
Honey...ada tamu!" teriak Ken memanggil Imma sedikit keras.
"Siapa sayang?"jawab Imma berlari mendekati tamunya itu.
"Kami yang datang" jawab Mama Nadia dan diikuti oleh Tante Dini dan Tante Tante Meera.
Faro dan Fia yang melihat ada orang yang mereka kenal dan sangat menyayanginya, mereka berlari menghampiri mereka dan mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Oma... Mama Dini..., Mama Meera apa kabar?" tanya Faro.
"Alhamdulillah baik.." jawab mereka serempak.
Mereka bercengkerama dengan riang di kamar hotel Kemmy, tetapi setelah Ken datang dari kamar mandi ikut bergabung dengan mereka Mama Nadia mendekati Imma dan duduk di sebelahnya.
"Nak... bolehkah kami mengajak Faro dan Fia jalan jalan sebentar?" pinta Mama Nadia dengan penuh harap.
Ken dan Imma beradu pandang sejenak, memberikan tanda seakan Imma bertanya kepada suaminya itu.
"Faro mau jalan jalan dengan Oma?, Fia bagaimana mau juga?" tanya Mama Nadia lagi.
"Mau...mau Abi... tapi Tante Kemmy ikut ya?" pinta Faro dengan melihat Tante Kemmy yang sedang bermain handphone.
"Kenapa harus Tante?" tanya Kemmy heran.
Ken mendekati Kemmy dan mengacak rambutnya mengambil handphone dengan cepat.
"Temani Faro dan Fia ya...., Kalau tidak mau handphone kakak sita!" perintah Ken.
"Idih... kakak sini handphone nya, iya...iya aku temani mereka" kata Kemmy sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Dengan ijin dari kedua orang tuanya Mama Nadia dan anak-anaknya berencana membawa mereka jalan jalan ke mall dan makan di restauran siap saji yang menyajikan es krim juga kesukaan Faro.
Mobil yang di Kendarai oleh Dini baru saja keluar dari parkiran hotel keluar jalan raya dan berhenti sempurna di lampu merah di pertigaan sekitar lima kilometer tetapi sayangnya ada mobil melaju kencang dari belakang menabrak mobil Dini dari belakang.
"Braaaak duuuor..".ada beberapa mobil tertabrak dari belakang.
""Umi......Fia atut...hik....hik....". Fia menangis dengan di peluk Faro.
__ADS_1
"Fia baik-baik saja, ada Abang, jangan nangis!" rayu Faro pelan.
"Abang...itu dalah.....dalah...hik..hik.." ucap Fia menunjuk ke kening Faro yang mengeluarkan banyak darah di keningnya.
Yang lain panik bukan kepalang, mama Nadia syok dan hanya terdiam, Dini berusaha keluar dari setir yang menghimpit nya, Ameera tidak kalah syok nya, hanya Kemmy dan Faro yang bersikap tenang.
Bergegas membuka handphone nya mencari nama kakaknya
"Halo kakak, ada tabrakan beruntun di lampu merah pertigaan" kata Kemmy cepat.
Ken membelalakkan matanya melesat berlari keluar kamar dan berteriak pada istrinya yang sedang tiduran di tempat tidur.
"Honey... Kemmy barusan telepon ada tabrakan beruntun di lampu merah pertigaan depan".
Ken tidak memperdulikan teriakan Imma melesat cepat tanpa memperdulikan apa yang dia kenakan berlari di jalan raya itu dengan kecepatan tinggi.
Abi...... tunggu,... Papi... Mami itu Abi " Imma terkulai lemah hanya menunduk sambil menangis tersedu-sedu.
"Ada apa nak...ada apa?" tanya Mami Winda.
Mami Winda memeluk Imma dengan erat, sedangkan Papi Bastian mengambil kunci mobil keluar kamar dan menyusul Ken ke lampu merah pertigaan depan itu.
Ken tersengal-sengal dengan nafas yang memburu, mencari satu persatu mobil yang di tumpangi oleh Faro dan Fia.
Ken melihat ada sekitar lima mobil dan tiga motor yang rusak lumayan parah di lampu merah itu, satu persatu dari mobil itu di lihatnya ternyata ada Kemmy yang keluar pertama dari mobil yang ada di deretan paling depan.
"Kem... Kemmy anak-anak mana?".
"Abi....Abi Fia atut..hik..hik" Fia keluar dari mobil itu di gendong oleh Faro dan langsung di ambil oleh Ken.
"Kamu tidak apa-apa nak, aduh Abang kening mu berdarah, Kemmy gendong Fia!" Perintah Ken.
"Abang tidak apa-apa Bi, ini cuma terbentur jok mobil" jawab Faro sambil meringis.
Di usapnya darah yang keluar dari kening Faro dengan kaos yang dikenakan Ken berwarna putih itu, sehingga menjadi berwarna merah terkena darah.
Banyak masyarakat yang berhamburan membantu mereka, Mama Nadia dan Ameera di bantu keluar dengan keadaan sedikit syok, sedangkan dini yang terjepit kakinya meringis kesakitan tidak bisa di tarik kakinya.
__ADS_1
Kepolisian datang juga membantu Dini untuk keluar dari mobil itu, hampir seperempat jam kaki Dini bisa di keluarkan oleh bantuan kepolisian.
Di dudukkan Dini di trotoar menunggu ambulance datang, mama Nadia langsung berlari memeluk Dini dan berbisik di telinganya.
"Dini memang dia lebih aman dengan Abinya, bersama kita dia tidak aman, maafkan aku, sudah memaksamu mengajak dia jalan jalan" kata Mama Nadia sambil terisak.
"Mama ngomong apa, jangan begitu nanti ada yang mendengar, lihatlah dia baik baik saja" bisik Dini sambil meringis kesakitan.
"Apakah anda baik baik saja Bu Nadia?" tanya Ken mendekati Mama Nadia dan Dini yang sedang berpelukan.
Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya bersamaan, sedangkan Ameera yang dari tadi diam duduk sendiri menatap Faro yang dari tadi duduk di samping Kemmy yang sedang memangku Fia, Ameera menatap tajam mata Faro, mengingatkan-ingat dimana dia bertemu dengan tatapan mata itu.
Papi Bastian berlari mendekati anak dan cucunya yang terduduk di trotoar itu dengan khawatir, bersamaan datang ambulance mendekati mereka.
"Papi, bagaimana dengan istriku?" tanya Ken khawatir.
Papi Bastian memukul keningnya sendiri sampai melupakan istri dan menantunya sendiri.
"Kalian ke rumah sakit saja, Papi mau menjemput mereka" perintah Papi Bastian sambil berlari kearah mobil yang di parkir agak jauh dari TKP itu.
Tabrakan beruntun itu mulai terurai, dengan adanya kesigapan polisi, baru semua pergi ke rumah sakit, Papi Bastian, Mami Winda dan Imma bergegas ke rumah sakit terdekat.
Papa Tomy yang baru mendapatkan informasi dari kepolisian juga bergegas kerumah sakit dengan Edi Darmawan beserta asisten masing-masing.
Mereka bertemu bersamaan di rumah sakit dan berlari ke ruang UGD dan menunggu di depan pintu UGD.
Melihat Ken yang keluar dengan menggendong Fia, Imma langsung berlari menuju mereka berdua diikuti oleh Papi Bastian dan Mami Winda di belakangnya.
"Sayang..... Fia baik-baik saja kan?, Bi....sayang, Faro mana?" tanya Imma dengan berderai air mata.
"Honey.....sabar, Abang baik-baik saja, dia cuma luka di keningnya" jawab Ken sambil memeluk Imma yang sudah lemas karena ketakutan kehilangan kedua anaknya itu.
Sedangkan Mama Nadia sedari tadi menangis terisak-isak di samping Dini, selalu memandangi Dini yang meringis menahan sakit yang ada di kakinya.
"Din....aku berjanji tidak akan mengajak dia lagi, dia lebih aman dengan keluarganya" celoteh Mama Nadia.
"Sudahlah mama, berhenti ngomong itu, banyak orang disini, berbahaya, yang penting dia tidak apa-apa, lihatlah itu papa dan suamiku datang!" perintah Dini dengan suara agak tinggi.
__ADS_1