Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 102 Battle Opo dan Cucu


__ADS_3

"Ayo.... kita bertanding....?" tantang Faro.


Tomy Sanjaya tersenyum mendengar tantangan Faro dan bergegas bersiap melawan anak yang baru berumur delapan tahun itu.


Faro mengambil tempat di sebelah kiri arena sedangkan Tomy Sanjaya ada di sebelah kanan arena, jarak mereka dengan sasaran adalah lima, enam dan tujuh meter, ada kain yang di rentangkan di ujung sana dengan ada lingkaran dan titik tengah yang menjadi sasaran nya.


Dengan juri Hendra, Ken dan Sandi pertandingan di mulai dengan hitungan


"satu.....dua..... tiga..... mulai".


"Dor..... dor......dor.....dor....".


Suara pistol itu menggema di seluruh ruangan itu, pertandingan akan di lakukan dengan tiga sesi dan tiga kali ganti kain yang berbeda jarak nya dan model pistol yang berbeda pula.


Selesai di sasi pertama bergegas Faro dan Tomy Sanjaya pindah ke sesi kedua dengan cepat dan berganti pistol yang berbeda-beda dan mengekang dengan cetakan.


"Ceklek..... ceklek....."


"Dor.....dor....dor...dor.....".


Sesi dua selesai kembali mereka bergegas ke sesi ketiga dan di lakukan seperti yang pertama dan kedua tadi.


Tomy dan Faro seperti terpacu adrenalin nya, Faro terduduk di samping kursi karena terlalu antusias sehingga nafasnya tersengal-sengal diikuti oleh Tomy Sanjaya yang dengan spontan memeluk Faro dengan hangat.


Ken melihat pemandangan seorang Tomy Sanjaya yang memeluk Faro hatinya berdegup kencang, andai mereka tahu jika itu antara kakek dan cucunya apa yang akan di lakukan oleh Tomy Sanjaya gumam Ken dalam hati.


Demikian juga dengan Sandi yang dari tadi mengambil vedio itu juga tidak kalah melo nya, sampai kapan ini akan di sembunyikan gumam Sandi dalam hati pula.


"Abi..... cepat di lihat bagaimana nilainya?" teriak Faro membangunkan lamunan Ken.


"Ya.... Abang....".


Ken dan Hendra mengamati lubang yang ada di masing-masing sesi dan di mencatatnya dengan adil, baru di bandingkan keduanya siapa yang jadi pemenang nya, sedangkan Sandi dari tadi tetap mengambil vedio dengan cermat.

__ADS_1


Di sesi satu Faro dan Tomy Sanjaya ada enam peluru berada di dalam lingkaran semua tanpa ada yang meleset, demikian juga di sesi kedua sama memiliki nilai yang sama, jadi yang menentukan adalah di sesi ketiga, mungkin karena faktor umur dan jarak yang lebih jauh ada salah satu peluru Tomy Sanjaya tepat di garis lingkaran sehingga pertandingan itu di menangkan oleh Faro.


"Yes....yes...Abi, Abang menang terima kasih" ucap Faro sambil meloncat loncat kegirangan.


"Opa jangan lupa janjinya, aku ingin melihat koleksi opa? Tagih Faro kepada Tomy Sanjaya.


"Pasti tetapi harus dengan seijin Abi mu, fahamkan maksud opa?" jawab Tomy tegas.


Faro menundukkan kepalanya mukanya di tekuk menahan kecewa karena tidak bisa melihat koleksi senjata itu.


"Kenapa merajuk anak ganteng, untuk sementara ini dulu ya..nanti jika ada waktu baru kita melihat koleksi senjata nya" kata Tomy Sanjaya sambil mengulurkan paper bag yang berisi pistol yang dulu pernah di berikan kepada Ken saat pertama kali berkunjung ke perkebunan teh itu.


Faro menerima paper bag itu dibukanya dengan cepat karena penasaran apa isinya, ada pistol laras pendek lengkap dengan surat yang sudah di ganti dengan nama Kenzie Wiguna.


"Terima kasih opa, boleh Abang coba, Abi?" tanya Faro sambil melihat sendu abinya.


"Iya bang...tapi ingat, beda lo bang berat nya hati-hati" jawab Ken dengan memberikan arahan kepada nya.


Faro mulai mengamati senjata laras pendek itu, di bolak baliknya sebentar dan di cobanya pada tempat sesi yang pertama.


"Wauw...... ternyata beda rasanya" ucap Faro sangat antusias.


Selesai mencoba senjata itu diserahkan kepada Ken untuk disimpan katanya, karena pistol itu masih terlalu berat untuk Faro dan belum waktunya Faro berlatih dengan senjata otomatis yang asli itu pesan Akung Letnan.


Datang Imma dan Fia dari arah luar mendekati mereka dengan tergesa-gesa.


"Honey.....sini, kenalkan ini pak Tomy Sanjaya dan itu asisten Hendra" kata Ken memperkenalkan istrinya itu.


Imma tersenyum sambil mencium punggung tangan Tomy Sanjaya serta bersalaman dengan Henda.


"Nak Imma dapat salam dari istri dan anakku Dini, dan ini titipan dari Dini" ucap Tomy Sanjaya sambil mengeluarkan paper bag kecil dari tas kerjanya.


"Iya pak terima kasih" Imma menerima paper bag itu dengan hati gembira.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Dini, dia ada di Jakarta, tetapi sayangnya nya dia sedang menunggu mamanya di rumah sakit"cerita Tomy Sanjaya.


"Nanti hari Minggu pak, kami sekeluarga akan kesana tolong sampaikan kepada Tante Dini, dan semoga ibu cepat sembuh seperti sedia kala" jawab Ken.


"Aamiin...." Jawab mereka bersamaan.


Tiba tiba Sandi mendekati Ken dan berbisik di telinga nya.


"Bos, aku ijin pulang dulu Mely minta di belikan es krim durian, kalau tidak di turuti nanti ngiler baby-nya".


"Ya sana...kamu baru merasakan to, bagaimana orang ngidam, dulu kau sering meledekku... rasakan sekarang" ledek Ken dengan senyum defilnya.


Mely istri Sandi yang dia nikahnya dua tahun lalu memang sengaja menunda kehamilan karena ingin menyelesaikan kuliahnya dulu, setelah tinggal skripsi baru Mely sekarang hamil dua bulan.


Bareng Sandi pamit pulang Tomy Sanjaya dan Hendra juga pamit pulang untuk kembali ke apartemen nya.


Saat Sandi ke supermarket mencari es krim durian bertemu dengan Anton disana sedang mengantar istrinya berbelanja kebutuhan sehari-hari, saat intan Ariyani istri Anton berbelanja, Sandi menunjukkan vedio battle nya antara Faro dan Tomy Sanjaya tadi.


"San coba kirim ke aku vedio itu, aku mau?" perintah Anton dengan antusias.


Dengan cepat Sandi mengirim vedio itu baru kemudian buru-buru pulang ke apartemen nya karena Mely sudah menunggunya dan menghubungi beberapa kali.


"Iya beb ini sudah dapat es krim nya sudah otw pulang sabar" kata sandi sambil melakukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang padat saat jam pulang kerja sebagian masyarakat Jakarta.


"Cepat Kak, ini sudah mau ngiler nich" rengek Mely dengan manja nya.


Sedangkan di dalam supermarket Anton yang sedang menunggu istrinya belanja mengirim pesan dan vedio yang di rekam sandi antara Faro dan Tomy Sanjaya lewat WA kepada Dini yang saat itu sedang berada di duduk samping mamanya yang semakin hari semakin membaik.


Saat notifikasi itu masuk Dini langsung membuka handphone nya karena itu dari Anton pasti ada yang penting.


"Jangan cerita kepada bos besar ya tentang vedio ini" pinta Anton dalam pesan.


"Ok..... siap laksanakan, terima kasih mas" balas Dini.

__ADS_1


Dini dan mama Nadia melihat vedio itu dengan hati yang berdegup kencang pertemuan antara kakek dan cucu laki-laki itu bersamaan dengan datangnya Tomy masuk ruang rawat inap itu.


"Papa....." ucap Mama Nadia dan Dini bersamaan.


__ADS_2