Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 150 Lepas dari Kandang Harimau Terperosok di Kandang Singa


__ADS_3

Setelah kejadian Faro dengan terpaksa menembak tiga orang sniper di gedung kosong dan terungkapnya Abi Dona adalah putra Opa Tomy Sanjaya, semakin hari Faro semakin menjadi lebih pendiam dan sering melamun.


Saat membantu Andri Pranoto Faro tidak terlalu syok karena orang yang dia tembak masih hidup, hanya di bidik kearah kaki, tetapi kejadian di gedung kosong itu terpaksa Faro harus menembak dadanya, bahkan yang lebih parah lagi tembakan dari ketiga orang itu di posisi yang sama tanpa berbeda sedikitpun.


Karena posisi dari peluru yang sama itulah yang membuat kelompok Theo Thanapon sangat geram dan marah, sedangkan laporan kepolisian dan pengakuan dari saksi mata yang menembak adalah Baron Pranoto.


Kecurigaan Theo Thanapon semakin besar karena tahu betul dengan kemampuan menembak dari Baron Pranoto yang masih lebih baik dari Tomy Sanjaya dan Theo sendiri, apalagi kemampuan menembak Andri Pranoto hanya biasa saja.


Ada kecurigaan dari kelompok Theo Thanapon bahwa ada sniper handal yang ada disana saat itu yang di tutup tutupi oleh kepolisian ataupun saksi mata yang ada di dalam kejadian itu.


Theo Thanapon begitu menyesali peristiwa itu karena putra angkat yang begitu di sayanginya ikut menjadi korban penembakan, sehingga Theo sangat dendam kepada kelompok Baron Pranoto.


Karena para korban saat itu hanya satu yang asli orang Indonesia yaitu Leo Bardan dan yang ketiga orang sniper itu penduduk Singapura keturunan Thailand, entah bagaimana tidak sampai pengadilan peristiwa itu, karena memang pengaruh Baron Pranoto dan Theo Thanapon sangat berpengaruh sehingga Baron Pranoto hanya tiga Minggu di penjara setelah itu pulang kembali ke Singapura.


Theo Thanapon sangat gencar mencari di balik kematian putra angkatnya, karena dia yakin jika yang menembak saat itu bukan orang sembarangan, mereka meyakini jika hanya penembak jitu atau sniper handallah yang bisa melakukan penembakan seperti itu, sedangkan saksi saat kejadian itu kompak tidak melaporkan kepada kepolisian bahwa yang berada di tempat kejadian perkara ada anak kecil yang ikut serta.


Baron Pranoto setelah tiga Minggu keluar dari penjara, tinggal sementara di apartemen yang ada di Jakarta barat, Walaupun masih belum mau bertemu dengan Tomy Sanjaya, Baron Pranoto sudah menarik sebagian anak buahnya untuk mengawasi keluarga Tomy Sanjaya, pengawasan itu sudah mulai berubah tujuan, yang awalnya ingin menghabisi keturunan laki-laki yang menjadi rivalnya selama bertahun-tahun, sekarang mengawasi demi keselamatan cucu laki-laki itu.


Melihat Jasson sudah mulai ceria lagi, Andri Pranoto mengutarakan jika ingin mundur dari dunia hitam seperti saran dari ibu Sarah dan akan menetap di Indonesia kepada papanya, awalnya Baron Pranoto merasa keberatan tetapi setelah melihat Jasson ceria akhirnya menyetujui permintaan dari Andri putranya.


Baron Pranoto selama di apartemen sering melamun, karena putranya sendiri dan menantunya sudah mulai menjauhi jalan yang dia tempuh, setelah satu Minggu tinggal di Jakarta akhirnya dia kembali ke Singapura menyusul istrinya yang sudah dua Minggu tinggal sendiri tanpa suami, anak dan cucunya.


********


Di kediaman Ken, sore ini Imma begitu khawatir dengan perkembangan Faro yang sedikit pendiam, dan jarang berlatih Menembak dalam tiga Minggu ini.

__ADS_1


"Sayang... bagaimana Faro sepertinya tidak bisa melupakan peristiwa itu, merasa bersalah sepertinya dia, karena kematian tiga orang laki-laki itu" tanya Imma kepada Ken saat selesai memberi ASI baby Ezo di kamar.


"Iya honey.. Abi juga bingung..apa kita perlu ke psikiater ya untuk memulihkan kondisinya?" tanya Ken sambil melirik baju Imma yang belum di kancing setelah memberikan ASI kepada putranya.


Ken mendekati Imma, duduk di sampingnya tetapi tangannya mulai menyusup karena melihat dua gunung kembar yang terlihat belahan tengahnya tertutup bra saja.


"Bagaimana kalau kita minta pertimbangan Om Agung, ya.... sayang tentang masalah ini?" tanya Imma sambil menarik dan menjauhkan tangannya yang tidak bisa di kondisikan.


"Iya... betul juga, sebentar abi mengirim pesan kepada Om Agung" jawab Ken.


"Papi Bastian dan asisten Anton juga di ajak Bi, lebih banyak yang memberi saran akan lebih baik" pinta Imma lagi.


Setelah Ken menghubungi mereka, membuat janji untuk bertemu nanti malam di kafe, Ken mengulangi hal tadi sempat tertunda karena memang Imma belum mengancingkan bajunya, tangannya mulai menyusup di balik baju sambil tersenyum simpul.


"Salah siapa, dari tadi Abi melihat hal yang sangat indah" jawab Ken sambil meremas apa yang ada di balik branya.


Pintu terbuka dengan suara yang lumayan keras, Fia masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu karena memang pintu tidak di kunci.


Dengan refleks Ken menarik tangannya saat melihat putrinya masuk dengan tergesa-gesa, disertai Imma yang terkekeh.


"Mengganggu aja sih ini kakak, awas nanti malam umi harus membayar dobel" bisik Ken di telinga Imma.


"Abi.....umi..... baby Ezo mana?" tanya Fia dengan riang.


"Sstt...baby Ezo lagi bobok... jangan berisik" kata Ken sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

__ADS_1


"Ooooo bobok, kakak mau mandi, maunya mandi bareng Ezo!" pinta Fia ikut berbisik juga.


Imma turun dari tempat tidur jonggok mensejajarkan tubuhnya dengan Fia sambil memegang kedua pipinya.


"Sudah mau sekolah kok, mandinya mau bareng ... malu kakak, harus bisa mandi sendiri dong" titah Imma lembut.


"Aaah .... Umi, kemarin kakak dengar umi sama Abi mandinya berdua di kamar mandi" protes Fia dengan menghentakkan kedua kakinya bergantian.


Ken terkekeh melirik Imma, dan mentowel hidungnya dan berbisik "Senjata makan tuan itu namanya honey".


Imma menatap horor Ken, sedangkan Ken melenggang keluar dari kamar dengan tangan yang melambai serta tersenyum defil.


"Kakak....itu kemarin bukan mandi bareng tetapi Abi lagi bantu umi mengambilkan handuk yang tertinggal" jawab Imma berbohong dan sedikit kesal ditinggalkan Ken tanpa mau membantu menjawab pertanyaan Fia.


"Ayo..umi bantu kakak mandi ya..." rayu Imma lagi, Fia menganggukkan kepalanya dan mengikuti uminya ke kamar Fia.


Malam harinya Papi Bastian, Letnan Agung, Anton, Ken dan Sandi membicarakan tentang hal yang terjadi pada Faro dan cara mengatasinya.


Tetapi sebelum mereka mengadakan pertemuan itu Sandi menghubungi Hendra dan meminta pertimbangan kepada opanya Faro yaitu Tomy Sanjaya.


Letnan Agung menyarankan bahwa waktulah yang akan menyembuhkan Faro, yang jelas karena menyangkut mafia terbesar di Asia tenggara, sebaiknya lebih baik fokus pada keselamatan Faro saja.


Tomy Sanjaya juga saat itu vedio call dengan mereka dan dia mengatakan Tomy dan Baron yang akan bertanggung jawab tentang masalah itu, yang di Jakarta cukup hanya melindungi Faro dari mafia itu.


Ken termenung di kamar setelah selesai pertemuan mereka, lepas dari kandang harimau, sekarang terperosok di kandang singa, karena mendapat kabar jika yang di tembak oleh Faro adalah salah satunya anak angkat Theo Thanapon, masalah dengan Baron Pranoto hampir selesai, sekarang kelompok Theo Thanapon tidak akan tinggal diam tentang kejadian penembakan itu.

__ADS_1


__ADS_2