro S Wiguna, putra kandung dari Kenzie Wiguna dan Imma Anjani, berumur sekitar sepuluh tahun yang memiliki hobi menembak sejak kecil.
Ternyata selama ini Ken selalu menyembunyikan nama belakang Faro yaitu Sanjaya dengan hanya di singkat huruf S saja dan di tambahkan nama Wiguna juga di akta kelahiran dan kartu keluarga.
Leo Bardan juga mengirimkan foto foto Faro saat latihan di club menembak yang dikelola dan diawasi langsung oleh pemerintah, tetapi anehnya Faro berlatih dengan orang orang dewasa di bimbing oleh Akung Letnan dan dua orang mantan anak buahnya saat Akung Letnan masih aktif di angkatan bersenjata.
__ADS_1
Yang membuat Andri Pranoto heran adalah hubungan antara Faro dan Akung Letnan, karena waktu itu Akung Letnan mengakui jika Faro adalah cucunya, tetapi setelah diselidiki antara Faro dan Akung Letnan tidak memiliki hubungan darah.
Dengan keras Leo Bardan mencari tahu hubungan antara Faro dan Akung Letnan tetapi tidak ditemukan sama sekali, sehingga membuat Andri Pranoto sangat marah, dan meminta untuk lebih keras mencari informasi tentang itu.