
"Bukan mereka Hendra, yang ada di depan mereka yang duduk menghadap kesamping dan membelakangi kita?" kata Tomy lagi dengan kesal.
"Bagaimana kalau kita dekati saja bos?" tawar Hendra penasaran.
Tomy Sanjaya dan Hendra mendekati mereka dengan perlahan, tetapi jarak sekitar lima meter lagi seorang laki-laki itu berdiri dan menyalami orang yang ada di sampingnya yang dari awal tidak terlihat karena tertutup oleh anak buah Leo Bardan.
"Bos, itu putranya Baron Pranoto yang bernama Andri Pranoto, lo kok...itu...itu bersalaman dengan pak Letnan gurunya Abang Faro?" tanya Hendra heran.
Andri Pranoto dan anak buahnya meninggalkan tempat itu, baru Tomy Sanjaya dan Hendra mendekati Letnan Agung.
"Pak letnan.....kok anda disini, bukannya dia Andri Pranoto?" tanya Tomy Sanjaya sedikit ragu.
"Ee pak Tomy, silahkan duduk dulu nanti saya ceritakan" jawab Letnan Agung sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman bergantian.
Tomy Sanjaya dan Hendra duduk di depan Letnan Agung dan memanggil pelayan kafe yang berada di samping tempat duduk mereka untuk memesan kopi.
Kemudian Letnan Agung menceritakan pertemuannya dengan Andri Pranoto saat dia di kejar tiga orang laki-laki dan Andri tertembak peluru di kakinya.
Letnan Agung juga bercerita jika ketiga orang laki-laki itu juga tertembus peluru panas oleh Faro tetapi tidak di ceritakan ke pihak yang berwajib demi keselamatan Abang Faro.
Sehingga Andri ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongannya saat kejadian itu, walaupun kejadian itu sudah berlangsung beberapa waktu yang lalu tetapi Andri baru sempat berkunjung ke Indonesia sehingga membuat tertunda keinginannya untuk mengucapkan terima kasih.
Dalam hati Tomy Sanjaya sangat bangga dengan cucu laki-laki kesayangannya itu, bisa membantu anak dari rivalnya sendiri, walaupun kejadian itu di rahasiakan oleh baik keluarga Ken ataupun dari pihak kepolisian.
Tomy juga merasa lega jika tidak ada hubungan khusus antara Letnan Agung dengan Andri Pranoto.
Sore harinya keluarga Tomy Sanjaya akan kembali terbang menggunakan pesawat komersil ke kediaman mereka kampung halaman perkebunan teh.
__ADS_1
Karena istri, anak dan menantunya ada di rumah Imma, Tomy menyusul mereka dan ingin sekalian berpamitan.
Sayangnya pagi itu mereka tidak bisa bertemu dengan Faro karena anak itu sedang berada di sekolah hingga pulang pukul dua siang, hanya bertemu dengan Fia dan baby Ezo saja.
Ken pun juga sudah berangkat ke kantor saat mereka tiba di rumah Imma, waktu tengah hari berpamitan dengan Imma saja, walaupun sedikit kecewa tetapi mereka tetap bersemangat mungkin suatu saat nanti akan bertemu kembali.
Dalam kesehariannya seperti biasa sejak putranya lahir, Ken yang merawat putranya sendiri waktu Fia lahir dahulu, Sebelum berangkat ke kantor memandikan baby Ezo mempersiapkan keperluannya, dan jika pulang dari kantor Ken membelanjakan keperluan dari baju, minyak telon, pupur, popok bayi dan juga susu ibu menyusui.
Waktu Imma hamil, Ken sering menyebut dirinya sebagai seorang suami siaga tetapi setelah baby Ezo lahir Ken menjadi bapak siaga, bahkan saat bayi itu bergadang pada malam hari Imma di minta untuk istirahat dan tidur, Ken lah yang selalu menemani putranya itu bergadang dan mengajaknya bermain serta mengajaknya bercerita.
Karena sikap Ken inilah yang membuat anak-anak begitu dekat dengannya dan membuat Imma begitu mencintai suaminya.
Hari ini baby Ezo genap berumur tiga puluh lima hari, waktu masih ada uthi Sumi biasanya membuatkan nasi tumpeng menandakan baby Ezo umurnya selapan dalam hitungan Jawa, seperti yang selalu di lakukan saat Faro ataupun Fia lahir dulu.
Tetapi yang yang membuat nasi tumpeng hari ini adalah uthi Marni, kebetulan juga hari ini hari Minggu, sehingga Ken sengaja mengundang keluarga besar serta asisten dan keluarganya.
"Honey kenapa nangis, ini hari baiknya untuk putra kita?" tanya Ken sambil mengusap air matanya yang mengalir deras.
"Tidak apa-apa, cuma ingat almarhumah uthi Sumi aja Bi, biasanya beliau yang membuatkan ini" jawab Imma dengan terisak.
Setelah mengambil nasi tumpeng dan di berikan kepada Fia dan Faro, baru uthi Marni dan uthi mami membagikan nasi tumpeng kepada semua keluarga keluarga yang ada.
Ken bergegas memeluk Imma dari belakang untuk memberikan kekuatan kepada istrinya, mengambilkan makanan dan menyuapi dengan telaten.
"Honey... kapan puasa Abi berakhir, lama sekali sih, coba lihat hanya memeluk umi aja, dia terbangun dengan sendirinya?" tanya Ken sambil berbisik di telinga Imma.
"Sayang....ih...umi lagi bersedih kenapa di pamerin hal yang mesum sih?" protes Imma dengan memukul lengan Ken perlahan.
__ADS_1
Ken terkekeh melihat istrinya mengerucutkan bibirnya, bergumam dalam hati berhasil mengalihkan kesedihannya dan membuatnya bahagia kembali di tengah tengah keluarga yang sangat menyayangi itu.
"Apakah tidak ada cara lain, agar Abi bisa mendapatkan itu kesukaan Abi?" tanya Ken lagi dengan mengedipkan matanya.
"Sabar ya Bi, paling seminggu lagi, umi akan berkonsultasi dengan dokter Tanti terlebih dahulu" jawab Imma menatap sendu kepada suaminya.
Ken mengikuti kebiasaan Imma mengerucutkan bibirnya dengan sedikit kesal karena harus menunggu seminggu sekali untuk mendapatkan jatah yang selalu membuat candu baginya.
"Sabar sayang, apakah Abi tega jika umi hamil lagi dalam waktu dekat ini?" tanya Imma karena ingat jika suaminya itu menangis melihat dirinya kesakitan saat mau melahirkan.
"Ampun....ampun honey jangan hamil dulu, atau sudah cukup tidak usah tambah lagi, Abi tidak tahan melihat umi kesakitan, baiklah Abi tahan aja satu Minggu lagi, Abi main solo aja" jawab Ken dengan sedikit berkaca-kaca.
Imma tersenyum melihat Ken berkaca-kaca walaupun hanya mengingat peristiwa saat melahirkan putranya baby Ezo.
"Aduh....suami umi yang cengeng, kalau mukanya begitu tambah ganteng" rayu Imma dengan memegang kedua pipinya gemas.
Ken kembali mengerucutkan bibirnya dengan sedikit kesal, memeluk Imma dengan erat dari depan, padahal ada baby Ezo di pangkuan Imma.
Sontak beby Ezo menangis dengan suara keras, Ken jadi kaget dan terkekeh karena lupa ada putranya di tengah tengah mereka, kemudian mentowel hidung Imma dengan gemas.
"Putra kita minta ASI, honey.. ingat satu Minggu lagi beby Ezo harus mau berbagi dengan Abinya ok" ucap Ken dengan mengedipkan matanya.
"Ih...dasar mulai lagi itu pikiran mesum".
Imma menggendong baby Ezo ke kamar untuk di berikan ASI eksklusif sedangkan Ken bergabung bersama keluarga bercengkerama dengan akrab.
Saat Sandi, Rama dan Heri bergabung dengan Ken di tambah Bayu baru ramai, walaupun jika di kantor adalah atasan dan bawahan tetapi jika berkumpul di luar jam kerja mereka tetap teman, jika mereka bertemu pasti akan selalu membicarakan tentang apa yang ada di antara ************ saja, apalagi Ken yang sedang berpuasa karena menunggu nifas istrinya berakhir.
__ADS_1
Ken menjadi bulan bulanan ledekan dari para asisten dan adik iparnya itu karena harus menahan rasa dan berpuasa selama empat puluh hari, sehingga membuat Ken keki setengah mati, tetapi justru membuat mereka tertawa terbahak bahak.