Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 109 Ide Modifikasi


__ADS_3

Saat Imma bercerita jika dua bulan lagi akan berkunjung ke kampung halaman, Faro tidak sengaja mendengarnya karena Faro sedang berjalan mendekati mereka.


"Apakah kampung halaman itu dekat rumahnya Opa Tomy, umi?" tanya Faro penasaran.


Awalnya Imma ragu untuk menjawabnya, menatap mata uthi Sumi seolah meminta persetujuan darinya, kemudian uthi Sumi menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Iya...bang, memangnya kenapa to?" tanya Imma ikut penasaran juga.


"Abang ingin melihat koleksi senjata otomatis koleksi Opa Tomy, apakah Abang boleh ikut umi?" tanya Faro dengan penuh harap.


"Kalau itu sebaiknya tanyakan langsung kepada Abi aja.. sayang".


Tanpa menunggu nanti, Faro berlari ke ruang keluarga menemui Ken yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Abi..... Abi..... bolehkah Abang tanya?".


"Iya bang mau tanya apa?".


"Kata umi kita akan liburan ke kampung halaman, apakah itu artinya Abang bisa melihat koleksi senjata otomatis nya Opa Tomy?".


Ken membelalakkan matanya, ingatan anak laki-laki nya itu sangat kuat, sampai sekarang masih saja mengingat vedio yang pernah Sandi tunjukkan dua tahun yang lalu.


"Tentu, tetapi nanti jika Abang liburan sekolah masih sekitar dua bulan lagi!"


"Yes... asyik, tidak apa-apa Bi, yang penting Abang bisa lihat, terima kasih, Abang mau belajar dulu".


Faro lari ke lantai atas dengan ber-yes ria berkali-kali, sambil berloncat-loncat dengan sangat gembira dengan kabar gembira itu.


Ken tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Faro yang begitu gembira juga membuat hatinya Ken sangat bahagia.


Keesokan harinya Imma mengirim pesan WA kepada Tante Dini jika nanti saat peresmian pembukaan destinasi pariwisata alam seluruh keluarga akan hadir kesana, sekalian akan berkunjung ke kampung halaman.


Imma bercerita juga jika Faro sangat antusias ingin sekali melihat koleksi senjata otomatis yang dimiliki oleh Opa Tomy, serta bercerita jika bibi kesayangan nya yang dianggap seperti ibu kandungnya ingin mengunjungi rumah lamanya yang lama di tinggalkan.


Imma mendapatkan kabar yang tak terduga, ternyata rumah peninggalan ibunya itu sudah di renovasi oleh Tante Dini hampir tiga tahun yang lalu, Imma juga pendapatan kiriman foto foto jika rumahnya dirawat dengan baik oleh teman baik almarhumah ibu Lestari saat masih menjadi karyawan pemetik teh yaitu ini Yati.


Karena sangat senang Imma mendapatkan informasi itu dan melihat foto foto kiriman dari Tante Dini langsung berlari ke lantai bawah menghampiri kamar Uthi Sumi.

__ADS_1


Di tunjukkan nya Foto foto Ituk kepada uthi Sumi, satu persatu foto itu di pandangi nya, di geser foto itu, di lihat dari depan, samping, belakang dan di dalam rumah, air mata Uthi Sumi menetes tanpa bisa di kendalikan lagi, hatinya sangat merindukan rumah itu, melihat foto itu seolah olah dia baru saja mengalami peristiwa itu.


Dari peristiwa kehilangan suami dan putranya bersamaan dengan ayah kandung Imma, mendampingi ibu kandungnya nya Imma menikah siri dengan Dona Sanjaya sampai pindah ke Jakarta dengan sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan oleh Tomy Sanjaya.


Imma memeluk uthi Sumi dengan erat, mereka berdua membayangkan peristiwa saat kebersamaan dengan orang yang sangat di cintai nya dengan bahagia di rumah itu.


"Umi... Uthi ingin tinggal disana lagi, uthi ingin tinggal disana selamanya".


Imma melepaskan pelukannya, duduk di samping tempat tidur itu, sesekali memijit kaki Uthi Sumi yang sering sakit dan ngilu.


"Uthi... jangan ngomong begitu, sebentar lagi kita akan berkunjung kesana, tidak usah khawatir"


Sementara di kantor Ken mulai mulai mempersiapkan keperluan untuk dua bulan mendatang, selain persiapan pembukaan Ken akan memboyong semua keluarganya untuk berkunjung ke kampung halaman orang tua Imma, dan tidak lupa membeli tiket pesawat untuk semua keluarga yang ikut, termasuk Papi Bastian, Mami Winda dan Kemmy.


Dalam satu Minggu kedepan Faro berkonsentrasi belajar untuk mempertahankan nilai-nilai sekolah nya sebagai syarat Akung Letnan agar bisa latihan menembak menggunakan senjata asli bukan mainan.


Semenjak Faro mendapatkan hadiah senjata Laras pendek dari opa Tomy dan mencobanya sekali senjata itu Faro mulai mencari ide agar pistol mainannya bisa seberat senjata otomatis betulan.


Flashback on.


Saat sore itu Faro berlatih dengan Akung Letnan, dia merasa heran karena senjata pistol mainan itu menjadi berat.


"Itu kung, dalamnya Faro isi dengan besi, biar beratnya sama dengan senjata otomatis yang asli" kata Faro sambil cengar-cengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maksudnya gimana sih?, memang Faro pernah mencoba senjata asli?".


"Iya....itu, itu kung, cuma sekali mencobanya kok!" jawab Faro gugup.


"Senjata siapa?" tanya Akung Letnan heran dan khawatir.


"Senjata dari Opa Tomy, teman Abi kerja, kemarin orangnya kesini bertanding sama Faro, terus Faro menang di berikan hadiah senjata Laras pendek asli".


"Sekarang senjatanya mana?".


"Disimpan Abi ...kung".


Akung Letnan bernafas lega, ternyata senjata otomatis di simpan oleh Ken, karena memang belum waktunya Faro berlatih dengan senjata asli tanpa pengawasan orang dewasa, tetapi jika ada yang mengawasi mungkin bisa di pertimbangkan karena mengingat kemampuan Faro yang begitu pesat kemajuannya.

__ADS_1


"Begini saja, Faro belajar dulu yang rajin, untuk semester akhir ini Faro bisa mempertahankan nilai yang sama seperti semester lalu, Akung ijinkan sesekali belajar menggunakan senjata api asli" kata Akung Letnan panjang lebar.


"Betulkah Akung...janji ya?".


"Tetapi jika latihannya dengan Akung Letnan, tidak boleh sendiri, faham?".


"Iya Akung Faro faham".


Akhirnya Akung Letnan menemui Ken untuk membicarakan tentang kesepakatan antara Faro dan Akung Letnan, Ken menyetujui kesepakatan itu, karena memang hobi Faro dari kecil menembak.


Flashback off.


Dalam satu Minggu ini Faro berkonsentrasi belajar, kadang di dampingi oleh Ken dan terkadang di dampingi oleh Imma, keseriusan Faro sangat terlihat disana.


Setelah satu Minggu berlalu, ulangan semester akhir selesai Faro berlatih kembali dengan senjata mainan yang sudah dia modifikasi sendiri dengan di beri besi di dalamnya.


Ken mendampingi Faro berlatih dan ikut menggunakan pistol yang sudah di modifikasi itu.


"Bang kenapa harus diberi besi begini sih?" tanya Ken penasaran.


Faro hanya cengengesan, menggaruk-garuk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Buat persiapan Bi"


"Persiapan apa maksudnya?"


"Persiapan jika Akung Tomy mengajak Abang bertanding di kampung nanti"


Ken mengerutkan keningnya membaca pikiran Faro yang jauh lebih ke depan dan masuk akal menurut Ken.


"Jadi rencana Abang bagaimana?".


"Abang hanya jaga-jaga aja Bi, nanti kalau di ajak bertarung lagi Abang tidak terlalu kaget jika disana menggunakan senjata api asli".


"Memang apa bedanya sih Bang, senjata itu berat dan ringan?".


Faro membolak balikkan senjata mainan yang sudah di modifikasi sendiri itu dan menimbang berat senjata itu.

__ADS_1


"Beda dong Bi, beda banget".


"Apa sih bedanya bang?" tanya Ken penasaran.


__ADS_2