
"Mario... Mario...!" panggil Faro saat mereka bertemu di hari Sabtu untuk latihan karate.
"Ya Faro ada apa?" tanya Mario mendekati Faro dan duduk di samping sahabatnya itu.
"Nanti setelah aku khitan, baru setelahnya gantian kamu ya?" jawab Faro.
Mario sedikit kaget dengan perkataan Faro, karena baru kemarin ayahnya mengatakan jika dia tidak bisa melakukan khitan karena uangnya di gunakan untuk berobat neneknya
"Tidak bisa Faro, ayahku tidak punya uang untuk membayar dokter untuk khitan" celoteh Mario dengan sendu dan sedikit menunduk.
"Tenang Mario, setelah selesai aku khitan dan mendapatkan amplop yang banyak aku sendiri yang akan membayar untuk khitanmu".
Mario sangat bahagia mendengar ucapan Faro, langsung memeluknya dengan erat dengan mata berbinar.
"Terima kasih, nanti aku bilang sama ayah dan nenekku pasti mereka akan senang".
Acara khitanan Faro tinggal satu Minggu lagi, hari ini Faro selesai ulangan akhir semester, dalam satu Minggu ini hanya di isi dengan kegiatan ekstrakurikuler sambil menunggu penerimaan raport semester akhir dan kenaikan kelas enam.
Acara syukuran khitanan Faro akan di adakan hari Sabtu, besok akan mengundang teman sekolah, teman Karate dan guru serta staf sekolah SD negeri dimana Faro menuntut ilmu.
Ken juga mengundang anak-anak yatim-piatu yang selama ini sering keluarga Bastian Wiguna bantu sejak Ken dan Kemmy belum berkeluarga.
Acara khitanan juga mengundang saudara, teman dekat, relasi bisnis yang ada di daerah Jakarta dan tetangga dekat saja.
Hari Kamis sore keluarga Tomy Sanjaya lengkap beserta kedua asisten datang ke Jakarta karena tidak ingin tertinggal moment saat Faro di khitan hari Jum'at setelah sholat Jum'at besok.
Jum'at pagi Ken dan Faro mengambil rapot ke sekolah tidak di temani oleh Imma karena akan kedatangan tamu keluarga besar Tomy Sanjaya, di sekolah nilai Faro seperti biasa juara satu yang membuat bangga seluruh keluarga.
Setelah selesai sholat Jum'at semua sudah berkumpul termasuk dokter untuk memulai khitan yang akan di laksanakan di kamar Faro sendiri, Faro di dampingi oleh teman akrabnya dari TK Rendi serta teman karatenya Mario.
Sedangkan di dapur Uthi Marni membuat tumpeng dan bubur merah putih di bantu oleh Mama Nadia, Dini dan Ameera, tumpeng ini adalah pesan Uthi Sumi saat belum meninggal berpesan jika Faro nanti khitan harus di buatkan tumpeng dan bubur merah putih.
Hanya dalam setengah jam dokter selesai, baru berkumpul memanjatkan doa kepada Tuhan yang maha kuasa atas berkah yang telah di berikan.
__ADS_1
Selesai berdoa semua menikmati hidangan nasi tumpeng dengan bahagia, sedangkan syukuran khitanan akan di laksanakan hari Minggu besok.
Selesai menikmati hidangan Faro digendong oleh Ken kedalam kamar kembali setelah tadi mengikuti doa di lantai bawah di temani oleh kedua temannya.
"Faro, bagaimana sakit tidak?" tanya Rendi dengan penasaran, karena dia belum berani di khitan.
"Cuma sedikit aja Ren sakitnya, saat awal mulai mau di khitan, tetapi sekarang tidak merasakan sakit tuh" cerita Faro.
"Itu kenapa kok ****** ******** terlihat gede begitu?" gantian Mario heran melihat Faro menggunakan sarung tetapi terlihat agak mengembung sarungnya.
"Ini namanya celana sunat Mario, jadi sengaja di buat agak mengembang biar tidak menyenggol ujung burungnya takutnya nanti sakit mau lihat... nich" jawab Faro terus terang.
Tanpa malu-malu Faro menunjukkan kepada kedua sahabatnya itu ****** ***** khusus khitan kepada kedua temannya, Rendi dan Mario hanya membulatkan matanya melihat celana yang sedikit mengembung di tengahnya.
Apalagi Rendi jadi membayangkan popok adik bayinya yang terisi penuh saat bangun tidur cuma dia lebih besar lagi dari popok bayi itu.
"Faro kok seperti memakai pampers adik bayi ya?" tanya Rendi sambil tertawa diikuti oleh Mario.
Sore hari saat teman dan sebagian keluarga pulang Faro di temani oleh Ken dan Tomy Sanjaya yang setia mendampinginya.
Tiga jam setelah di khitan baru terasa nyeri dirasakan oleh Faro karena obat bius sedikit demi sedikit hilang.
Sesekali rasanya menegang dan kencang muncul tanpa bisa di kendalikan burung Faro sehingga membuat Faro meringis menahan rasa sakit.
"Bi...Abi...aduh...kok jadi besar begini dan menegang Sebelumnya Abang tidak pernah merasakan seperti ini" rintih Faro dengan sedikit meringis.
"Itu namanya dia lagi bangun Bang, coba sini abi ajarin biar dia tidak memegang" jawab Ken sambil menggelitiki telapak kaki paro perlahan.
Faro tertawa geli dan menggoyangkan kedua kakinya, tetapi terapi abi betul juga berangsur-angsur dia tertidur dan tidak menegang lagi.
"Bi...sudah, sudah kecil lagi burungnya, jangan di gelitiki lagi Abang geli" pinta Faro sambil tertawa riang.
Tomy ikut terkekeh melihat keakraban antara abi dan putranya itu terpampang nyata di depan matanya.
__ADS_1
"Apakah masih nyeri Bang,?" tanya Tomy Sanjaya khawatir.
"Tidak Opa, sudah lumayan tidak usah khawatir, apakah bisa Abi dan Opa temani tidur malam ini?" Pinta Faro dengan mata yang sendu.
"Siap...." Jawab Ken dan Tomy bersamaan.
Sedangkan Imma hanya bolak-balik mengecek Faro, takut dia akan merasa kesakitan sedangkan yang di khawatirkan malah cerita dengan riang bersama Abi dan opanya.
Pada malam harinya keluarga Tomy Sanjaya pulang ke apartemen mereka kecuali Tomy Sanjaya karena permintaan Faro untuk menemaninya tidur malam ini bersama Ken dan di tambah satu orang lagi yaitu Akung Papi kesayangan Faro.
Di bawah tempat tidur Faro menggelar karpet dan dua kasur lipat cukup untuk mereka bertiga menemani Faro Sampai pagi hari.
Kebahagiaan Tomy Sanjaya tidak bisa di sembunyikan bisa sedekat ini dengan cucu laki-laki, dia sudah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Menjelang tengah malam mereka sudah terlelap dalam mimpi indahnya, kecuali Tomy Sanjaya, karena begitu bahagia justru tidak bisa membuat matanya terpejam hanya sesekali memandangi wajah Faro yang tertidur pulas.
Sambil duduk di samping tempat tidur itu Tomy memandangi lekat-lekat wajah Faro yang memang mirip Dona Sanjaya saat masih seumuran Faro, dari hidung, alis dan rambutnya yang lebat.
Terkadang Tomy mengusap rambutnya, tanpa terasa air matanya mengalir tanpa bisa di cegahnya, air mata kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Hampir pukul dua malam mata Tomy Sanjaya tetap tidak bisa di pejamkan sedikitpun, saat Faro mulai merasakan memegang lagi, sedikit merintih bergegas Tomy mendekati Faro.
"Apa yang sakit bang?" tanya Tomy Sanjaya khawatir.
"Opa....kok belum tidur?, tolong gelitiki kaki Abang Opa bangun lagi dia .. aduh sakit" Faro merintih lirih.
Tomy menggelitiki telapak kaki Faro perlahan, ada rasa geli tetapi dengan di gelitiki itu dia akan kembali rileks dan tertidur kembali, terapi yang aneh.
"Sudah bang?" tanya Tomy dengan terkekeh melihat Faro menggerakkan kakinya karena geli.
"Iya sudah Opa, masih malam ayo kita tidur lagi" ajak Faro sedang sedikit berbisik saat melihat Abi dan Akung Papi tertidur pulas.
Tomy Sanjaya mengangguk dan merebahkan tubuhnya tidur di samping Papi Bastian dan mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat.
__ADS_1