
Bayu bergabung dengan mereka setelah Ken dan Imma datang, tetapi karena ini membicarakan tentang bisnis Imma undur diri menuju rumah utama dan bergabung dengan Faro dan uthi Sumi di meja makan.
Para asisten mencatat semua kesepakatan yang sudah di rencanakan pembuatan destinasi pariwisata itu, baru Edi dan asisten nya di ajak berkeliling meninjau bagian bagian kafe.
Dari dapur basah, dapur kering, pantry, gudang penyimpanan bahan makanan, kantor dan bagian adminitrasi serta mes tempat para karyawan tinggal.
Edi Darmawan sangat mengagumi konsep kafe yang bertema keluarga kecil yang bahagia, interior design yang sederhana tetapi elegan, menonjolkan unsur tradisional menambah kenyamanan pengunjung semakin terasa.
Mereka duduk kembali setelah selesai berkeliling, menikmati hidangan menu andalan yang sudah di sediakan oleh kafe.
Edi Darmawan mengusulkan agar pihak PT WIGUNA GROUP meninjau lokasi yang akan di bangun bareng dengan mereka besok pagi sekalian mengundang mereka di acara ulang tahun perusahaan perkebunan teh.
"Sebaiknya berangkat bareng kami besok, sekalian kami mengundang acara ulang tahun perusahaan" kata Edi Darmawan.
"Bagaimana bos, tetapi besok bos ada meeting bersama investor dari Malaysia?" tanya Sandi.
Ken berpikir sejenak dan mengerutkan keningnya, Ken belum tega meninggalkan putri kecilnya.
"Kamu dan Bayu saja yang berangkat, sekalian menghadiri acara ulang tahun perusahaan perkebunan teh nya" jawab Ken tegas.
"Baik..." Sandi dan Bayu menjawab bersamaan.
"Kita berangkat dengan penerbangan pagi ya...." ajak asisten Budi.
Edi dan asisten nya berpamitan dengan mereka menjelang sore hari, sekalian pulang dan membuat jadwal keberangkatan besok Sandi mengantarkan mereka sampai di depan apartemen.
Turun dari mobil sandi Edi berjalan menuju lift apartemen sedangkan asisten Budi masuk ke supermarket yang ada di sebelah lift untuk membeli air mineral.
Saat baru mau masuk pintu supermarket Budi melihat sosok laki-laki yang berpakaian hitam berlari mendekati Edi dengan memegang senjata tajam badik berukuran kecil.
Budi berbalik badan mendekati sosok laki-laki itu dan mendekati Edi dengan cepat.
"Awas..... bos...yiaaat".
"Braaaaaagh".
Budi menahan badik kecil itu dengan siku berbalik badan menendang sosok laki-laki itu di bagian kaki sampai terjatuh.
"Aaaaaaagh".
Sosok laki-laki itu meringis kesakitan dengan memegangi kakinya, sedangkan badiknya terlempar ke lantai.
Budi adalah mantan atlit taekwondo nasional sehingga hanya sekali tendang kaki dari sosok laki-laki itu memar atau retak dan tidak bisa berdiri dari situ.
Seketika para sekuriti menangkap nya dan membawa nya di pos sekuriti apartemen dengan jalan terpincang-pincang.
__ADS_1
Tangan Budi berdarah terkena sabetan badik kecil itu dan di bawa ke klinik terdekat oleh salah satu sekuriti.
Edi meminta sekuriti itu untuk menghubungi polisi, dan mengikuti Budi yang mengalami luka di tangan nya.
Setelah mendapat penanganan medis Budi mengikuti Edi ke apartemen kembali, ternyata laki-laki yang menyerangnya tadi masih ada di pos sekuriti apartemen menunggu kedatangan polisi yang masih dalam perjalanan.
Edi mengamati dengan seksama sosok laki-laki itu dari rambut sampai ujung kaki, karena dia mengenali sosok laki-laki itu, dia yang selama ini me mata-matai nya.
Polisi datang membawa sosok laki-laki itu dan mengajak Edi dan asisten nya kekantor polisi untuk di mintai keterangan nya.
Budi menghubungi Sandi untuk meminta bantuan karena ini menyangkut pihak yang berwajib.
Sandi yang baru saja sampai di apartemen nya mendapatkan kabar dari Budi seketika memundurkan mobil nya kembali dan melaju membelah jalanan ibu kota menyusul Edi dan asisten nya.
Menemui Budi sesampainya di kantor polisi, dan menemui Edi yang sedang di mintai keterangan oleh polisi.
Edi memberikan keterangan jika laki-laki yang menyerangnya nya itu sering di di lihatnya di sekitar apartemen.
Sandi juga memberikan saksi bahwa korban adalah rekan bisnis yang baru dia temui tadi pagi.
Hampir menjelang senja mereka baru keluar dari kantor polisi, tetapi sebelum mereka keluar Budi mengambil foto tersangka yang telah menyerang nya itu.
Sandi mengantarkan mereka kembali ke apartemen nya, kemudian Sandi melajukan kembali mobil nya ke tempat Imma Kafe ingin melaporkan kejadian apa yang terjadi baru saja kepada Kenzie.
Sesampainya di parkiran Imma Kafe, Sandi berlari menuju rumah utama dan di sana Sandi bertemu dengan Uthi Sumi.
"Ada di atas, sebentar akan aku panggilkan, tunggu disini".
Uthi Sumi ke lantai atas menggunakan lift yang jarang di pakai, Ken mengajak seluruh keluarga untuk menggunakan tangga agar badan tetap sehat.
"Ada hal penting apa San, mengapa tidak telepon aja?" tanya Ken setelah turun dari lantai satu menemui Sandi.
"Maaf bos..... Ini darurat".
"Darurat bagaimana?".
Sandi menceritakan tentang kejadian penyerangan yang telah di alami oleh Edi Darmawan dan asisten Budi di lobi apartemen setelah meeting tadi sore.
"Tadi asisten Budi juga bercerita jika orang laki-laki itu sudah me mata-matai mereka sejak awal mereka tiba di apartemen itu".
"Apakah ini berkaitan dengan mafia itu San?"
"Coba hubungi asisten Anton dan bos besar aja bos" saran Sandi kemudian.
Ken kemudian menghubungi papi Bastian untuk membicarakan tentang masalah itu.
__ADS_1
"Papi kesana aja Ken dan akan menghubungi asisten Anton agar bisa menuju ke sana juga".
"Ya papi kami tunggu".
Papi Bastian menghubungi asisten Anton, mengajak nya ke rumah Ken sekarang juga.
"Darimana Sandi tahu jika itu berhubungan dengan mafia itu?" tanya Anton saat mereka sudah berkumpul di ruang tamu rumah Ken.
"Pak Edi sendiri tadi bercerita jika orang yang menyerangnya itu sudah mengawasi nya sejak dia tiba di apartemen" jelas Sandi.
"Ini foto nya orang yang menyerang mereka" kata Sandi sambil menunjukkan foto itu kepada mereka semua.
"Baiklah kirim ke WA ku, nanti aku yang menyelidiki nya" perintah asisten Anton.
Sandi mengirimkan pesan yang di minta asisten Anton kepada semua orang yang ada di pertemuan itu sekalian.
Sandi dan Anton pamit pulang setelah selesai membicarakan mereka, sedangkan papi Bastian menemui adik Fia dan mencium kening nya baru setelah itu juga menemui Faro yang sedang membaca buku cerita.
Ken menyusul papi Bastian dan berbincang dan bercanda sejenak di kamar Faro.
Setelah Papi Bastian pamit dan Faro mengantuk Ken mencium kening Faro serta membantu nya untuk tidur.
Ken kembali masuk kamar ternyata adik Fia juga sudah terlelap dalam mimpi indahnya, semakin bertambah umur Fia tidurnya pun semakin teratur.
"Sekarang baru Abi punya kesempatan berdua sama umi"
Ken mendekati Imma memeluknya dan mencium bibir nya dengan penuh gairah
"Abi.....dari tadi sore sudah berdua mau ngapain?"
"Mau minta bagian, dari tadi pagi hanya adik Fia yang mengambil kesukaan Abi, sekarang gantian dong".
Ken membuka dua kancing baju Imma baru memegang salah satu gunung kembar Imma.
"Honey.... kalau di lihat semakin hari semakin bertambah ukuran nya?".
"Ukuran apa sih Bi....?"
_________________________
Jangan lupa like vote dan komentar nya ya
Baca juga novel ku yang satu lagi ya kakak
"IKAT PINGGANG CINTA".
__ADS_1
tidak kalah seru lho......
terima kasih