
Ken di kantor sedang menyeleksi pelamar yang datang hari ini, tetapi ada satu yamg jadi perhatian Ken karena ada rekomendasi dari istrinya yaitu suami dari teman Imma yaitu Marisa.
Pelamar memang tidak banyak karena informasi tidak disebarkan luaskan hanya lingkungan perusahaan saja yang tahu, tetapi Ken masih tertuju pada surat lamaran yang dipegangnya yaitu Heri Pranoto.
Ken menghubungi Papi Bastian, Anton Sahroni dan Sandi untuk meminta pertimbangan mengenai lamaran dari suami sahabat Imma itu ditambah Rama yang mulai hari ini masuk kantor mendampingi ayahnya sendiri sebagai wakil asisten Anton untuk sementara.
Di ruang meeting mereka berlima duduk berhadapan membicarakan tentang
"Lebih baik dia saja yang kita tarik bos, sepertinya cocok jika sebagai wakil Rama" usul Sandi.
"Bisa kita cari informasi tentang Baron Pranoto, sekalian menyelam minum air" sahut asisten Anton.
"Bagaimana dengan pendidikannya, apakah dia mampu?" jawab papi Bastian.
"Jika dilihat dari latar belakang pendidikan sepertinya dia yang paling cocok menduduki posisi sebagai asisten Rama nantinya" jawab Ken.
Ken membolak balikkan surat lamaran itu, membaca dan meneliti, akhirnya semua Setuju jika Heri Pranoto lah yang akan di terima dan menempati posisi sebagai pengganti Sandi nantinya, tetapi harus dengan masa percobaan atau training selama tiga bulan.
Hari ini adalah jadwal Faro belajar menembak dengan airsoft gun yang dibimbing oleh Akung Letnan sendiri di klub menembak yang dibawahi langsung oleh persatuan menembak yang dikelola oleh pemerintah.
Setiap satu Minggu sekali pada hari Jum'at sore dijemput langsung oleh Akung Letnan dan pulang pun diantar juga olehnya pula.
"Umi, Abang berangkat, Akung Letnan sudah datang, salim" pamit Faro sambil mencium punggung tangan umi kesayangannya itu.
"Ya.. hati-hati bang, belajar yang tekun, ingat patuhi Akung Letnan ok!" Jawab Imma, disertai anggukan kepala oleh Faro.
Faro belajar menembak dibimbing oleh Akung Letnan dan dua pelatih yang berasal dari mantan anak buah Akung Letnan saat sebelum pensiun dari angkatan bersenjata saat menjadi pimpinan mereka.
Selama satu jam Faro ada di tempat itu untuk berlatih, setelah selesai ikut Akung Letnan menjemput putranya yang seorang anggota kepolisian di pinggiran kota, Akung Letnan sudah menghubungi Ken minta ijin jika Faro akan pulang terlambat.
Menjelang senja mobil Akung Letnan memasuki daerah sepi yaitu daerah semak dan ilalang yang lumayan tinggi, dan sayangnya ban mobil Akung Letnan kempes tidak cuma satu tetapi dua ban belakang.
Padahal perjalanan masih membutuhkan setengah jam lagi sampai tempat tugas putranya Akung Letnan untuk tiba disana.
__ADS_1
Dari kejauhan ada suara tembakan dan suara langkah kaki yang menginjak semak dan ilalang, Akung Letnan langsung menarik tangan Faro ke balik pohon dan ilalang yang lumayan lebat.
Tiba tiba ada seorang laki-laki yang memegang kakinya yang tertembak peluru menabrak Akung Letnan dari samping, laki-laki sendiri dan meringis menahan sakit.
"Bruuuuk..aduh...maaf pak, maaf" kata laki-laki itu.
Akung Letnan melihat darah yang keluar lumayan banyak dari kaki laki-laki itu melepaskan ikat pinggang dan mengikatkan di kaki itu untuk menghentikan darahnya keluar.
"Ada berapa orang yang mengejar anda?" tanya Akung Letnan kepada laki-laki itu.
Faro yang sedari tadi memperhatikan gerakan orang berjalan perlahan dengan mendengar suara semak dan ilalang bergerak langsung menjawab pertanyaan Akung Letnan.
"Ada tiga orang kung" jawab Faro mantap dan diikuti anggukkan kepala laki-laki yang terluka itu.
"Kamu melihatnya nak?" tanya Akung Letnan, dan Faro menganggukkan kepalanya saja.
"Aku tidak bisa melihatnya karena jarak terlalu jauh, coba kamu bidik kakinya satu persatu, kamu bisa?".
"Tapi kung, aku...aku..." jawab Faro takut.
Akhirnya pistol itu di pegang gagangnya oleh Faro tetapi tangan Akung Letnan diatas tangan Faro.
"Dor....dor... dor...".
"Aaah......aaaagh........aduuuh".
Ketiga laki-laki yang ada di semak dan ilalang itu tumbang tepat sasaran tembakan Faro di kali bagian bawah.
Laki-laki yang terluka yang ada disamping Akung Letnan membelalakkan matanya melihat keahlian Faro menembak padahal jarak antara mereka dengan sasaran lumayan jauh sekitar lima meter dari tempat mereka bersembunyi dan waktu senja mulai tiba sehingga tidak begitu jelas pandangan mata memandang daerah sekitar.
Sebelum Akung Letnan menghubungi putranya tentang kejadian itu, beliau berbincang sebentar dengan laki-laki yang terluka itu.
"Siapa nama dan dari mana anda berasal?" tanya Akung Letnan sambil menggeser handphone untuk menghubungi putranya.
__ADS_1
"Saya Andri Pranoto warga negara Singapura pak" jawabnya lirih.
"Saya Purnawirawan Letnan Agung Darsono, bisa minta tolong pak, jika nanti bertemu pihak kepolisian bisakah anda merahasiakan jika yang melumpuhkan tiga orang itu bukan cucuku melainkan aku sendiri, ini demi keselamatan cucuku".
"Memangnya kenapa pak?".
Tidak apa-apa, hanya hanya ingin melindungi cucuku karena dia masih kecil, faham maksud saya?".
"Baik saya berjanji, tidak masalah, karena dia sudah menyelamatkan nyawa saya pak, terima kasih".
Menghubungi putranya tidak ada jawaban, baru mau diulangi lagi ada suara handphone berdering dan langsung di geser simbol telepon warna hijau itu oleh Akung Letnan.
"Halo pa, sudah sampai mana?" Jawab dari putra Akung Letnan.
"Cepat bawa kesini pasukanmu, ada insiden penembakan disini, aku share lokasi sekarang" perintah Akung Letnan.
Sedangkan Faro sudah keluar keringat dingin di sekujur tubuhnya, sedikit takut karena Faro menggunakan pestol asli dan melukai orang dan melihat darah yang banyak dari kaki laki-laki yang terluka ada di sebelahnya.
"Bang tenang tidak terjadi apa-apa, disini sebentar Akung periksa tiga orang yang terluka di semak dan ilalang"
"Kung.... Abang takut" kata Faro memegang tangan Akung Letnan.
"Tidak apa-apa nak, sini sama bapak" kata Andri lemah.
Faro akhirnya duduk disamping Andri dengan sedikit takut, sedangkan Akung letnan mendekati orang yang sudah terluka karena timah panas yang bersarang di betis bagian bawah.
Bersamaan dengan datangnya suara sirine polisi yang mendatangi mereka yang dipimpin oleh putra Akung Letnan sendiri.
Keempat laki-laki yang semua tertembak peluru dikakinya itu dibawa oleh pihak kepolisian ke rumah sakit terdekat untuk mengeluarkan pelurunya.
Sedangkan Faro dan Akung Letnan terpaksa ikut mereka ke rumah sakit terdekat, karena mobil yang dikendarai olehnya pecah ban.
Dengan terpaksa Akung Letnan menghubungi Ken untuk menjemputnya di rumah sakit, dan menceritakan situasi yang telah terjadi baru saja, dan tidak menutupi sedikitpun termasuk Faro yang membidik ketiga laki-laki yang terluka itu.
__ADS_1
Ken juga menceritakan kepada Imma setelah mendapat telepon Akung Letnan, sehingga mereka bergegas ke rumah sakit dengan terpaksa mengajak Fia juga, si gadis kecil itu tidak mau ditinggal uminya.