Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 36 Depresi Imma


__ADS_3

"Umi.......umi.....umi......." Ken berteriak sambil berlari masuk kamar.


Ada gundukan di balik selimut yang tidak terlihat sosok yang di carinya.


Semua ikut berlari kecil mendekati tempat tidur Imma, hampir semua memanggil namanya.


Langsung Ken menarik selimut tebal itu, terlihat sosok Imma yang pucat pasi, tangan mengepal, badan dingin, tetapi suhu tubuhnya terasa panas, badan kaku, mata terpejam.


Ken langsung menggendong bridal Imma sambil berteriak-teriak.


"Sandi siapkan mobil, ke rumah sakit" titah Ken.


Sandi lari kedepan terlebih dahulu untuk menyiapkan mobil di parkiran.


"Ken lewat pintu samping saja biar tidak menggangu aktifitas kafe" perintah papi Bastian.


Uthi Sumi berdiri mematung di samping pintu kamar Imma sambil berlinang air mata nya.


Faro yang melihat umi nya di gendong Abi langsung lari mengikuti nya sambil menangis tersedu-sedu.


"Umi.... umi umi tenapa huuu huuuu, Palo mau umi" tanya Faro sambil menangis


"Faro umi sakit, Faro dirumah sama uthi Marni ya, biar Abi bawa umi ke rumah sakit" rayu Uthi Marni.


"Uthi.... uthi Palo itut " Faro menunjuk Ken yang sedang membopong tubuh Imma.


"Ganteng...... tidak boleh nangis, umi lagi sakit, Faro mau umi cepat sembuh kan?"tanya Akung Papi sambil menggendong nya.


"Ho....o, Akung umi Palo temoga tepat tembuh, hu....huuuuuu umi" jawab Faro sambil menangis tersedu-sedu.


"Faro sama Akung Karno dulu ya, biar akung Papi dan Abi cari obat ke rumah sakit" nasehat Papi Bastian.


Kemudian Faro di berikan kepada Akung Karno tetapi masih menangis.


Sedangkan Ken terus berjalan cepat menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Sandi dan diikuti oleh Papi Bastian.


"Bos.....sini naik depan biar cepat" perintah Sandi kepada papi Bastian sambil membukakan pintu mobil depan.


Ken masuk mobil sambil tetap menggendong Imma tanpa menurunkan di bangku mobil, Imma di pangku dan di peluk erat oleh Ken.


"Cepat Sandi badan umi sudah kaku dan dingin,....... umi......umi....ayo bangun lah please" ucap Ken sambil memeluk erat-erat Imma dan menggoyangkan tubuhnya yang kaku.


Imma tidak merespon sama sekali panggilan Ken, membuat Ken semakin frustasi, sebentar-bentar papi Bastian menengok kebelakang untuk melihat keadaan Imma.


"Sabar Ken, coba gosok gosok telapak tangan nya" saran Papi Bastian.

__ADS_1


"Jari tangan nya mengepal kuat Pi, susah di buka, cepat Sandi kalau perlu cari jalan pintas" teriak Ken dengan nafas yang tidak teratur.


"Ini hampir sampai bos, tiiiiinnn.........tiiiiiiin" jawab Sandi sambil membunyikan klakson mobil karena ada mobil berhenti sembarangan.


Mobil yang di Kendarai Sandi akhirnya masuk area UGD rumah sakit, sampai di depan pintu masuk UGD tampak seorang petugas langsung mengeluarkan brankar tempat tidur yang khusus untuk pasien yang baru datang.


Ken langsung merebahkan tubuh Imma di brankar itu dan mendorong nya masuk ruang UGD, sampai di pintu masuk.


"Maaf pak sampai sini ya, tunggu di luar sebentar, bisa salah satu mendaftarkan dahulu pasien di ruang pendaftaran" perintah salah satu suster yang membantu membukakan pintu UGD.


Sandi tanpa di perintah langsung lari ke ruang pendaftaran di lobi UGD yang tidak jauh dari pintu, setelah selesai baru diserahkan kepada petugas nya.


Sekitar setengah jam Ken menunggu dengan gelisah, mondar-mandir dengan hati yang gelisah.


"Keluarga Imma Anjani" panggil suster.


"Ya saya suster" jawab mereka bertiga hampir bersamaan.


"Di panggil dokter ya di dekat lobi UGD" perintah suster lagi.


Hanya Ken dan Papi Bastian yang masuk, sedangkan Sandi sedang menelepon mami Winda untuk mengabarkan jika Imma di rumah sakit, meminta Mami Winda datang ke kafe Imma untuk membantu menjaga Faro.


Ken dan papi Bastian Duduk di kursi depan dokter UGD.


"Anda ada hubungan apa dengan pasien Imma Anjani?" tanya dokter itu.


"Anda ini suami macam apa, mengapa membawa kesini terlambat, tidak bisa memperhatikan istri yang depresi berat, untung masih bisa tertolong" kata dokter itu dengan nada marah dan tegas.


Ken tidak menjawab pertanyaan dokter itu, dia hanya menundukkan kepalanya saja.


"Jadi bagaimana mana keadaan menantu saya dok?" ucap papi Bastian menengahi.


"Pasien sudah saya suntik obat tidur agar pikirannya bisa beristirahat sejenak" jawab dokter lagi.


"Sudah berapa lama pasien mengalami depresi?" dokter melanjutkan pertanyaan nya.


"Sekitar tiga tahun dok" jawab Ken ragu-ragu.


"Selama ini bagaimana anda mengatasi depresi istri anda?" tanya dokter UGD itu.


"Dengan saya memeluk nya biasanya emosi nya menjadi stabil dok" cerita Ken.


"Apakah sering kambuh depresi nya?" tanya dokter lagi.


"Selama setahun ini cuma tiga kali dok, empat sekarang" keterangan Ken lagi.

__ADS_1


"Baiklah pasien akan di pindahkan di ruang rawat inap, untuk sementara jangan banyak membuat pikiran nya terganggu, buat dia senyaman mungkin, seandainya ada yang tidak mau ditemui nya jangan di paksakan dulu" perintah dokter kemudian.


"Jaga istrimu dengan baik ya?" titah dokter yang langsung meninggalkan tempat itu.


Ken masuk ke ruang rawat inap Imma, matanya berkaca-kaca melihat Imma yang berbaring lemas di ruang rawat inap itu, mengusap lembut rambut dan pipinya.


"Ken papi mau cari Anton Sahroni, papi ingin mencari tahu masa lalu umi yang membuat depresi"kata Papi Bastian.


"Kenapa tidak tanya Uthi saja Pi?" tanya Ken.


"Memang Ken tidak lihat, uthi Sumi tidak kalah depresi seperti dia" ucap papi Bastian sambil menunjuk Imma.


"Minta Sandi mengantarkan Papi aja" perintah Ken.


Ken hanya menggenggam erat tangan Imma setelah kepergian Papi Bastian dan Sandi, menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang cincin tunangannya.


"Honey..... maafkan Abi, tidak tahu separah ini akibatnya dengan gosip itu, maaf" ucap Ken sambil menatap wajah nya dengan lekat.


Papi Bastian keluar ruangan dengan tergesa-gesa dan pergi keluar rumah sakit menuju rumah Sahroni.


Sementara dirumah Imma, mami Winda memeluk dengan erat setelah Mami Winda tahu apa yang telah terjadi.


"Ayolah bibi, jangan menangis terus, kita harus kuat untuk anak anak, kalau bibi begini terus bagaimana dengan uminya Faro?" nasehat Mami Winda.


"Ayo kita ke rumah sakit saja, biar hati kita lebih tenang" ajak Mami Winda lagi.


Uthi Sumi hanya menganggukkan kepalanya saja, dan bersiap siap untuk ke rumah sakit bersama mami Winda.


Faro duduk di ruang keluarga dengan gelisah, hanya ditemani oleh uthi Marni dan Kemmy, Faro hanya memainkan mobil Tayo nya maju mundur tanpa berkata sedikit pun.


Mami Winda dan uthi Sumi mau berangkat ke rumah sakit, tetapi Faro menangis ingin ikut melihat umi nya.


"Bagaimana ini, di ajak kah Faro nya" tanya uthi Sumi.


"kata papi belum sadar Imma nya" jawab Mami Winda.


"Waduh.... bagaimana dong?" tanya uthi Sumi lagi sambil mengangkat bahunya.


__________________


bagaimana diajak tidak


Faro nya..............?


jangan lupa baca novel ku yang lain

__ADS_1


",Ikat pinggang cinta" seru juga Lo...


terima kasih


__ADS_2