Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 113 Tanding Ulang


__ADS_3

Bagaimana jika kita tanding ulang Faro?" tantang Tomy Sanjaya.


"Ayo siapa takut!" jawab Faro mantap.


Tomy Sanjaya mempersiapkan diri dan membantu Faro memakai peralatan pengaman standar menembak yang sudah tersedia disana, Tomy juga memilih senjata yang paling ringan seperti pemilik Faro yang ada di Jakarta walaupun senjata itu asli tetapi yang paling ringan di antara senjata senjata yang lain.


Pertandingan ulang hanya di lakukan sekali saja dengan satu senjata dan enam peluru, peraturannya siapapun yang menembak tepat sasaran lah yang akan memenangkan pertandingan itu, dan yang menjadi jurinya adalah Ken dan Papi Bastian.


Ken mulai menghitung dengan hitungan terbalik, "tiga......dua....satu.... mulai" teriak Ken.


"Dor...dor...dor..."


"Dor.... dor...dor..".


Hanya ada suara yang menggema di dalam ruangan itu, setelah keduanya meletakkan pistol laras pendek, membuka pengaman standar menembak yang tadi di pakainya, baru keempat orang yang berbeda generasi itu langsung berlari ke arah sasaran tembak dan menilai mana yang paling tepat sasaran di antara keduanya.


Ternyata dari enam peluru sasaran yang paling tepat adalah punya Faro, sedangkan punya Tomy Sanjaya ada yang meleset sedikit di pinggir garis yang melingkar di daerah sasaran, akhirnya juri memutuskan jika Faro adalah pemenangnya.


"Yes.... Abi, Abang menang,...Abang menang" ucap Faro sambil memeluk Ken dari belakang.


Ken berbalik badan dan membalas pelukan Faro dengan hangat.


"Tidak sia-sia Abang berlatih dalam dua bulan ini dan memodifikasi senjata mainan Abang" bisik Ken di telinga Faro.


Tomy Sanjaya menghampiri ayah dan anak yang sedang berpelukan dengan erat itu.

__ADS_1


"Selamat Faro,... selamat, kamu memang benar benar berbakat, dua kali aku kalah dengan mu" kata Tomy Sanjaya sambil memeluk Faro dengan hangat.


Papi Bastian juga memberikan selamat kepada Faro dengan memeluknya juga, akhirnya mereka berpelukan berempat dengan gembira, hanya sayangnya Ken tidak merekam kejadian itu karena handphone nya tidak di bawa baterainya habis.


Pagi harinya setelah sarapan pagi keluarga Papi Bastian pamit, menuju hotel yang sudah di reservasi Sebelum peresmian pembukaan destinasi pariwisata alam kemarin, Ken memesan tiga kamar, satu untuk Papi Bastian dan Mami Winda, satu lagi untuk Ken dan Imma, serta satu lagi untuk Kemmy, Faro dan Fia.


Untuk beberapa hari ini mereka akan menikmati keindahan pariwisata alam yang ada di dalam lingkungan perkebunan teh itu dengan hati yang bahagia, terutama saat Faro menikmati arena paintball bersama keluarga besar nya.


Sedangkan uthi Sumi beberapa hari ini menemui teman teman lamanya, membantu mereka yang kekurangan, mengunjungi temannya dari rumah ke rumah di temani ibu Yati.


Sudah hampir tiga hari ini Imma tidak bertemu uthi Sumi, dia sangat merindukan sosok wanita tua yang merawatnya dari bayi itu, menelpon nya bercerita tentang yang dialami saat di hotel, Uthi Sumi mengajak Imma Sebelum pulang ke Jakarta untuk berziarah ke makam ayah kandungnya dan berziarah ke makam suami dan putra Uthi Sumi di makam yang berbeda tempat.


Saat berziarah ke dua tempat itu hanya Uthi Sumi, Imma dan di temani oleh bu Yati, sedangkan yang lain masih menemani Faro dan Fia berbelanja oleh oleh khas daerah itu.


Seperti kemarin saat pertama mereka tidur di tempat tidur itu, saat tidur dengan tenang berdua tidak masalah, tetapi jika Ken mulai bergerilya mengganggu tidur Imma baru tempat tidur itu akan berulah. Ken mulai menggeser badannya mendekati Imma diikuti suara "kret......kret....kret....kret"


Ken mulai mencium bibir Imma dengan rakusnya dengan gerakan badannya yang naik turun suara tempat tidur itu ikut lagi "kret...kret..kret".


"Bi.. pelan pelan saja, tempat tidurnya berbunyi, nanti ada yang dengar" bisik Fatma sambil membalas ciuman Ken.


Ken perlahan turun ke leher memberikan tanda disana tetapi tetap suara itu mengikuti setiap gerakan Ken " kret..... kreet... Kreet".


Ken semakin tergoda setelah tangannya membuka kancing baju satu persatu ada dua gunung kembar yang menjulang itu, tanpa sadar Ken bergerak cepat mendakinya tetapi suara itu juga semakin cepat mengikuti nya pula " kret...kret.... kreeeet...kret... kreeeet".


Imma menjadi tidak konsentrasi dengan adanya suara tempat tidur yang mengikuti gerakan Ken, Imma terkekeh-kekeh dengan menutup mulutnya, takut terdengar oleh kamar sebelah yang di tempati oleh uthi Sumi.

__ADS_1


"Honey.....diam...bikin tidak konsentrasi aja, tambah kencang nich suara tempat tidurnya" celoteh Ken dengan mengulangi mendaki gunung kembar itu.


Tetap saja gerakan Ken yang semakin intens semakin kencang juga suara itu berbunyi, Imma semakin tidak bisa menahan tawanya, membuat buyar konsentrasi Ken dan membuat nya frustasi.


"Honey... jangan mengurangi kesenangan Abi, konsentrasi jadi hilang ih".


Karena kesal Ken menggendong bridal Imma ke bangku kayu panjang yang berada di samping tempat tidur, diletakkan Imma di bangku itu, di bukanya sisa baju Imma dan di lempar kearah tempat tidur, Ken mulai bergerilya kembali dari awal lagi, tetapi di luar dugaan Ken, bangku itu juga mengeluarkan bunyi yang lebih keras dari tempat tidur "kreeeet.... kreeeet... kreeeet".


Imma tertawa terbahak bahak mendengar suara itu, Ken menarik rambutnya dengan kesal, tetapi akhirnya Ken ikut terkekeh dengan kejadian hari ini, karena belum sempat tersalurkan baru setengah permainan, akhirnya Ken menarik kasur dari tempat tidur itu ke lantai di antara tempat tidur dan bangku panjang.


Baru Ken bisa konsentrasi dengan kasur yang berada di bawah, demikian juga Imma sudah mulai terbawa permainan Ken mendesah kecil, dengan suara desahan itu Ken semakin menggebu-gebu bergerilya menandai di setiap inci favorit nya.


Semakin intens gerilya Ken, menabsen setiap inci disana, memutari gunung kembar itu dengan bibirnya sampai di puncaknya sesaat, menyatukan keduanya sampai di puncak kenikmatan surga dunia keduanya baru tumbang bermandikan peluh membasahi tubuh keduanya.


Kamar Imma itu tidak ada kamar mandinya, sehingga Ken tidak bisa minta bersambung seperti biasanya.


"Honey... tidak asyik....tidak bisa menambah episode, rumah umi aneh, kamar mandi kok di luar" protes Ken.


"Ya memang begini Bi, kehidupan umi dulu, jangan menghina dong"


"Tidak menghina Honey.... hanya aneh aja, coba bayangkan, masak tempat tidur dan bangku bisa seragam begitu suaranya?".


Imma kembali tertawa kembali, menutup mulutnya dengan cepat karena waktu hampir menunjukkan tengah malam, takut di kira ada kuntilanak, malam malam menertawakan suara bangku dan tempat tidur yang seragam.


Mereka tidur di kasur yang ada di bawah sampai pagi menjelang dengan selimut tebalnya, Imma tanpa mengenakan baju kembali sedangkan Ken menggunakan celana pendek dan kaos oblong karena tidak tahan dingin.

__ADS_1


__ADS_2