
Ken pulang pada pukul lima sore, Faro yang sudah rapi selesai mandi langsung menyambut Ken dan meminjam handphone nya ingin melihat kembali vedio yang di tunjukkan Sandi tadi lagi.
Letnan Agung yang dari tadi sedang mengobrol bersama Akung Karno dan Sekuriti Samsul seketika memandangi arah dimana Faro berlari mendekati nya.
"Kung.....ini vedio nya.....Faro mau lihat yang seperti ini tapi secara langsung".
Mereka bertiga dengan seksama memperhatikan vedio itu tanpa berkedip sedikit pun, di ulangnya berkali kali oleh Faro vedio itu tanpa bosan. Bertiga sampai menggelengkan kepalanya melihat Faro yang begitu antusias.
Selesai membersihkan badannya Ken bergabung dengan mereka dan bercengkerama dengan akrabnya.
Ken meminta pendapat kepada letnan Agung tentang Faro yang merengek ingin melihat berbagai jenis senjata otomatis yang baru dia lihat melalui vedio itu.
"Ada dua tempat Ken untuk menunjukkan rasa penasaran Faro" kata letnan Agung.
"Di mana Om?".
"Di museum senjata dan tempat permainan paintball".
"Ide bagus itu, bisa luangkan waktu Om kita ke sana bareng bareng".
"Bisa di atur itu...... kapan?".
"Hari libur saja..... nanti aku bicarakan dulu dengan uminya Faro".
Pada malam hari setelah Faro mengerjakan tugas sekolah nya, masuk kamar adik Fia bermain sebentar dengannya disana, pipinya yang merah merona dan bulu matanya yang lentik tidak henti hentinya Faro menciumi adik kecil nya itu dengan gemas, terkadang sampai adiknya menangis karena ulah abangnya yang jahil.
Faro hanya terkekeh jika adiknya menangis karena di jahili dan mengajaknya berbincang dengan menirukan anak kecil.
"Cayang.......cayang nya Abang pintar cup....cup...cup".
Adik Fia tertawa terkekeh mendengar celotehan abangnya yang berbicara sambil mengangguk-angguk kan kepalanya.
Imma tersenyum melihat Faro pandai menggoda adiknya, membuat keduanya selalu bahagia bila bersama bercanda ria dengan hangat.
Ken datang dari lantai bawah bergabung dengan mereka di kamar adik Fia.
"Waaah.....ini anak-anak Abi kok belum ada yang bobok sudah malam, besok sekolah lo bang"
"Ya Bi...... sebentar lagi..... masih main sama adik Fia"
__ADS_1
Ken duduk di samping Imma merangkul pinggang nya dengan mesra.
"Bi.......dimana bisa lihat senjata senjata seperti yang di vedio itu?" tanya Faro sambil masih bermain dengan adik Fia.
"Ada sayang.... nanti kalau libur kita bisa kesana kita bisa mengajak Akung Letnan" ucap Ken sambil tersenyum.
"Iya Faro mau.... tempat nya namanya apa Bi?".
"Namanya Museum Satria Mandala, disana banyak sekali macam macam senjata".
"Janji ya Bi, kita kesana, kapan Bi?"
"Sabar sayang kita cari hari libur dan Akung Letnan bisa antar kita".
Faro berjingkrak kegirangan mendengar ucapan abinya, sudah tidak sabar ingin ke museum senjata Satria Mandala, mencium adik Fia dan berlari ke kamar untuk tidur malam dengan hati yang bahagia.
Hari Minggu besok rencananya Ken mengajak bapak bapak untuk mengantar Faro ke museum senjata dan bermain paintball bersama.
"Berarti ibu-ibunya tidak diajak nich?" tanya Imma.
"Bermain paintball kebanyakan laki-laki honey....anggap saja hari nya para lelaki".
"Anggap saja seperti itu .... honey" jawab Ken.
Hari Minggu pagi Faro sudah bersiap untuk wisata ke museum senjata Satria Mandala bersama para lelaki yang di bilangnya "hari lelaki" untuk mereka sendiri.
Yang ikut kesana diantaranya adalah Ken, Sandi, Bayu, Papi Bastian, Anton, Rama, Akung letnan, Akung Karno, Samsul dan Faro, dengan menggunakan dua mobil yang satu Sandi yang mengemudikan nya, serta satu lagi Bayu yang menyetir nya.
Museum Satria Mandala terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto no.14, Jakarta Selatan, gedung museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno istri Bung Karno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Di museum ini tersimpan berbagai benda sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tahun 1945 sampai sekarang, seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser.
Faro membaca nama nama senjata berat maupun ringan dengan seksama, jika kurang begitu jelas sesekali dia bertanya kepada Akung Letnan, dan di jawab oleh akung Letnan dengan gamblang, sehingga mudah di mengerti oleh Faro.
Sepertinya yang antusias hanya Faro saja, yang lainnya melihat dengan biasa saja, berlari kesana-kemari melihat berbagai macam jenis senjata api baik yang otomatis ataupun manual.
Melihat kendaraan tank dan panser Faro bercita cita ingin membeli mobil seperti itu untuk pergi ke sekolah.
"Boleh kah nanti kalau sekolah naik mobil tank seperti itu, Faro ingin membeli tank itu jika sudah besar?" celoteh Faro.
__ADS_1
"Tidak boleh dong Faro ke sekolah naik mobil tank" celetuk Sandi.
Faro hanya nyengir kuda saja dengan protes Sandi, kemudian mereka berpindah ke ruang yang menyimpan jenis pesawat.
Berbagai jenis pesawat terbang peninggalan masa lalu. Satu diantaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto serta tandu yang dipergunakan Panglima Besar Jenderal Sudriman saat bergerilya melawan penjajah.
"Abi...... kapan Faro ikut Abi bisa naik pesawat seperti itu" tanya Faro.
"Kapan ya.... Abi belum tahu juga sih,... nanti kalau Faro sudah besar mungkin" jawab Ken sekenanya.
Mereka memasuki ruangan lainnya yaitu diorama yang menggambarkan tentara yang sedang bertempur.
Diorama yang menggambarkan peranan TNI dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Satu diantaranya adalah diorama yang menggambarkan tentang Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945.
"Bi ..... Faro mau perang perangan seperti itu, kayaknya asyik" pinta Faro melihat diorama itu.
"Ya.....sabar dong bang...... semua pingin... Abi jadi bungung".
"He......he...he.., bagus semua sih Bi".
Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Gedung Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi.
Sampai di diorama saparatis DI/TII baru terasa kaki Faro pegal-pegal, sudah berlari ke sana kemari dengan lincahnya.
"Capek banget Faro...... Bi, istirahat dulu sebentar ya".
"Faro mau minum?" tanya Bayu.
"Ya..... boleh...." jawab Faro singkat.
"Nich.... punya Om Bayu" kata Bayu sambil menyodorkan air mineral.
"Baiklah...ayo kita duduk dulu sebentar". ucap Ken.
Saat duduk duduk di teras museum itu Papi Bastian mengusulkan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan selanjutnya.
Mereka memutuskan untuk makan siang dengan menu ayam bakar dan ikan bakar yang berada si area museum senjata Satria Mandala.
Faro meminta ayam bakar dan sayur soup, dengan lahap dia memakannya sepertinya karena terlalu bersemangat sangat menguras tenaga Faro sehingga makan dengan lahapnya.
__ADS_1
Makan siang selesai semua rombongan akan melanjutkan lagi perjalanan wisata nya di tempat yang kedua yaitu permainan paintball yang berada di Eco Park Paintball Ancol Jakarta.