Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 79 Pelatih Menembak


__ADS_3

Di ruang tamu Ken dan Imma menemui tamunya, sedangkan adik Fia di pangku uthi Sumi bersama Abang Faro bermain di teras Imma kafe dengan gembira.


"Umi....ini perkenalkan ini letnan Agung" ucap papi Bastian.


"Saya Imma" jawab Imma sambil mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan nya.


"Saya Agung......Terus terang saya kagum dengan bakat Faro yang luar biasa".


Imma hanya tersenyum mendengar pujian dari letnan Agung untuk Faro yang notabene hanya anak kecil yang suka bermain tembak tembakan.


"Apakah saya bisa mengangkat nya menjadi murid saya?" lanjut letnan Agung langsung ke intinya.


Imma dan Ken saling pandang dengan permintaan dari letnan Agung itu.


"Maksudnya bagaimana letnan kami tidak faham?" tanya Imma bingung.


Letnan Agung menerangkan maksudnya, yaitu ingin melatih Faro menjadi sniper profesional, pada jaman modern seperti ini tidak harus ikut menjadi anggota militer untuk orang yang ahli menembak.


Bisa juga ajang ikut lomba menembak secara profesional baik nasional maupun internasional.


"Tetapi saya tidak akan memaksakan apa cita-cita nya kelak".


"Ya.... nak, saya faham... saya akan melatihnya hanya sekedar untuk hobi saja, tidak lebih dari itu, tetapi jika dia ingin masuk militer akan lebih bagus lagi, mengingat keahlian nya yang bisa menjadi aset negara yang bisa sangat berguna bagi negara" jelas letnan Agung panjang dan lebar.


"Bagaimana menurut umi?" tanya Ken kepada istri tercinta nya itu.


"Kalau untuk sementara ini saya belum bisa mengijinkan berlatih di luar dulu, masih terlalu kecil untuk nya, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan nya" jawab Imma khawatir.


"Untuk sementara ini rencananya memang akan berlatih di rumah saja umi" jelas Papi Bastian selanjutnya.


"Berarti saya anggap setuju ya saya melatih Faro, baiklah untuk sementara ini berarti saya akan sering berkunjung kesini, untuk berlatih dengan Faro" jawab letnan Agung bahagia.


Mereka menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan rencana letnan Agung dan Papi Bastian untuk melatih bakat langka yang dimiliki oleh Faro.


Mulai hari itu rutin letnan Agung datang seminggu sekali terkadang juga dua kali mengunjungi Faro dan latihan bersama, Faro juga sangat antusias serta bersemangat setiap kedatangan nya.


Bekas jahitan operasi Caesar Imma sudah kering seiring umur adik Fia bertambah, hari ini masa nifas Imma juga sudah selesai, karena Ken menghitungnya setiap hari.


Tetapi Ken tidak begitu faham harus seperti apa setelah nifas selesai, yang dia tahu Ken akan mulai membuka puasa bukan dalam artian yang sebenarnya tetapi puasa tentang hasrat nya yang ditahannya selama ini.


Pulang dari kantor dengan semangat, Ken sudah membayangkan kemesraan yang akan dia ciptakan nanti malam jika anak-anaknya sudah tidur.

__ADS_1


Bersenandung kecil saat memandikan adik Fia, menciumi harum tubuh bayi mungilnya itu membuat semakin bahagia.


Memandang Imma dengan mesra dan menggodanya setiap berada di samping nya, membuat Imma jadi terheran heran ada apa sebenarnya yang terjadi.


"Abi.... perasaan dari tadi sore senyum senyum sendiri, bernyanyi nyanyi sendiri ada apa sih?" tanya Imma saat mereka hendak beristirahat setelah rutinitas keseharian.


"Memangnya umi lupa sekarang hari apa?"


"Ingat sekarang hari Rabu, ada apa sih?".


"Iiiih......umi....bukan itu maksudnya".


Imma semakin penasaran dengan tingkah laku suaminya yang aneh hari ini.


"Umi......memang tidak ingat kalau hari ini sudah 40 hari umur adik Fia, berarti Abi boleh setor ya......".


Tanpa menunggu lama lagi Ken langsung menggendong Imma ke tempat tidur dan mulai bergerilya dengan nakal dan tidak sabar.


Menciumi bibir Imma dengan rakusnya, pindah ke bawah, di tengkuk dan leher nya memberikan tanda kepemilikan di setiap inci bagian tubuh Imma.


"Abi..... tunggu sebentar......tunggu dulu".


"Belum boleh sekarang Abi.......sayang..... dengar dulu".


Ken menghentikan kegiatannya dengan frustasi, karena kesenangan terganggu.


"Abi ..... Sayang..... Kita harus ke dokter Tanti dahulu ok, sekalian adik Fia imunisasi dan umi periksa kesehatan dulu".


"Apakah Abi harus puasa sehari lagi.....yaaaaah Umi....?".


"Maaf sayang....maaf....".


Ken berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk menuntaskan yang tadi tidak selesai di tempat tidur, Imma hanya menatap sendu Ken tanpa bisa berbuat apa-apa.


Setelah Ken keluar dari kamar mandi, duduk di samping Imma dengan malas.


"Marah kah Bi......maaf".


"Tidak honey.... Abi tahu ini demi kesehatan umi juga, tetapi besok setelah dari dokter umi harus bayar dobel ya....".


"Eeeeee....... mengapa bisa begitu?"

__ADS_1


"Ya begitu....salah siapa umi tidak cerita setelah selesai nifas harus periksa ke dokter dulu"


Imma hanya tersenyum mendengar ucapan Ken yang aneh-aneh cuma alasan modus nya saja.


"Ya ..... sudah ayo kita tidur, besok Abi antar ke rumah sakit".


Mereka tidur dengan saling memeluk dengan erat sampai pagi menjelang dan matahari mulai mengintip dari ufuk timur.


Paginya Imma membawa putri kecilnya Fia berjemur sejenak, Ken mengantarkan Faro sekolah karena hari ini Ken akan ke kantor tengah hari setelah mengantar Imma ke rumah sakit.


Sepulang dari mengantarkan Faro sekolah, Ken mengajak putri kecilnya Fia mandi, mendandaninya dengan cantik, baju warna pink serta bando pita juga warna pink.


"Aduuuuh cantik nya anak umi..... " kata Imma melihat putri kecilnya Fia yang mengenakan baju pink itu.


"Bukan cuma anak umi....anak kita..." Protes Ken.


"Iya...iya... sensi banget sih....anak kita".


Dari tadi malam Ken masih sedikit kesal karena keinginannya yang belum tersalurkan membuat nya uring-uringan tidak jelas.


"Sayang..... jangan marah terus naah"


"Siapa yang marah.... Abi cuma sedikit kesal aja".


Ken mengantarkan Imma dan adik Fia ke rumah sakit tetapi dengan raut wajah yang sedikit di tekuk.


Melihat Ken yang begitu tidak bergairah dengan raut wajah yang murung sampai parkiran rumah sakit Imma sambil memangku Fia menarik tangan nya dan mencium bibir Ken dengan lembut.


"Umi bayar nyicil dulu ya..... sisanya nanti setelah dari dokter Tanti, akan umi bayar lunas kalau perlu dobel.....umi juga kangen.... jangan ditekuk lagi tuhh muka, ganteng nya jadi hilang".


Imma berusaha merayu Ken, walaupun dia termasuk gadis yang susah mengungkapkan perasaan nya dan tidak romantis tetapi membuat hati Ken menjadi menghangat lagi.


"Baiklah..... terima kasih... honey...I love you so much, ayo kita turun".


"I love you to....sayang ku".


Mereka memasuki area rumah sakit, menuju ruang praktek dokter Tanti, karena sudah melakukan janji dari tadi malam, sehingga Imma dan Ken tidak terlalu menunggu lama.


Imma melakukan konsultasi dengan dokter Tanti tentang alat kontrasepsi yang aman untuk ibu menyusui, dan dokter Tanti menyarankan agar untuk suntik, pil ataupun IUD, sehingga Imma mengambil yang IUD saja itu pilihan yang paling aman.


Baru kemudian Imma membawa adik Fia untuk imunisasi di ruang dokter yang berbeda yaitu dokter anak, untuk mendapatkan imunisasi BCG, tetapi dokter berpesan jika nanti adik Fia panas jangan terlalu khawatir, karena efek dari imunisasi BCG adalah demam.

__ADS_1


__ADS_2