Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 63 Selfi Bareng Faro


__ADS_3

"Papa..... capek kah?".


"Sedikit nak, ada apa memangnya?"


"Aku mau jalan-jalan keluar sebentar mengajak mama, apakah papa mau ikut?".


"Maaf.... papa mau istirahat, ya sudah....Dini ajak mama jalan jalan saja tapi jangan terlalu malam ya pulang nya".


"Iya pa... terima kasih".


Dini dan Mama Nadia berangkat ke Imma kafe dengan hati hati, setelah sampai di sana Dini langsung memakirkan mobilnya di tempat parkiran.


Tetapi Imma kafe sedang tutup, ada acara pengajian di sebelah kafe itu terlihat jelas dari kafe karena sudah tidak ada pagar tinggi seperti yang Dini lihat saat berkunjung pertama kalinya.


Dini dan Mama Nadia tetap di dalam mobil, tidak turun dari sana, hanya mengawasi saja, memang agak sepi kafe itu karena sebagian besar berada di rumah utama sedang menghadiri pengajian itu.


Sudah hampir setengah jam acara pengajian itu berlangsung, terdengar ada pembacaan surah Yusuf dan surah Maryam, ada sesosok anak laki-laki kecil melintas disana sambil memegang tembak tembakan.


Dini dan Mama Nadia turun dengan cepat dan memanggil anak itu.


"Faro... boleh Tante bicara sebentar?"


"Ya... Tante ada apa, salim muaaah, Salim uthi juga muaah".


"kok kafenya tutup?"


"Ada pengajian untuk adik pipi tembem".


"Boleh kah minta foto Selfi sebentar?"


"Boleh..... boleh...".


Dini memeluk Faro dan Mama Nadia menempelkan pipi nya ke pipi Faro dan ber selfi ria.


"Cekrek..... cekrek.... cekrek...."


Dini juga mengambil foto berdua dengan Faro juga lumayan banyak.


"Ok Faro terima kasih ya.... kami pamit dulu daaaaa".


Dini dan Mama Nadia naik ke mobilnya dan keluar dari parkiran melaju membelah malam dengan kecepatan sedang sampai ke sebuah restauran dan masuk ke area parkir.


Di restauran itu ada menu opor ayam kampung kesukaan Papa Tomy, Dini membeli tiga porsi untuk makan malam nanti.


Baru melanjutkan perjalanan kembali menuju apartemen yang ada di tengah ibukota Jakarta.


Sedangkan di rumah Imma dan Ken masih hikmat mendengarkan ceramah dari seorang ustadz terkenal ibukota.


Ada pesan pesan yang penting dari ustadz tentang kewajiban orang tua yang harus mendidik anak-anak nya dengan penuh kasih dan sayang sesuai tuntunan agama.

__ADS_1


Tidak lupa pula ada infotainment yang meliput acara pengajian yang di adakan oleh Ken dan Imma malam itu, tetapi tidak di siarkan langsung, besok baru akan tayang di infotainment pagi dan sore.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam acara pengajian itu selesai, semua karyawan ikut membersihkan ruangan dengan bersih.


Faro sudah berada di peraduan nya dengan cepat karena siang tidak tidur, rupanya kecapean membuat nya cepat terlelap dalam mimpi nya yang indah.


Imma duduk dengan meluruskan kaki nya di atas tempat tidur, kakinya terasa pegal karena seharian ini penuh dengan kegiatan yang menyita tenaga nya.


"Capek kah honey... sini Abi pijitin".


Ken Memijat dengan pelan pelan kaki Imma, terlihat agak bengkak kakinya.


"Bi... kok jadi lebih besar semua ya sekarang, baju umi juga sudah mulai tidak muat".


"Coba sini Abi periksa".


Ken mencoba memegang semua bagian tubuh Imma, kaki, tangan, perut bahkan gunung kembar nya juga Ken ukur".


"Betul.... ini apa lagi semakin besar.."


Ken memegang kedua gunung kembar nya dengan kedua tangan nya.


"Abi.... mengapa ini yang di ukur?.


"Karena ini semakin besar, umi terlihat lebih seksi, Abi sangat menyukai nya".


"Maksudnya umi tambah gendut gitu".


Imma mengerucutkan bibirnya dengan kesal, tetapi justru membuat Ken gemas dan langsung mencium bibir Imma dengan lembut.


"Kalau umi seperti itu Abi malah tidak bisa menahan nya lagi".


Ken langsung bergerilya, tangannya menyusuri setiap daerah kepemilikan nya, memberikan tanda kepemilikan di sana.


Tidak ada tempat yang terlepas dari tanda kepemilikan Ken, Imma hanya bisa mendesah kecil, mengikuti irama yang Ken buat, sampai dengan penyatuan keduanya sampai ke klimaks nya, keduanya langsung tumbang di tempat tidur saling memeluk tanpa ada sehelai benang pun yang ada di tubuhnya, hanya selimut tebal yang menutupi keduanya.


"Apa Bi, kok memandang umi seperti itu, jangan bilang mau sekali lagi ya... umi capek".


"Tidak honey.... istirahat lah, I love you".


Ken mencium kening Imma dengan lembut dan memeluknya tertidur sampai menjelang pagi dan matahari mulai mengeluarkan cahaya pagi yang hangat.


Di apartemen pagi ini Mama Nadia membuatkan sarapan pagi nasi goreng dan kopi pahit untuk papa Tomy.


"Papa hari ini apakah ada meeting lagi?".


"Ya...mama tetapi agak siang".


"Ooooo ya sudah sarapan pagi dulu".

__ADS_1


"Kemana Dini kok belum keluar?".


"Sebentar.... mama panggil Dini dulu, papa sarapan duluan saja".


Mama Nadia berjalan ke arah kamar Dini, membuka pintu kamar itu.


"Din...... ayo sarapan dahulu".


"Iya ma.... sebentar, ini lagi mengedit foto foto Faro".


"Nanti ketahuan papa, di edit nya nanti kalau papa sudah berangkat".


"Baiklah.... ayo ma kita sarapan dulu".


Dini langsung menuju meja makan, sampai disana langsung duduk dan makan dengan lahapnya bersama Papa Tomy dan Mama Nadia.


Pukul sepuluh pagi papa Bastian meninggalkan apartemen bersama asisten pribadi nya Hendra.


Dini dan Mama Nadia langsung duduk berdampingan untuk melihat foto foto yang di dapatkan nya tadi malam bersama Faro.


Foto yang paling bagus dan menarik adalah saat Faro memegang pistol dan diapit oleh Mama Nadia dan Dini.


"Mama ayo kita ke mall dulu, aku mau cari celana jeans pesanan anak anak".


Mereka berangkat berdua ke sebuah mall yang sering mereka datangi saat berada di Jakarta.


Hari ini Faro pulang sekolah di jemput oleh mami Winda dan Papi Bastian, mereka ingin menghabiskan waktu bersama karena kemarin papi Bastian tidak bisa hadir saat Faro ulang tahun.


Hari ini Ken juga mengajak Imma pergi ke mall untuk mencari baju karena bajunya sudah banyak yang tidak muat di pakai.


"Honey..... belinya di tempat langganan mami aja" kata Ken saat tiba di mall itu.


"Ke sini dulu Abi.....umi mau cari baju untuk di rumah, nanti baru kesana".


Saat Imma memilih baju Ken mengikuti Imma dari belakang dan memegang tas milik Imma.


"Honey..... Abi ke toilet sebentar ya".


"Ya... jangan lama-lama Bi".


Ken berlari kecil ke sebelah kiri mall itu menuju toilet, tetapi selang beberapa saat ada sosok laki-laki muda menghampiri Imma dengan memanggil namanya.


"Imma.....kamu Imma Anjani kan?".


Sosok laki-laki muda itu merentangkan kedua tangannya berniat akan memeluk Imma, tetapi Imma mundur beberapa langkah sehingga tidak sempat di peluk oleh nya, muka Imma pucat seketika melihat sosok laki-laki muda itu.


"Honey......kau tidak apa-apa, siapa dia?".


Imma menyusup dari sebelah kiri Ken berlindung di balik tubuh Ken yang kekar.

__ADS_1


"Siapa kau.... minggir aku mau bicara dengan dia sebentar?" ucap sosok laki-laki muda itu dengan tidak sopan


__ADS_2