
Dalam perjalanan Imma begitu gelisah, duduk pun beberapa kali menggeserkan tubuhnya ke kanan maupun kiri dengan gelisah.
"Honey... jangan khawatir Abang baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan putramu itu tenanglah" nasehat Ken sambil menggenggam erat tangannya.
"Tapi takut aja Bi, umi sudah menjaganya sedari baru lahir" kata Imma dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bukankah kita berdua yang menjaganya, jangan khawatir, tenangkan hati umi".
Imma tersenyum dan mengangguk setuju, memang selama ini Faro baik-baik saja dalam pengawasan dan lindungan keluarga kecilnya.
Tiba diparkiran rumah sakit Ken menggendong Fia dan menggandeng tangan Imma bergegas ke ruang UGD untuk menemui Akung Letnan dan Faro yang ada di depan pintu masuk UGD itu.
Faro langsung berlari melihat Abi dan uminya mendekatinya dengan cepat serta memeluknya erat erat.
"Abi....umi... Fia...peluk Abang" kata Faro sambil merentangkan kedua tangannya.
Berempat berpelukan dengan erat dan senyum yang sumringah, dengan protes Fia yang paling tergencet dalam pelukan itu.
"Bi...tadi yang namanya pak Andri itu darahnya banyak banget, Abang jadi sedikit takut" cerita Faro kepada Ken.
"Siapa namanya bang?" tanya Ken kaget karena nama itu tidak asing lagi di telinganya.
"Namanya Pak Andri Bi".
"Honey... tunggu sini sebentar jaga anak-anak, Abi mau bicara dengan Akung Letnan sebentar".
Ken berlari kecil menuju kearah Akung yang sedang berbincang dengan anggota polisi di depan pintu UGD, Ken menarik tangannya dengan cepat menjauhi anggota polisi itu.
"Om Agung siapa namanya yang di tolong Faro tadi?" tanya Ken penasaran.
"Ooooo....itu namanya Andri Pranoto warga Singapura katanya".
"Ohh..my God, mengapa dunia ini hanya selebar daun kelor sih" ucap Ken sambil menepuk dahinya berlahan.
"Ada apa Ken?, apa maksudmu?"
Akung Letnan yang tidak tahu siapa sebenarnya Andri Pranoto merasa heran dengan apa yang baru saja di ucapkan Ken.
"Nanti Papi akan menjelaskan semuanya, tunggu disini, aku pamit dulu, satu lagi Om, jangan sebut nama Faro jika nanti bertemu dengan Andri Pranoto ya" pinta Ken dan pamit meninggalkan tempat itu.
Ken kemudian menghubungi Papi Bastian dan Sandi untuk menemui Akung Letnan dan membereskan masalah yang terjadi barusan.
__ADS_1
Selesai menghubungi mereka berdua Ken mendekati istri dan anak-anaknya.
"Ayo.. kita pulang, eeeee tidak jadi, kita ke pasar malam aja, siapa yang mau?" tanya Ken kepada Faro dan Fia.
"Pasar malam, Abang mau...?".
"Fia mau juda.....mau....mau".
"Ok kita berangkat..".
Keluarga kecil itu dengan riang menuju pasar malam yang berada di samping pasar tradisional yang ada di pinggiran kota Jakarta.
Pertama yang di minta Faro dan Fia adalah naik bianglala yang berbeda di depan pintu pasar malam itu, Ken membelikan tiket masuk untuk berdua, sedangkan Ken dan Imma menunggu dengan duduk berdua di samping bianglala.
"Honey.... kenapa Faro seperti tidak ada beban begitu ya?, Padahal kita sudah takut setengah mati?" tanya Ken sambil memeluk Imma dengan mesra.
"Tepi sebaiknya kita bicara dengan Faro ya Bi, untuk tidak menceritakan kepada teman temannya, demi keselamatan semua" pinta Imma.
"Tentu.. honey nanti Abi saja yang memberikan pengertian dari hati ke hati".
"Apakah Akung Letnan tahu tentang Andri Pranoto, sayang?" tanya Imma penasaran.
"Tidak tenang aja, honey kita tambah satu lagi yok?" kata Ken mengalihkan pembicaraan agar Imma tidak terlalu khawatir.
"Honey..itu lo, Faro, Fia nah yang ketiga Kenzo" tatap Ken dengan mesra.
Setelah mendengar Ken tentang tambah satu anak Imma baru ingat seharusnya melakukan pemeriksaan KB IUD tiga hari setelah pulang dari kampung halaman.
"Bi, aduh gawat seharusnya tiga hari setelah kita pulang kampung umi melakukan suntik KB, sudah telat berapa hari, dan kita melakukannya berapa kali ya?"
Justru Ken tersenyum senang mendengar kata Imma yang lupa melakukan KB ulang, tetapi mengingat akhir akhir ini selama umi berkabung baru sekali minta jatah kepada istrinya itu.
"Waaah, kebetulan honey... jangan KB lagi, Abi kan baru sekali dapat jatahnya kemarin, Siapa tahu itu sudah tercetak Kenzo nya umi".
"Tidak bisa dong sayang kita harus konsultasi dulu dengan dokter" kata Imma proses.
Selesai turun dari naik bianglala Faro Fia menghampiri mereka dengan riang.
"Kita bahas lagi nanti Kenzo nya, umi tidak boleh menolak ya... Abi minta satu lagi".
Imma hanya terkekeh dengan permintaan suaminya itu, sedangkan Fia yang melihat anak kecil sedang memancing ikan-ikanan langsung menarik tangan uminya.
__ADS_1
"Umi Fia mau itu pancing ikan" kata Fia sambil menunjuk arena pancingan.
"Oya...sayang ayo, umi temani, Abang duduk sama Abi sebentar ya.. "
"Iya mi, Abang disini saja sama Abi".
Kesempatan berdua dengan Faro sambil memeluk dengan erat baru Ken mulai menanyakan tentang kejadian saat senja bersama Akung Letnan.
"Bang, coba ceritakan kejadian tadi saat Abang bertemu dengan pak Andri Pranoto?" perintah Ken.
Faro menceritakan dari awal sampai akhir tanda ada yang ditutup tutupi sedikitpun sampai selesai.
"Apakah Abang tahu maksud Akung Letnan agar tembakan yang Abang lakukan harus dirahasiakan?"
"Tidak Bi, Abang juga heran, apa maksudnya memangnya Bi?".
"Abang ingat Abi Dona?" tanya Ken lagi.
Faro menatap Ken dengan penasaran, Faro hanya mengingat nama abi kandungnya saja tentang cerita yang lain Faro tidak mengetahuinya sama sekali.
"Ya Abi Dona adalah Abi kandungnya Abang Faro, apa hubungannya Bi?"
"Nah, ayah kandung dari pak Andri Pranoto adalah saingan ayah kandung dari Abi Dona"
Faro tidak memahami apa yang dimaksud dalam perkataan Ken, sehingga Faro mengerutkan keningnya, berpikir dengan keras, tetapi tetap tidak faham.
"Kok Abang tidak faham maksudnya gimana sih Bi?".
Ken juga ikut berfikir ingin menjelaskan yang lebih sederhana agar lebih mudah untuk dipahami oleh Faro.
"Maksudnya begini lo bang, antara keluarga Abi Dona dan keluarga pak Andri Pranoto sering bertengkar, jadi jika keluarga Andri Pranoto mengetahui kalau Abang adalah putra dari Abi Dona pasti mereka akan mencari Abang dan umi" jelas Ken panjang lebar.
"Jadi bang, demi keselamatan umi dan keluarga kita, jangan Abang cerita kepada siapapun yang terjadi kemarin, Abang sayang umi kan?".
Faro hanya menganggukkan kepalanya, masih sedikit kurang faham mengapa harus bertengkar padahal sudah dewasa.
"Apakah orang dewasa kalau bertengkar menggunakan senjata betulan kah Bi, kok kemarin kaki pak Andri sampai berdarah begitu?".
"Tidak semua orang menggunakan senjata sih bang, ada orang tertentu saja, salah satu adalah keluarga Andri Pranoto".
"Baiklah Abi, Abang tidak akan bercerita tentang kejadian itu, demi umi dan demi keluarga kita".
__ADS_1
Ken memeluk Faro dengan hangat, mencium keningnya, tersenyum senang.
"Nanti jika Abang sudah besar akan Abi ceritakan tentang Abi Dona" janji Ken dan diikuti anggukkan kepala oleh Faro.