
Satu Minggu setelah tiga sahabat itu bertemu ternyata Heri tidak main-main, membawa ibu dan neneknya melamar Marisa langsung ke rumah nya.
Walaupun agak ragu-ragu akhirnya Marisa menerima lamaran itu karena melihat kesederhanaan dari Heri dan ketulusan hati nya, semua serba cepat, dari pertemuan, lamaran dan pernikahan pun dilakukan dengan jarak yang dekat.
Tinggal dua Minggu lagi pernikahan itu berlangsung, Marisa meminta bantuan dari Imma dan Mely, walaupun Mely mabuk setiap bau masakan tetap dia membantu semampunya sahabatnya itu mempersiapkan pernikahan dengan teliti.
Dengan cepat dua Minggu itu berlalu, akad nikah di kediaman Marisa hanya di hadiri oleh keluarga dan teman dekat, acara resepsi di laksanakan di gedung serbaguna dekat dengan rumah Marisa.
Semua undangan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai saat acara resepsi itu di adakan, yang membuat heran adalah para tamu nya, rombongan Papi Bastian sekeluarga, Anton Sahroni sekeluarga, Ken sekeluarga dan Sandi sekeluarga datang pada awal acara, saat pukul sebelas siang ada rombongan tamu yang menggunakan seragam hitam hitam dalam jumlah lumayan banyak.
Anton membekalkan matanya lebar-lebar, tetapi sambil bergeser ke belakang Papi Bastian dan berbisik.
"Bos....itu ada Baron Pranoto yang yang memakai kacamata hitam, yang sebelah kiri itu putranya Andri Pranoto dan yang di samping kanan yang kekar berotot, dia Leo Bardan" bisik Anton kepada papi Bastian.
"Bagaimana mereka kenal Heri suaminya Marisa?" tanya Papi Bastian.
"Saya juga tidak tahu bos, coba tanyakan isterinya bos Ken?" saran Anton singkat.
Papi Bastian memanggil Ken, dan mengajak mereka ke luar gedung dengan tergesa-gesa, sampai di luar ada banyak pengawal yang berseragam yang sama dengan Baron Pranoto dan Leo Bardan.
Mereka mengurungkan niatnya untuk keluar gedung, kembali dan masuk ke kamar ganti baju pengantin yang ada di sebelah pelaminan dengan diam-diam, kemudian Ken mengajak dan menarik Imma kesana juga agar mudah masuk kamar ganti itu.
"Ada apa sayang.... mengapa mengajak kesini, jangan bilang Abi mau minta....." Imma tidak jadi meneruskan kata-katanya melihat ada Papi Bastian dan asisten Anton disana.
"Honey.... jangan berpikiran mesum, siapa yang ngajarin?" bisik Ken ke telinga Imma.
"Abi lah yang ngajarin siapa lagi" Jawab Imma sambil memukul lengan Ken pelan.
Setelah mereka berkumpul Ken dan Imma duduk di ranjang, sedangkan Papi Bastian dan asisten Anton duduk di kursi yang ada di depan ranjang, baru asisten Anton bercerita jika ada tamu yang hadir adalah Baron Pranoto, putranya Andri Pranoto, Leo Bardan dan anak buahnya.
__ADS_1
"Suaminya Marisa namanya Heri Pranoto Papi" celetuk Imma perlahan.
ketiga nya heran saling menatap mata, seolah bertanya dengan menggunakan kode tatapan mata, dan Ken mengangkat pundaknya tanda tidak tahu apa yang terjadi.
"Apa hubungan mereka bos?" tanya asisten Anton kepada mereka.
Mereka hanya menggelengkan kepalanya saja, tidak tahu harus berbuat apa mereka menjadi bingung.
"Ayo kita keluar, asisten Anton disini saja dulu jangan sampai mereka melihatmu, Ken coba kamu pura-pura foto foto mereka dengan ponsel mu?" perintah Papi Bastian.
Mereka bergegas keluar dari kamar itu, Imma duduk kembali bergabung dengan Faro dan Fia, Papi Bastian duduk di samping Mami Winda sedangkan Ken mengambil foto di setiap tamu yang datang, kebetulan pas rombongan Baron Pranoto sedang berfoto bersama kedua mempelai, ada juga berfoto Baron Pranoto, Andri Pranoto kedua mempelai dan ibu serta neneknya.
Selesai mengambil foto Ken menceritakan semua kepada Sandi, meminta menghubungi Budi atau Hendra untuk menanyakan siapa sebenarnya Heri Pranoto itu dan tidak lupa mengirim foto yang baru saja di ambilnya tadi.
Malam harinya Sandi membuat group baru antara Budi, Hendra dan dirinya sendiri dengan nama SANG ASISTEN setelah selesai membuat group baru sandi mengirimkan foto foto Baron Pranoto, Andri Pranoto, Leo Bardan dan anak buahnya menghadiri pernikahan sahabatnya istrinya bos Ken.
"Bro....apa hubungan antara Heri Pramono dengan mereka?" tanya Sandi kepada mereka dalam pesannya.
"Hari Minggu kemarin" jawab singkat.
Hendra yang baru membuka handphone nya sangat kaget melihat foto-foto itu dan dengan cepat membalas pertanyaan Sandi.
"Bro... Heri itu kalau tidak salah cucu Baron Pranoto dari istrinya yang kedua, mereka tinggal di Bekasi" cerita Hendra.
"Terima kasih bro infonya, aku tidak susah lagi mencari informasi tentang keberadaan mereka" tulisan Hendra lagi.
"Sama sama, ternyata betul ya... dunia tidak selebar daun kelor" tulis Sandi kemudian.
"Maksudnya apa bro?" tanya Budi heran.
__ADS_1
"Perasaan akhir akhir ini aku selalu berhubungan dengan mereka terus" jawab tulisan Sandi.
"Kamu baru akhir akhir ini bro, aku hampir seluruh waktuku selama bekerja dengan bos Tomy selalu berhubungan dengan mereka" cerita Hendra dalam tulisannya.
Keesokan harinya Sandi melaporkan kepada kedua bosnya tentang informasi yang di dapatkan dari kedua asisten patner bisnisnya itu.
Imma hari ini sedikit sibuk merawat Uthi Sumi, akhir akhir ini uthi Sumi mulai tidak terlalu kuat untuk berdiri lama, karena umur yang sudah tidak muda lagi, uthi Sumi sering mengeluh lututnya sakit dan ngilu, melarang nya untuk mengerjakan pekerjaan berat, memindahkan kamar yang awalnya di lantai dua, kini kamar tamu di sulapnya menjadi kamar Uthi Sumi agar tidak terlalu lelah.
Faro juga tidak kalah sibuknya, setiap mau berangkat sekolah, pulang sekolah mau tidur semua selalu menyempatkan diri menemui Uthi Sumi, Faro begitu sayang sama uthi Sumi yang sedari bayi merawatnya.
Beberapa hari terakhir ini uthi Sumi juga teringat kampung halaman, kangen dengan suasana desa, sering melamun memikirkan kampung halaman, saat santai Imma mendekati ibu angkatnya itu memijit kakinya dengan lembut.
"Ada apa uthi, kok sering melamun akhir akhir ini?" tanya Imma sendu.
"Uthi cuma kangen kampung umi, berapa tahun ya kita tidak pulang kampung?".
"Betul juga ya.. uthi lebih dari delapan tahun kalau tidak salah?".
Imma jadi terbawa suasana, sama sendunya dengan Uthi Sumi, membayangkan suasana desa yang sejuk karena pohon teh yang menghijau, suasana masyarakat yang ramah dan suara katak dan jangkrik pada malam hari setelah di guyur hujan.
Setelah sore Ken pulang kerja, membersihkan diri, menyiapkan ganti baju, duduk di ruang keluarga Imma menceritakan keadaan Uthi Sumi yang kangen kampung.
Ken mengerutkan keningnya berpikir sejenak, ada ide di benaknya untuk mengabulkan keinginan orang yang sudah di anggap orang tua nya sendiri itu.
"Honey liburan sekolah tahun ini rencananya akan di resmikan destinasi pariwisata alam nya, bagaimana kita semua menghadiri acara itu?" Kata Ken.
"Ide bagus itu Abi, kapan ya tepatnya?"
"Sekitar dua bulan lagi, honey... ".
__ADS_1
Sangking bahagianya Imma mencium pipi Ken lalu berlari ke kamar Uthi Sumi menceritakan tentang rencana dua bulan lagi akan berkunjung ke kampung halaman.