Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 151 Amanah Anton


__ADS_3

Hampir berjalan satu tahun ini, Faro sudah mulai bersikap wajar seperti sedia kala, masih rutin berlatih karate dan menembak, keluarga Tomy Sanjaya juga sudah lebih leluasa mengunjungi Faro tanpa merasa takut.


Ken juga mendengar kabar jika Baron Pranoto sudah mundur dari jabatannya sebagai ketua mafia terbesar di Asia tenggara, Andri Pranoto juga sudah mendirikan perusahaan di Indonesia tepatnya di Tangerang dan membeli rumah di Tangerang juga.


Tetapi Ken juga mendapatkan kabar dari Tomy Sanjaya bahwa Theo Thanapon masih menyelidiki kematian anak angkatnya itu sampai sekarang.


Hari ini Ken mendapat kabar jika Anton masuk rumah sakit karena penyakit diabetes yang di deritanya, sudah hampir satu Minggu di rawat disana.


Saat Rama dan Kemmy mengunjungi Anton dengan membawa putri kecilnya yang berumur satu tahun bernama Ratih Eka Sahroni sore ini.


"Nak bisakah aku minta tolong?" kata Anton lemah.


"Iya ayah apa yang bisa kami lakukan?" jawab Rama dengan khawatir.


"Tolong panggilkan Ken dan Tomy Sanjaya secepatnya, aku ingin bicara dengan mereka!" titah Anton lagi.


"Baik ayah, nanti Kemmy saja yang menghubungi kakak" jawab Kemmy dengan lembut.


Kemmy langsung menghubungi kakaknya menyampaikan pesan ayah mertuanya itu jika ingin bertemu dengannya, dan Rama menghubungi asistennya Heri dan asisten Sandi untuk bisa menghubungi Tomy Sanjaya yang saat ini berada di perkebunan.


Setelah mendapat kabar dari Jakarta tentang kesehatan Anton, Tomy Sanjaya dan Hendra langsung terbang dengan pesawat komersil saat itu juga, Ken yang mendapatkan kabar jika Tomy Sanjaya berangkat saat itu juga sehingga Ken menunggu mereka datang dan akan bersama-sama mengunjungi Anton.


Menjelang senja Tomy Sanjaya dan Hendra tiba di rumah Ken, membersihkan diri bercengkerama dengan Faro sejenak baru berangkat ke rumah sakit untuk bertemu dengan Anton.


"Anton bagaimana kesehatan mu?" tanya Tomy Sanjaya saat mereka tiba di ruang rawat inap rumah sakit.


"Baik bos silahkan duduk" jawab Anton lemah.


Intan Ariyani dan Rama sengaja keluar dari ruang rawat inap itu saat Ken dan Tomy Sanjaya tiba disana, sengaja memberikan kesempatan untuk lebih leluasa berbicara dengan tenang, ibu dan anak itu memilih ke kantin untuk minum kopi sejenak.


"Aku ingin menyampaikan satu amanah bos Dona yang belum sempat aku laksanakan" kata Anton lirih.


"Kenapa kamu ngomong begitu umurmu masih panjang, kita laksanakan amanah itu bersama sama, betulkan Ken?" jawab Tomy sedikit khawatir dan diikuti Ken yang hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Tidak bos, aku merasa tidak punya waktu lama, makanya aku ingin menyampaikan amanah itu pada bos berdua"


Tomy Sanjaya dan Ken saling pandang dan mengangkat bahunya, menggeser kursi mendekati brankar tempat tidur Anton.


"Bos Dona memberiku amanah, pertama aku harus melindungi Faro hanya dalam diam, itu sudah aku laksanakan ada satu lagi yang belum bisa aku laksanakan".


"Apa amanah satu lagi yang belum di laksanakan Anton?" tanya Tomy lagi.


"Bos Dona memberikan amanah, Faro harus menjadi menantuku, padahal waktu itu aku sudah protes jika anak-anakku sudah besar, sedangkan Faro masih ada dalam kandungan ibu Lestari saat itu, tetapi---!" kata Anton tidak melanjutkan ucapannya.


"Tetapi apa pak Anton?" tanya Ken dengan mendekatkan badannya sedikit mendekati Anton.


"Tetapi bos Dona tetap menginginkan Faro menikah dengan keturunanku, maaf aku tidak tahu harus bagaimana mewujudkan amanah itu, makanya aku minta bantuan anda berdua melanjutkan amanah itu".


Ken duduk kembali, mengambil nafas panjang, jodoh maut adalah rahasia Allah, Manusia hanya bisa merencanakan tetapi tetap hanya Allah yang menentukan jodoh umatnya.


"Baiklah pak Anton, jangan khawatir tentang amanah dari Abi kandungnya Faro, karena jodoh dan maut hanya di tangan yang maha kuasa, kita hanya bisa merencanakan, jika amanah itu sudah digariskan, pasti dengan berjalannya waktu akan terjadi juga" jawab Ken bijak.


"Betul kata Ken, lebih baik kamu bersemangat untuk sembuh kita nanti cari jalan keluarnya, kita jalankan amanah itu bersama sama".


Walau dengan berat hati Tiara hanya bisa mengikuti prosesi pemakaman ayahnya melalui vedio call saja sambil terisak di dampingi oleh suami dan putri kecilnya.


Setelah empat puluh hari berlalu sejak Anton Sahroni meninggal Ken masih selalu terngiang-ngiang amanah almarhum Anton, Ken hanya berpikir biarlah jika jodoh pasti nanti akan bertemu walau bagaimanapun caranya.


Imma juga menyetujui Ken jika nanti Faro berjodoh dengan keturunan Anton pasti yang maha kuasa menunjukkannya, tetapi yang jelas Ken dan Imma tidak akan pernah memaksa tentang perjodohan ini.


Cita-cita, hobi, bakat dan minat setiap anak memang berbeda beda, demikian juga keluarga Kenzie, tetapi yang penting tidak menggangu sekolah akan selalu di dukung.


"Abi.... apakah boleh Abang Sebelum mendaftar ke SMP berkunjung ke makam Abi Dona?" pinta Faro kepada Ken.


Tentu boleh bang, tetapi jangan lupa bilang juga sama umi ya!".


"Umi dimana Bi?"

__ADS_1


"Umi belum pulang, tadi di jemput sama Uthi Mami ke tempat arisan, nanti sore aja?"


"Ya Bi, Abang mau tempat latihan menembak aja deh sambil nunggu umi pulang".


Faro meninggalkan Ken di ruang keluarga, berjalan ke tempat favorit yang setiap waktu senggang, Ken ingin menghubungi Imma istrinya tetapi belum sempat membuka handphonenya ada panggilan masuk ternyata Tomy Sanjaya mengabarkan jika beliau ada di Jakarta dan akan mampir nanti malam.


Setelah malam hari Imma pulang, Faro meminta ijin untuk mengunjungi makam Abi Dona saat mereka duduk di ruang tamu bersama Tomy Sanjaya.


"Boleh bang, berangkatnya nanti bareng Opa Tomy aja ya, mumpung beliau masih disini" jawab Imma.


"Tetapi umi dan Abi ikut juga ya, sekalian liburan disana" pinta Faro lagi.


Ken memutuskan liburan ini mengunjungi keluarga di kampung, bareng dengan Tomy Sanjaya dan Fia serta Eza tetapi tidak bisa lama karena harus mendaftarkan sekolah Faro.


Saat duduk berdua Tomy Sanjaya dan Ken di ruang tamu itu, barulah Tomy menjelaskan apa tujuan datang ke rumah Ken.


"Ken kita memang sudah tidak akan di ganggu lagi oleh kelompok Baron Pranoto, tetapi anak buah Theo Thanapon sampai sekarang masih mencari informasi tentang penembakan anak angkatnya waktu itu" kata Tomy Sanjaya yang selalu khawatir.


"Jadi Faro belum sepenuhnya aman berarti?" tanya Ken kemudian.


"Iya maaf Ken, sekali lagi tolong jaga cucuku, aku juga sudah mempersiapkan orang untuk mengawasi pergerakan mereka jangan khawatir".


Ken hanya menganggukkan kepalanya saja, bergumam sendiri berarti masih ada dua masalah saat ini yang harus di perhatikan, satu amanah dari Abi Dona Sanjaya, Anton Sahroni dan yang kedua masih harus menjaga Faro dari mafia terbesar di Asia tenggara yaitu Theo Thanapon yang justru dia lebih kejam dari Baron Pranoto, dan belum diketahui dimana markas besarnya.


**Tamat***


__________________


Untuk "Dia Adikku Bukan Anakku" cerita nya


sampai Faro lulus SD ya....


langsung bersambung ke season dua

__ADS_1


"Dia Kakakku Bukan Ibuku"


__ADS_2