
Hari ini saat istirahat siang Bayu datang mengajukan proposal awal tentang konsep pembangunan dan perbaikan yang perlu demi kemajuan Kafe.
Ken sangat setuju dengan konsep yang di ajukan oleh Bayu, dalam waktu dua bulan kedepan target nya harus sudah selesai.
Ken ingin saat putri kecilnya lahir kafe nya akan sudah selesai di dengan konsep yang baru.
Bayu memang memiliki kemampuan yang bisa di andalkan, baru berjalan satu bulan pembangunan nya hampir selesai.
Kehamilan Imma juga semakin membesar saja, kegiatan Imma sehari hari semakin terbatas karena bertambahnya berat badan dan usia kandungan nya.
Mengikuti senam hamil dua kali dalam seminggu, yang selalu di dampingi oleh Ken, atau setiap pagi berjalan di sekitar rumah adalah kegiatan rutin Imma saat ini.
Ken juga sudah jarang pulang malam jika bekerja, jika harus keluar kota Ken tidak pernah menginap karena ingin selalu menjadi suami siaga, juga di dampingi uthi Sumi yang sengat menyayangi nya.
Jika tugas luar kota lama akan diwakilkan oleh asisten nya sandi, papi Bastian juga melarang Ken untuk mengerjakan pekerjaan yang menyita waktu lama.
Ken dan Imma hari demi hari juga semakin mesra, Ken sering beralasan menengok putri kecilnya jika berdua di kamar, kadang beralasan membuat jalan lahir lebih cepat jika merayu Imma.
Tetapi Ken harus bermain dengan cantik dan lembut agar tidak melukai putri nya, Imma sudah mulai hafal dengan peringai suami kesayangan nya itu.
"Aduh....aduh..... Ada apa nak kenapa nakal di dalam?" ucap Imma saat bayinya itu aktif menendang dari dalam.
"Apakah putri Abi ingin di jenguk?".
Ken mengusap perut buncit Imma sambil mengedipkan matanya.
"Itu bukan keinginan putri kita, tapi keinginan Abi nya".
Ken tersenyum memeluk Imma dari belakang menciumi tengkuknya sambil berbisik.
"Tauuuuu aja umi seksi tersayang".
"Tidak usah merayu, bilang aja umi gendut sekarang, pakai bilang seksi segala".
"Justru semakin naik berat badan umi, Abi semakin tergila-gila, rasanya selalu ingin menengok putri kita jika Abi dekat umi".
Ken langsung bergerilya dengan nakal, Imma hanya tersenyum menggelengkan kepalanya, semakin hari semakin candu bagi Ken melihat Imma yang perut membuncit dan dadanya yang semakin montok.
Bergerilya dari wajah cantik Imma sampai perut buncit nya, tengkuk, leher selalu dia absen tanpa ada yang tertinggal, selalu meninggalkan jejak sebagai tanda kepemilikan nya.
Kegiatan itu adalah candu bagi Ken, sampai mencapai kenikmatan yang luar biasa pada keduanya.
Pagi hari saat berangkat kerja Ken mengantarkan Faro sekolah terlebih dahulu.
"Yang pintar belajar nya Abang Faro"
"Tentu Abi, Abi hati hati".
__ADS_1
"Nanti di jemput pak Sardi pulang nya, jangan lupa jaga umi dan adik bayi pipi tembem cantik".
"Ya Abi... Abang akan menjaga umi dan adik cantik sepulang sekolah".
Ken ke kantor setelah mengantar Faro, kegiatan Ken hari ini adalah meeting bersama klien di Bogor.
Bogor terkenal dengan kota hujan, pulang dari meeting pukul lima sore kota Bogor di guyur hujan cukup deras, di perjalanan ada jalan yang menggenang, membuat mobil yang melintas harus hati-hati, sebagian besar mogok karena mesin kemasukan air termasuk mobil Ken.
Ken terpaksa hujan hujan untuk mengeringkan mesin nya supaya tidak terlalu malam sampai rumah, karena terkendala oleh cuaca Ken sedikit terlambat.
Sampai rumah Ken menggigil kedinginan, Imma menjadi khawatir, kebingungan sendiri, karena selama ini Ken jarang sakit.
"Ayo Bi, ganti baju sini umi bantu".
Imma membuka baju Ken dengan cepat, kesempatan Ken langsung menempel termasuk yang ada dibawah sana.
"Abi...... Kenapa itu yang di tempelkan".
"Karena umi yang membukakan baju Abi jadi yang di bawah terbangun dengan sendirinya".
"Jangan macam-macam Bi, mandi air hangat cepat jangan lama-lama, umi buatkan teh hangat dulu".
Imma akan keluar dari kamar untuk membuat teh hangat tetapi ditarik oleh Ken.
"Mandikan dong umi, ya... Please".
"Ya sudah umi mandikan, tapi janji ya umi tidak ikut mandi ini sudah malam nanti umi ikut sakit".
"Iya honey.... yang paling seksi".
Imma memandikan Ken dengan cepat, menggosok punggung nya dan seluruh badannya dengan lembut setelah selesai membantu memakaikan baju tidur, meminta nya untuk istirahat di tempat tidur dan menyelimuti sampai leher.
Imma keluar kamar turun tangga menuju dapur untuk membuat kan teh hangat, dan mengambil nasi dan sayur soup, sesampainya di kamar Imma langsung meminta Ken duduk.
"Ayo Bi, di minum teh hangat nya".
Ken meminum teh hangat itu sedikit demi sedikit sampai terasa hangat perutnya.
"Makan dulu Abi, baru bisa minum obat".
"Suapin umi ya... tangan Abi dingin".
"Iya Abi sayang, ayo buka mulut nya haaa".
Sesuap demi sesuap nasi satu piring habis oleh Ken, minum obat dan menghabiskan teh hangat nya.
"Istirahat lah umi ke dapur sebentar mengembalikan piring".
__ADS_1
Saat kembali dari dapur Imma melihat Ken sudah terpejam, memegang kening Ken untuk memeriksa nya, tetapi Ken memegang tangan Imma dengan cepat.
"Aduh..... Abi......bikin kaget saja".
"Umi istirahat sini, tidak usah khawatir lagi, kalau sudah di peluk umi, nanti pasti Abi sehat".
Imma naik ke tempat tidur, masuk dalam satu selimut memeluk Ken dengan erat.
"Bi.... susah peluknya, Abi aja yang memeluk umi ya"
Imma yang notabene hamil tua mau memeluk Ken sedikit susah karena terhalang perut buncit nya, akhirnya Ken yang memeluk umi dari belakang seperti biasa nya.
Tetapi Ken masih merasa kedinginan dan sedikit menggigil, Imma kembali bangun dari tempat tidur kemudian mengambil minyak kayu putih.
Tetapi minyak kayu putih berada di kamar Faro, sehingga Imma menuju kamar Faro.
"Sudah tidur kah bang?"
"Belum umi, ini Abang masih baca buku cerita".
"Umi pinjam minyak kayu putih ya".
"Ambil aja Umi, untuk siapa?"
"Untuk Abi, pulang kerja tadi kehujanan jadi menggigil kedinginan".
Mendengar abinya sakit, Faro bangun dari tempat tidur dan mengikuti uminya ke kamar.
Imma mengoleskan minyak kayu putih itu di punggung, perut dan dada Ken dengan lembut,
"Apa yang sakit Abi, atau pusing kah?".
Tangan Faro memeriksa kening, tangan, kaki dan dada Ken dengan teliti, rupanya Faro sangat khawatir melihat abinya menggigil kedinginan.
"Abi cuma kedinginan bang, tidak usah khawatir".
"Apa yang harus Abang lakukan, biar Abi cepat sembuh?".
"Hari ini Abang tidur sama Abi ya, peluk Abi dari belakang" pinta Imma lembut.
"Ya umi, Faro naik tempat tidur ya".
Faro berbaring miring di belakang abinya memeluk nya dengan erat.
"Umi....sini depan Abi, nanti Abi yang peluk umi".
"Abang Faro sayang Abi, cepat sembuh ya".
__ADS_1
Imma juga ikut berbaring membelakangi Ken dan di peluk Ken dengan erat, sampai pagi tidur bertiga dengan hangat