Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 68 Sayang Uthi


__ADS_3

Sudah hampir pukul tiga sore acara dodol dawet dan rujak siap dilaksanakan, semua sudah siap si posisi nya masing masing.


Imma duduk di di sofa panjang bersama Ken, didepannya sudah siap dawet dan rujak yang akan di bagikan.


Semakin sore semakin banyak pengunjung yang datang, hanya dalam satu jam dawet dan rujak nya habis terjual.


Koin genteng itu terkumpul waktu singkat, ada juga infotainment yang meliput acara mitoni.


Tentu saja acara itu sampai di lihat oleh seluruh masyarakat tidak terkecuali Mama Nadia dan Tante Dini yang menyaksikan acara itu.


Tanpa tunggu lama Tante Dini mengirim pesan lewat WA kepada Imma.


"Tring... Tring.... tring..." Suara notifikasi handphone Imma.


"Selamat... Anak ku, semoga lancar sampai melahirkan nanti".


Imma tersenyum ternyata Tante Dini mengirim pesan kepada nya.


"Terima kasih Tante, posisi Tante dimana?"


"Tante ada di kampung, jadi maaf tidak bisa datang".


"Tidak apa-apa Tante, yang penting doanya".


"Tentu.... Doa Tante akan selalu ada untuk mu, semoga sehat dan lancar".


"Terima kasih atas doanya, bagaimana kabar ibu dan bapak Tante?".


"Beliau sehat selalu".


"Salam buat beliau Tante, nanti jika ke Jakarta jangan lupa mampir".


"Siap... Nanti Tante sampai kan".


Imma tersenyum senyum sendiri sambil memandang handphone nya.


"Hayo..... Lagi ngapain senyum senyum sendiri?".


"Abi.... bikin kaget aja, ini habis chatting sama Tante Dini".


"Kirain lagi lihat cowok ganteng, habisnya senyum senyum sendiri".


"Umi juga sambil lihat cowok ganteng kok chat nya".


"Ha... Umi mana cowok ganteng nya....?, lebih ganteng siapa sama Abi?"


"Cemburu ya...., Ayo ngaku.... Cemburu?,


Nich... Cowoknya lihat lebih ganteng kan?".


Imma menunjukkan wallpaper handphone nya kepada Ken ternyata foto Ken saat tertidur pulas di ruang kerja membuka mulutnya sedikit.

__ADS_1


"Umi....... Jahil yaaa... Kapan ini foto di ambilnya, kok Abi tidak tahu?".


Ken protes sambil menggelitiki Imma gemas karena keisengan nya.


"Ampun Abi..... ampun,...... Umi nyerah".


Karena dawet dan rujak sudah habis, kemudian semua karyawan membersihkan halaman kafe itu dengan cepat.


Masih ada acara satu lagi untuk nanti malam yaitu pengajian yang dihadiri oleh tetangga dan keluarga, acara itu juga di liput oleh infotainment yang tadi sore meliputnya.


Ken dan Faro yang di wawancarai oleh infotainment itu, saat Faro di tanya apa jenis kelamin adik bayi nya Faro menjawab nya dengan antusias.


"Kalau abangnya ganteng, pasti Adikku pasti cantik"


"Jadi adiknya bang Faro perempuan?".


"Ya adik bayi pipi tembem yang cantik".


Jenis kelamin adik nya Faro di ketahui saat periksa dokter pada bulan yang lalu.


Dalam pengajian itu tidak di sangka sangka datang sepasang suami istri yang istri nya sedang hamil besar juga yaitu Bayu.


"Bayu apa kabar?" Ken mengulurkan tangannya kepada Bayu.


"Kami baik, perkenalkan ini istri ku Yeri".


Ken memanggil Imma untuk menemui istrinya Bayu yang sedang hamil besar juga.


Imma memeluk Yeri dan mengajak nya duduk.


"Duduk lah, nanti capek".


"Terima kasih mbak".


"Panggil Imma saja, biar lebih akrab, sudah berapa bulan kandungan Yeri?".


"Tinggal menunggu hari aja ini, sudah sembilan bulan".


Ken dan Bayu juga tidak kalah akrab bercengkerama setelah selesai acara pengajian itu.


Ternyata terjawab sudah pertanyaan Ken kemarin mengapa Bayu hanya memakai motor metik saja padahal saat kuliah dia menggunakan mobil Lamborghini.


Demi cinta nya kepada Yeri seorang gadis sederhana dan anak seorang pedagang bakso Bayu dicoret dari silsilah keluarga besarnya yang saat itu akan di jodohkan oleh kedua orangtuanya.


"Sekarang kamu kerja dimana Bayu?".


"Aku belum mempunyai pekerjaan tetap, ini masih membantu ayah mertua ku berjualan bakso".


"Besok bisakah ke kafe, aku ingin minta bantuan mu, untuk mengembangkan kafe istriku"


"Dengan senang hati, jam berapa?".

__ADS_1


"Pas istirahat makan siang aja"


Sudah menjelang malam Bayu dan Yeri pamit pulang bersamaan dengan seluruh jemaah pengajian malam itu setelah menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Saat istirahat di kamar Ken membicarakan rencananya untuk mengembangkan kafe, Ken ingin membesarkan kafe itu dengan membongkar rumah belakang.


Ken juga mengusulkan uthi Sumi sudah waktunya istirahat, kafe diserahkan yang lebih muda, dengan itu Ken akan mengangkat Bayu sebagai manager Kafe.


Imma dan uthi Sumi akan bersama-sama membesarkan anak anak saja.


"Iya Abi.... Umi setuju, sudah waktunya kita membahagiakan uthi Sumi, dari umi kecil beliau selalu kerja keras".


Pagi harinya setelah sarapan pagi, dan Faro berangkat sekolah diantar oleh pak Sardi, baru membicarakan tentang rencana tadi malam kepada uthi Sumi.


Uthi Sumi terharu mendengar semua rencana Ken, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa di kendalikan sambil memeluk Imma.


"Terima kasih anakku, selama ini sudah memberikan kebahagiaan dan kehangatan keluarga".


"Umi lah yang seharusnya berterima kasih kepada uthi, selama ini mau mendampingi kami baik suka maupun suka, kami semua sayang uthi".


"Kenapa jadi tangis tangisan, Abi tidak di ajak lagi pelukan nya?".


Mendengar ucapan Ken Imma dan uthi Sumi berhenti menangis dan memeluknya bertiga berpelukan dengan erat.


"Ken juga sangat sayang sama uthi, terima kasih telah menjaga istriku tercinta juga menjaga Faro juga".


"Baiklah besok saat makan siang kita bertemu dengan calon manager kafe baru"


"Siapa Abi?" tanya uthi Sumi penasaran.


"Namanya Bayu uthi, dia teman kuliah Abi, sepertinya dia mempunyai kemampuan yang sangat bagus untuk mengembangkan kafe kita".


"Baiklah.... Uthi percaya pada kalian berdua, terima kasih sekali lagi, atas kasih sayang nya".


Bagi Imma uthi Sumi bukan hanya pengganti Ibu nya saja, beliau juga berperan seperti ayah, sebagai panutan, idola, pelindung dan mentor yang selalu menjaga nya setiap saat.


Tidak bisa tergantikan oleh siapapun, ikatan batin yang sangat kuat antara Imma dan uthi Sumi selayaknya antara ibu dan anak.


Memang darah lebih kental dari pada air, tetapi bagi Imma tidak hanya karena hubungan darah orang bisa saling menyayangi.


Buktinya antara Imma dan uthi Sumi mempunyai hubungan yang lebih dari hanya sekedar hubungan darah, tepat nya hubungan hati yang kuat, saling menyayangi, saling mendukung dan saling menguatkan.


Sejak dari kecil Imma bersama Uthi Sumi, berjuang bersama dari sebuah desa kecil di pegunungan di daerah Jawa timur, bersembunyi dan lari ke Jakarta adalah awal mulanya kedekatan keduanya.


"Umi sangat menyayangi uthi Sumi, sekali lagi umi akan merepotkan uthi dari kelahiran putri ku" ucap Imma sambil memeluk uthi Sumi dan berlinang air mata.


"Apapun akan uthi lakukan untuk putri kesayangan uthi ini, umi adalah satu satunya keluarga uthi selama ini, jangan pernah mengatakan kata merepotkan ok".


"Terima kasih telah menyayangi uthi, uthi sangat bahagia bersama dengan kalian".


Ken, Imma dan uthi Sumi saling berpelukan lagi dengan erat bertiga.

__ADS_1


__ADS_2