
"Siapa kau... minggir aku mau bicara dengan dia sebentar" ucap sosok laki-laki muda itu dengan tidak sopan.
"Aku suaminya...... memang kau siapa berani bersikap tidak sopan kepada istri orang".
Ken meradang melihat sikap anak muda tengil tidak punya sopan santun apalagi dengan seorang wanita yang sedang hamil muda.
"Ha.... suami,....benar Imma dia suamimu?".
sosok laki-laki muda itu tampak syok dan tidak percaya, jika suami Imma adalah sosok laki-laki yang tampan dan gagah.
"Abi....ayo pergi dari sini .....umi takut".
"Sebentar honey.... dia harus di berikan pelajaran agar tidak berbuat seenaknya saja".
Imma memeluk Ken dari belakang dengan tangan yang gemetar dan hampir menangis.
"Pergi sana, jangan ganggu istri orang, kalau tidak akan aku teriaki sebagai copet mau?".
"Baiklah... baiklah aku pergi".
Ada banyak pasang mata yang memandang kearah mereka, sosok laki-laki muda itu melangkah pergi dengan kesal.
Ternyata Dini dan Mama Nadia juga ada di situ melihat kejadian itu.
"Kalian tidak apa-apa nak?" Mama Nadia bertanya kepada Imma dan Ken.
"Kami baik baik saja... permisi, ayo honey kita pergi dari sini".
Imma tidak memperhatikan sekelilingnya menunduk dan mengikuti Ken yang sedang menggandeng tangan nya pergi ke sebuah restauran dan duduk disana.
"Kau sudah tenang sekarang Honey?".
Ken memeluk Imma dengan erat memberikan ketenangan dalam hatinya.
"Bi... maaf ya... malah seperti ini jadinya"
"Ayo... ceritakan siapa anak tengil itu".
"Dia teman umi SMU, waktu itu baru masuk sebagai siswa baru SMU kelas dua, dia telah berbuat tidak senonoh dengan adik kelas, dan sering mengganggu siswi yang baru masuk termasuk umi".
"Jadi dia pernah berbuat tidak senonoh juga kepada umi?".
"Untung nya belum sempat tetapi dia sudah dikeluarkan dari sekolah".
"Syukurlah.... umi ku terselamatkan".
"Sudah lah ayo.... makan dulu umi lapar".
Imma berbicara dengan manja dengan memeluk tangan Ken dengan erat.
"Jadi... anak Abi lapar ya.... mau makan apa?".
Ken mengusap lembut perut Imma, dan mengecup kening nya.
__ADS_1
"seafood aja... Abi mau kan?".
"Tentu saja kalau masalah selera dari awal umi hamil kan selalu sehati".
Ken memesan makanan nya dan makan dengan lahap berdua sampai habis tidak tersisa di piring nya.
Mereka melanjutkan menuju butik langganan Mami Winda setelah selesai makan, saat mereka memasuki area butik bertemu kembali dengan Dini, tetapi Mama Nadia sedang berada di toilet karena perut nya mulas.
"Apakah kalian baik baik saja".
"Iya Bu... terima kasih"
"Tidak usah panggil Ibu, panggil saja Tante Dini" kata Dini sambil mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
"Aku Imma Tante, ini suamiku Ken".
Imma mengulurkan tangannya juga berjabat tangan dengan memeluknya dengan hangat.
Sambil memilih baju Imma dan Dini berbincang dengan akrab, mereka bertukar nomor telepon, sepertinya pertemuan singkat tetapi langsung akrab.
Dini membantu Imma memilih baju hamil yang nyaman untuk di pakai, Imma juga setuju dengan hal itu.
Imma dan Ken selesai memilih baju dan berpamitan dengan Tante Dini untuk membayar ke kasir, sedangkan Dini menyusul Mama Nadia di toilet.
Ken dan Imma bergantian masuk mobil nya keluar dari parkiran melaju dengan kecepatan sedang sampai rumah nya.
Di rumah sudah ada Faro yang sedang bermain bola di teras sendirian.
"Abi.....awas nanti tas yang dibawa Abi sobek kena bola".
"Baiklah Abi taruh dulu paper bag nya baru nanti kita bertanding ok".
"Ok siapa takut".
Ken masuk rumah naik tangga ke kamar nya meletakkan paper bag itu di atas tempat tidur nya, diikuti Imma yang merebahkan tubuhnya untuk istirahat.
"Istirahat lah honey....Abi main bola dulu sama Faro ya".
Imma menganggukkan kepalanya dan Ken mencium kening nya dan keluar kamar berjalan turun tangga menuju teras dan bermain bola dengan Faro.
Sambil bermain bola Ken bertanya kepada Faro tentang huruf R kemarin.
"Faro.... bagaimana huruf R nya sudah bisa belum?".
"Hampirrr...... bisa Bi, R.... R.....R" kaki Faro masih memainkan bola nya tetapi mulutnya belajar huruf R.
"Waaaah... pasti adik bayi pipi tembem bangga dengan Abang nya yang pintar".
Setelah bermain beberapa lama, menendang, mendribble atau pun melemparkan bola itu.
"Abi....Faro capek.... istirahat dulu".
"Nah..... itu sudah bisa jelas huruf R nya, anak Abi memang hebat....., Abi bangga sama Abang Faro".
__ADS_1
Ken memeluknya dengan erat tetapi keringat Faro menetes sehingga Ken melepaskan pelukannya.
"Aaaduhh.... Faro bau, mandi sana ayo".
Faro tersenyum dan berlari kecil menuju kamar nya untuk mandi sore, dan diikuti Ken masuk ke kamar nya sendiri.
"Umi..... umi, bangun lah sudah sore ayo mandi".
"Hhhmmm... jam berapa Bi... masih ngantuk?".
"Ayo mandi bareng kita"
Ken langsung menggendong Imma dengan bridal, dan membawa nya ke kamar mandi serta di letakkan di bathtub dengan lembut.
"Abi..... mulai ya.... nakal.... sana umi mandi sendiri aja".
"Enak saja.... jangan melarang Abi ingin memandikan bayi pipi tembem".
"Jangan cari alasan yang aneh-aneh, modus paling".
Benar saja seorang istri pasti tahu apa yang dipikirkan oleh suaminya, hanya alasan memandikan bayi pipi tembem justru Ken sedang sedang menengok bayi pipi tembem di kamar mandi.
Hampir satu jam Imma dan Ken berada di kamar mandi, setelah terpuaskan keduanya keluar dari kamar mandi dan berganti baju, Imma mengeringkan rambutnya duduk di kursi rias dengan handuk kecil.
"Sini ... Abi yang mengeringkan rambut nya".
Ken mengeringkan rambut Imma dengan lembut sesekali sambil mencium tengkuk nya, dan menambahkan tanda merah disana.
"Bi.... jangan meninggalkan bekas merah banyak disana... umi malu tahu".
"Tidak apa-apa honey.... itu tandanya umi Sudah ada yang punya, tidak seperti tadi siang, mau di peluk oleh cowok tengil itu"
"Memang Abi cemburu.... umi saja ilfill lihat dia".
"Ya jelas cemburu.....lah masak umi cantik ku mau di peluk nya, enak banget dia".
"Tetapi umi juga tidak mau dipeluk dia, maunya hanya dipeluk Abi tersayang".
Imma memeluk tangan kekar Ken, dengan perasaan yang bahagia.
"Abi.... ke ruangan kerja dulu...ada yang harus Abi kerjakan untuk meeting besok"
Ken langsung berjalan menuju ruang kerja, ada suara notifikasi yang berbunyi dari handphone Imma.
"Imma bagaimana sampai rumah dengan selamat kan". Tante Dini mengirim pesan kepada Imma.
"Ya...... Tante Dini......kami baik, bagaimana dengan Tante dan ibunya?" Imma menjawab dengan cepat.
"Kami juga baik, ibu berpesan salam kenal untuk keluarga mu, semoga lain kali kita bisa bertemu lagi".
"Ya..... Tante,.... salam kenal juga untuk ibu, semoga sehat selalu".
Imma tersenyum mendapatkan perhatian dari Tante Dini, seperti menemukan keluarga yang lama tidak di temui nya, seperti sudah lama mengenalnya, padahal baru sekali bertemu dengan nya.
__ADS_1