Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 54 Faro Mulai Sekolah


__ADS_3

Sore itu Imma menolak untuk diajak mandi bersama.


"Lagi tidak enak badan Bi, mandi sendiri aja ya?, atau umi mandikan kayak Faro tapi umi tidak ikut mandi?"


"Ya sudah mandi sendiri aja deh, nanti umi sakit, istirahat dulu sana honey"


Ken mencium kening Imma lalu berjalan menuju kamar mandi, Imma menyiapkan baju dan meletakkan di atas tempat tidur.


Imma kembali duduk di sofa panjang di kamar itu, sambil berselancar di dunia maya melihat berita tentang dirinya dan Ken yang akhir akhir ini beredar tetapi tidak ada lagi yang negatif.


Hati Imma merasakan mulai tenang tidak seperti dahulu yang selalu khawatir dengan adanya berita yang selalu menyudutkan nya.


Justru yang Imma khawatirkan adalah keberadaan Faro yang harus di lindungi nya dari orang orang yang belum tahu keberadaan nya dimana.


Ken selesai mandi langsung memakai bajunya tidak seperti biasanya memakai handuk saja dan menggoda nya, karena Imma sedang tidak enak badan.


"Honey.... disini dulu ya tunggu Abi sebentar saja, jangan kemana-mana"


Imma menganggukkan kepalanya, Ken turun tangga dan berjalan cepat ke Imma kafe.


" Uthi Sumi... ada wedang jahe kah?".


"Buat siapa Abi?"


"Itu untuk Umi, tidak enak badan katanya, sepertinya kepikiran karena cerita Anton tadi".


"Sebentar uthi Sumi buatkan dahulu".


Ken duduk di kursi menunggu uthi Sumi yang membuat wedang jahe di tambah gula aren untuk mengurangi nyeri dan badan yang meriang.


Setelah selesai membuat nya, uthi Sumi menyerahkan wedang jahe itu kepada Ken.


Ken langsung kembali ke kamar dengan membawa wedang jahe untuk Imma.


"Honey.... ini minum lah wedang jahe agar badan umi hangat dan segar?".


Imma langsung meminum wedang jahe itu


"Uf......uf......uf....panas Abi"


"Pelan.....pelan honey masih panas"


"Sini Abi tiup kan dulu biar agak dingin".


Ken meniup wedang jahe itu dan menyuapkan wedang jahe itu sesendok demi sesendok dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya sayang, Abi baik banget"


"Tentu dong honey, karena umi adalah satu satunya cinta Abi".

__ADS_1


Ken memberikan wedang jahe itu lagi pada Imma sampai habis.


"Sini biar tambah hangat".


Ken memeluk Imma dengan erat seakan terhubung darah antara mereka, selalu menyatu dan ingin saling berbagi suka ataupun duka.


"Apa umi sudah lapar?, makannya dikamar aja ya... biar Abi yang ambil".


"Tidak usah, sudah baikan kok, kita turun aja yuk... makan bareng Faro".


"Baiklah... mau di gendong?"


"Tidak usah gandeng aja".


Imma dan Ken turun tangga dengan bergandengan tangan menuju ruang makan, disana sudah di tunggu uthi Sumi, uthi Marni, Akung Karno dan Faro.


"Umi sudah enakan badannya"


"Sudah uthi Marni"


"Umi...umi sakit coba Palo lihat dulu".


Faro turun dari kursi nya memegang tangan, pipi dan juga keningnya, sepertinya Faro sangat khawatir jika uminya itu sakit lagi.


"Tidak dingin atau panas?"


"Umi sudah sehat kok ganteng, Kan sekarang Abi juga ikut jaga umi".


Selesai makan Faro bermain dengan semua keluarga di ruang keluarga, sambil bercengkerama dengan hangat sampai pukul sembilan malam.


"Faro kalau sudah ngantuk tidur ya .... besok pagi mulai sekolah TK play group?".


"Iya Abi.... Palo sudah ngantuk ayo kita tidul".


"Sama siapa uthi Sumi atau umi" tanya Abi sambil mengulurkan tangannya.


"Sama uthi Sumi aja, bial umi istilahat besok antel Palo sekolah".


Faro langsung berjalan di gandeng Ken ke atas dan di ikuti oleh Imma dan uthi Sumi, sementara Akung Karno dan uthi Marni melangkah ke rumah samping untuk istirahat juga.


Ken mengantarkan Faro sampai masuk kamar tidurnya.


"Jangan lupa sikat gigi dulu ya sebelum tidur dan berdoa"


"Iya umi".


Malam ini Ken hanya memeluk erat tubuh Imma tertidur pulas sampai pagi hari.


Di pagi hari nya Faro sudah bangun sendiri karena antusias akan ke sekolah pada hari pertama.

__ADS_1


Mandi sendiri, Imma hanya mengawasi nya dari luar pintu kamar mandi, memberikan handuk setelah selesai.


Baju seragam sekolahnya juga sudah dipersiapkan untuk dipakai hari ini yang didapatkan saat mendaftarkan waktu itu.


Memakai tas ransel baru dan peralatan sekolah sudah siap juga di dalamnya, serta sepatu baru berwarna hitam.


"Waaaah.... tambah ganteng anak umi memakai seragam sekolah".


"Palo sudah besal sekalang umi".


"Betul...ayo sarapan dulu baru nanti berangkat".


Semua sarapan pagi bersama yang telah di siapkan oleh uthi Marni.


"Anak Abi sudah siap untuk berangkat ke sekolah, let's go".


Sekolah Faro jaraknya dari rumah hanya di tempuh dalam waktu setengah jam saja, karena hari pertama akhirnya Imma menunggu Faro sampai pulang.


Sekolah di mulai jam delapan pagi dan berakhir pukul sebelas siang setiap hari nya, fihak sekolah juga memberikan kelonggaran boleh menunggu selama satu Minggu.


Faro mulai mempunyai banyak teman sebaya di sekolah itu, Faro adalah anak yang supel dan mudah akrab dengan teman barunya, hari pertama saja Faro sudah akrab dengan teman yang duduk di sebelahnya bernama Rendy.


Ken langsung ke kantor setelah mengantar Faro sekolah, Ken melarang Imma pulang menggunakan mobil online, akan di jemput lagi, walaupun jarak sekolah dengan kantor lumayan jauh di tempuh sekitar satu setengah jam.


Setelah istirahat siang nanti jadwal Imma bertemu dengan psikiater sehingga Ken hanya kerja setengah hari saja.


Jam sebelas siang Faro keluar kelas langsung berlari ke arah Imma.


"Umi..... Palo sudah boleh pulang".


"Belajar apa Faro hari ini?"


Faro bercerita dengan antusias tentang pengalaman nya masuk sekolah di hari pertama nya, mereka duduk di area sekolah di bangku panjang sambil menunggu di jemput oleh Ken.


Rupanya ada infotainment yang meliput keluarga kecil Ken di sekolah TK itu.


Tayangan kegiatan Ken dan Imma mengantarkan Faro sekolah ada di berita infotainment sore hari.


Seperti biasa dengan setia Mama Nadia melihat kegiatan Faro ke sekolah di temani oleh kedua orang tua nya di acara infotainment di televisi swasta nasional.


Tepat saat papa Tomy pulang dari kantor juga ikut melihat tayangan itu, tetapi saat Mama Nadia dan Papa Tomy sedang asyik melihat acara itu datang dengan tergopoh-gopoh asisten Papa Tomy menghampiri mereka.


"Bos....bos... boleh bicara sebentar".


"Ada apa Hendra?, ayo ke ruang kerja saja".


Sampai di ruang kerja Hendra menceritakan bahwa mendapatkan kabar jika Baron Pranoto ada di Indonesia tepatnya di Jakarta.


Sehingga Papa Tomy menghubungi semua teman teman nya yang mencari informasi tentang keberadaan anak laki-laki Dona Sanjaya untuk di hentikan.

__ADS_1


Bodyguard yang dulu bertugas mengawal Dona juga di minta berhenti untuk mencari keberadaan Anton Sahroni.


Papa Tomy juga memberikan rumor jika Dona Sanjaya memiliki anak laki-laki adalah hanya isu belaka.


__ADS_2