
Leo Bardan POV
Leo Bardan adalah laki-laki keturunan Batak dan Betawi, benar benar sangat pening akhir akhir ini, karena terjadinya perpecahan di kelompoknya, ada dua kepemimpinan yaitu dirinya sendiri yang sudah dia pegang sepuluh tahun terakhir ini, dan yang kedua rivalnya putra daerah dari timur bernama Ramos Sandara.
Sebagian besar anak buah masih setia bergabung dengan Leo Bardan, tetapi sebagian lagi mulai mengikuti Ramos Sandara, sehingga Leo kekurangan orang untuk mengawasi baik keluarga Ken ataupun keluarga Tomy Sanjaya.
Orang yang mengikuti dan menembak Andri Pranoto saat senja dan di tolong oleh Akung Letnan dan Faro waktu itu juga orang orang yang berada dalam kelompok Ramos Sandara.
Berkali-kali Leo melaporkan kepada bos besarnya yaitu Baron Pranoto tentang perpecahan kepemimpinan di Indonesia, juga kecurigaan Leo tentang kedekatan keluarga Tomy Sanjaya dan keluarga Kenzie Wiguna.
Dengan terpaksa Baron Pranoto dan Andri Pranoto terbang ke Indonesia dan akan tinggal di Indonesia dalam waktu lumayan lama sampai masalah perpecahan kepemimpinan itu dapat di selesaikan.
Baron Pranoto dan Andri tinggal di apartemen yang mereka miliki terletak di Jakarta barat, Walaupun jauh dari markas yang terletak di daerah pasar induk Kramat jati Jakarta timur, tetapi Leo selalu bolak balik ke dua tempat itu setiap harinya.
Baron Pranoto mengintruksikan kepada Leo Bardan untuk mengumpulkan semua anak buahnya, sedangkan yang sudah bergabung dengan Ramos Sandara jika masih bisa di bujuk untuk kembali ke dalam kepemimpinan Leo akan di berikan satu kesempatan.
Tetapi jika tidak mau bergabung lagi akan di adakan penyerangan ke markas Ramos Sandara yang terletak di daerah perbatasan Jawa barat Jakarta timur, Baron Pranoto orang yang sangat tegas dan tanpa ampun kepada anak buahnya yang berkhianat, Baron sangat berpengaruh di dunia hitam dan sudah berpengalaman memimpin kelompok hingga ke seluruh Asia tenggara sehingga banyak anak buah Ramos Sandara yang kembali ke kelompok yang di pimpin Leo Bardan.
"Bagaimana apakah Ramos Sandara sudah mau bergabung dengan kita kembali?" tanya Baron kepada Leo saat mereka berada di markas.
"Sepertinya hanya sebagian anak buahnya yang kembali kepada kita bos" jawab Leo Bardan.
Baron dan Andri saling memandang, hanya berpikir dalam hati punya nyali juga putra daerah satu ini.
__ADS_1
"Bagaimana penyelidikan tentang kecurigaan kamu mengenahi kedekatan antara Tomy Sanjaya dan Kenzie Wiguna?' tanya Beron lagi.
Seketika Andri membelalakkan matanya mendengar pertanyaan papanya itu yang menyebutkan namanya abinya Abang Faro yang pernah menyelamatkan nyawanya saat itu.
"Aku belum tahu pasti bos, ini masih aku selidiki, sepertinya ada hubungannya Tomy dengan kedekatan dengan putra sulungnya Kenzie Wiguna" jawab Leo lagi.
"Kamu selidiki lebih detail lagi tentang Tomy dalam waktu dekat ini, jangan sampai lengah!" perintah Baron kemudian.
Andri sebenarnya ingin menceritakan tentang pertolongan dari putranya Kenzie Wiguna itu kepada papanya, tetapi Andri masih ragu-ragu, dan ingin melihat perkembangan penyelidikan Leo Bardan terlebih dahulu sehingga diurungkan niatnya untuk bercerita.
Sudah hampir lima hari ini Leo Bardan menyelidiki kekuatan Ramos Sandara dan selalu melaporkan kepada bos Baron, sebenarnya mudah saja melumpuhkan semua anak buah Ramos Sandara tetapi Baron Pranoto mempertimbangkan jika nanti ada keterlibatan kepolisian dan pemerintah akan membuat pergerakan kelompoknya ada dalam masalah yang besar.
Sehingga Baron merencanakan langkah bersama Andri, Leo dan anak buahnya akan melakukan penyerahan pada malam hari tepatnya tengah malam agar tidak mengganggu masyarakat ataupun terendus oleh kepolisian ataupun pihak pemerintah.
Menggunakan pistol otomatis yang mempunyai peredaran suara, akan mengurangi resiko terjadinya keributan yang akan terjadi saat penyerangan nanti.
Hari ini adalah hari Jum'at malam Sabtu hampir tengah malam, Baron Pranoto dan anak buahnya menuju ke markas Ramos Sandara yang berada di markas bersama anak buahnya yang masih setia.
Dari markas besar di dekat pasar induk Kramat jati ke daerah perbatasan Jawa barat dan Jakarta timur dalam waktu satu jam, setelah sampai di markas Ramos Sandara memarkirkan mobilnya agak jauh dari markas itu agar tidak ketahuan oleh mereka.
Beberapa anak buah Baron mematikan saklar lampu pada rumah yang ada di sekitar markas Ramos Sandara agar tidak terlalu mencolok jika akan terjadi penyerangan.
Setelah selesai mematikan lampu, mereka mendekati markas itu dengan cara menyebar mengelilingi markas, dari depan di pimpin langsung oleh Baron Pranoto, dari belakang di pimpin oleh Leo Bardan sedangkan dari samping kanan dan kiri di pimpin oleh Andri.
__ADS_1
Karena sebagian besar anak buah Ramos Sandara tertidur pulas, mempermudah rencana Baron mengadakan penyerangan, yang masih terjaga hanya sekitar lima orang itupun mereka sudah hampir teler karena menenggak minuman keras.
"Zeus...... Zeus.... Zeus..." suara tembakan yang memakai peredaran suara itu menembus dada tiga penjaga dan tumbang seketika di tempat.
Karena kaget salah satu dari penjaga mendapatkan serangan mendadak langsung mengekang pistolnya yang di ambil dari balik celananya.
"Dor....dor..." tetapi tembakan itu meleset hanya mengenai dinding yang ada di dekat pojok ruang tamu.
"Zeus.... Zeus..." tembakan Baron tepat sasaran mengenai dada kedua penjaga dan tumbang lagi di tempat dengan mengeluarkan darah segar dari dada mereka.
Di dalam kamar yang sedang tertidur pulas Ramos Sandara dan anak buahnya sontak terbangun mendengar ada suara tembakan dari tuang tamu depan, mereka berlari berhamburan keluar dan sebagian besar tidak membawa senjata, semua anak buah Baron sudah meringsek masuk dengan menodongkan senjata otomatis kearah mereka termasuk Ramos Sandara.
Walaupun Ramos memegang senjata api tetapi kalah jumlah dengan anak buah dari Baron, sehingga mereka mengangkat tangan tanda menyerah.
"Ayo berjongkok semua kalau tidak nasibnya akan sama seperti mereka yang tertembak peluru panas tanpa terdeteksi suara tembakannya!" perintah Leo Bardan dengan tegas.
Anak buah Ramos berjongkok dan meletakkan tangannya di atas kepala pasrah saja apa yang akan di lakukan oleh Baron Pranoto dan anak buahnya.
"Andri ambil senjata api yang di pegang Ramos Sandara, cepat!" Perintah Baron Pranoto dengan suara yang keras.
Andri bergegas mengambil senjata yang di pegang oleh Ramos, akhirnya Ramos Sandara dan anak buahnya menyerah setelah Baron Pranoto sendiri yang turun tangan, tanpa banyak jatuhnya korban dan tidak di ketahui oleh masyarakat sekitar atau pihak kepolisian.
"Leo, tolong atasi dan urus mereka yang sudah tewas, berikan kompensasi yang sesuai untuk keluarga yang di tinggalkan!" titah Baron lagi.
__ADS_1
"Siap bos laksanakan, ayo cepat kita bereskan tempat ini" titah Leo Bardan kepada anak buahnya.
"Kita kembali ke markas besar di Kramat jati, bawa mereka semua termasuk Ramos Sandara" perintah Baron Pranoto lagi.