Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 58 Saling Memijat


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, sudah hampir satu semester Faro sekolah, kecerdasan nya memang tidak bisa di anggap remeh, semua yang diajarkan langsung masuk otaknya dan tersimpan rapi.


Umur Faro juga hampir lima tahun, dia sudah pandai membaca dan menulis, di bandingkan dengan teman teman sekelas nya Faro lah yang paling menonjol.


Setiap malam Faro lebih suka belajar dengan Ken, mungkin karena sesama lelaki lebih mudah mencerna pelajaran yang di ajarkan Faro.


Faro terkadang masih teringat dengan adik bayi yang terbuat dari adonan tepung terigu, masih sering menanyakan tentang adik bayi nya kapan jadi.


"Umi... Abi, kapan sih perutnya besal, lama sekali, Palo mau adik bayi pipi tembem kayak adiknya Lendy".


"Abi juga mau ganteng.... Adik pipi tembem, tapi susah buat adonan nya sabar yaaa".


Imma hanya tersenyum mendengar pembicaraan antara Abi dan Faro, saat memandang Fatia dan saling menatap bola mata itu Ken mengedipkan matanya dan berbisik di telinganya.


"Umi .... Mau berapa kali membuat adonan setiap harinya biar harapan Faro terkabul?".


"Memang membuat kue, pakai adonan segala?"


Dua bulan lagi Faro ulang tahun yang ke lima, setiap hari Ken membahas masalah ulang tahun Faro, takut depresi Imma akan muncul lagi.


Selama Faro sekolah teman Faro sering merayakan ulang tahun di sekolah, Faro juga sering cerita tentang teman teman nya yang ulang tahun.


Faro juga ingin di rayakan ulang tahun nya untuk tahun ini di sekolah ataupun di rumah, karena dia belum pernah mengalami nya selama ini.


Memang selama ini Faro tidak pernah di perkenalkan tentang ulang tahun, setelah teman teman nya merayakan nya Faro juga ingin merayakan nya.


Imma juga sudah setuju tahun ini akan mengadakan acara ulang tahun Faro yang ke lima di sekolah TK nya, masih ada dua bulan lagi untuk persiapan.


Pagi ini Imma bangun tidur terasa pusing, berkunang-kunang, rasanya mual, Tetapi anehnya Ken juga mengalami hal yang sama, kepala pusing, rasa mual, bangun tidur berdua langsung ke kamar mandi berdua dan muntah juga berdua.


Jadi nya saling memijat tengkuk, Ken memijat tengkuk Imma sambil muntah dan Imma memijat tengkuk Ken sambil muntah juga.


Sampai pahit tenggorokan mereka berdua baru berhenti, Imma langsung terduduk di kamar mandi itu.


"Honey.... Honey... bisa bangun tidak, ayo Abi gendong ya".


"Abi juga lemas, tidak usah kita jalan saja ya".


"Tidak usah, Abi kuat kok".


Ken langsung menggendong Imma dan membawa nya ke tempat tidur.


"Honey disini dulu ya Abi mau panggil uthi Sumi sebentar"


Ken tidak memperdulikan keadaan nya sendiri, walaupun pusing dan mual, Tetap berlari ke lantai bawah mencari uthi Sumi yang datang memasak di dapur.


"Uthi Sumi ..... Uthi dimana.., itu umi muntah muntah, huek....huek...huek"


Ken langsung ke wastafel samping dapur dan muntah muntah lagi di sana.

__ADS_1


"Uthi... cepat tidak usah memperdulikan Abi, pasti umi juga sedang muntah karena tadi muntah nya barengan, huek....huek".


Uthi Sumi langsung berlari menuju kamar Imma dan mendapatkan Imma juga sedang duduk jongkok muntah di kamar mandi.


"Huek.....huek...huek".


"Umi.... Umi.... Ayo berbaring ke tempat tidur ya".


Sebelum Imma berdiri, Ken sudah berada di belakang uthi Sumi.


"Uthi....sini biar Abi yang menggendong umi, kasihan sampai lemas dia"


"Abi juga terlihat pucat, sebentar uthi buatkan teh hangat dulu".


Uthi Sumi kembali turun ke lantai bawah dan berlari kecil menuju dapur, membuat teh hangat untuk berdua, dan kembali ke kamar mereka.


"Ini minum teh nya dulu, biar perutnya hangat dan tenggorokan nya tidak terasa pahit".


Ken langsung membantu Imma untuk duduk dan memberi teh hangat itu pelan pelan


"Bagaimana honey... Sudah baikan sekarang?".


"Iya.... Abi bagaimana sudah baikan juga".


Ken tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dan memeluk Imma dengan erat.


"Umi.... Kemarin makan apa berdua kenapa bisa masuk angin barengan begitu?"


"Bagaimana dengan Faro uthi, bagaimana dengan dia?".


Imma langsung mau berdiri, mengkhawatirkan Faro dan ingin melihat nya di kamar.


"Faro masih tidur honey.... Ini kan hari Minggu, biarkan saja tidak usah di bangun kan"


Ken langsung merangkul pinggang Imma agar tidak beranjak dari tempat tidur dan tetap istirahat.


"Uthi buatkan bubur saja ya untuk sarapan nya, kalian istirahat saja"


"Terima kasih banyak uthi, maaf merepotkan".


Imma membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lagi, Ken ingin membaringkan tubuhnya nya juga, Tetapi tiba tiba ada suara dering handphone nya, ternyata mami Winda yang menelpon.


Mami Winda menanyakan rencana Ken akan berkunjung ke rumah jam berapa, Ken memang rutin berkunjung ke rumah dengan mengajak keluarga kecilnya.


"Hari ini tidak jadi Mami, Abi sama Umi lagi tidak enak badan nich, tadi pagi muntah berdua".


"Ya sudah... Kita saja yang kesana, mau di bawakan apa?".


"Mami masak apa hari ini?".

__ADS_1


"Masak soto maukah?".


"Boleh Mi, untuk makan siang nanti, ini sekarang lagi di buatkan bubur sama uthi Sumi".


Ken menutup handphone nya setelah selesai dan meletakkan di atas nakas.


"Tok....tok....tok,..


Ada suara ketukan pintu, ternyata Uthi Sumi datang membawa bubur hangat untuk sarapan mereka berdua.


"Ayo sarapan dulu, habis itu nanti baru minum obat".


"Terima kasih uthi, maaf tidak bisa membantu buat sarapan".


uthi Sumi keluar kamar, menutup pintu kamar itu, Ken mengajak Imma untuk bangun dan duduk.


"Sarapan dulu honey....Abi suapin"


"Abi sarapan juga"


Kedua nya sarapan dengan lahap satu piring berdua, minum obat dan istirahat sebentar.


Satu jam kemudian mami Winda datang bersama papi Bastian, membawakan soto pesanan ke.


"tok.....tok....tok.."


Apa kalian sudah baikan?"


"Sudah mi, mana bilang mami bawa soto?"


"Ada di meja makan, katanya buat makan siang"


Mami Winda langsung mengecek suhu tubuh Imma, ternyata sudah normal suhunya, dan berbincang sebentar sementara Ken turun ke lantai bawah untuk mengecek soto yang di bawa mami Winda tadi.


"Sepertinya enak, coba dulu ah"


"Bi.... mau sarapan lagi, sebentar uthi siapkan" kata uthi Sumi yang melihat Ken sedang membuka soto di meja makan"


"Eeee...uthi... maaf, air liur Abi mau ngetes sepertinya enak".


Uthi Sumi tersenyum melihat Ken begitu antusias melihat soto yang mengepulkan asap pada kuah nya.


Ken mengambil satu porsi soto itu dan membawa nya ke atas dengan hati yang berbinar.


"Honey.....mau soto kah?, sepertinya enak banget, air liur Abi hampir menetes, emang top markotop masakan mami".


"Mau Bi, baunya lezat banget".


Mami Winda melihat keduanya sangat heran, karena Mami Winda tahu betul selama ini Ken tidak begitu menyukai soto ayam,

__ADS_1


Mami Winda melamun apa yang terjadi pada anak dan menantunya itu, terasa ada yang ganjil.


__ADS_2