
"Umi.... Abang baik-baik saja, tidak usah khawatir, apakah umi lupa sekarang Abang sudah di khitan, jadi Abang sudah besar sekarang" ucap Faro sambil memeluk Imma dengan erat.
"Iya putra umi sudah besar sekarang, sudah bisa menjaga keluarganya dengan penuh tanggung jawab" jawab Imma sambil tersenyum walaupun masih sambil mengeluarkan air mata.
Selesai makan malam, Faro di ajak ke ruang keluarga untuk menceritakan tentang latar belakang kejadian yang terjadi baru saja di jalan sepi samping gedung kosong itu.
"Apakah nama lengkap Abi kandung Abang adalah putranya Opa Tomy yang bernama Abi Dona Sanjaya?" tanya Faro mengawali pembicaraan.
"Begini nak cerita nya" jawab Ken memulai menceritakan tentang keluarga kandung abinya yaitu Dona Sanjaya.
Tetapi Ken sengaja tidak menceritakan semuanya karena mengingat umur Faro yang masih kecil, dia berniat menceritakan secara bertahap.
Ken bercerita jika abi kandungnya memang Abi Dona Sanjaya putra dari Opa Tomy Sanjaya, Ken juga menceritakan tentang latar belakang pekerjaan Opa Tomy Sanjaya saat masih muda dan penembakan tanpa sengaja terhadap adik kandung Baron Pranoto yang sekarang menjadi musuh opanya itu.
Faro juga baru mengetahui jika Andri Pranoto yang pernah di tolong nya adalah putra dari rival opanya sendiri, dan satu lagi Ken juga menceritakan jika asisten Heri juga cucu dari Baron Pranoto.
Yang tidak Ken ceritakan adalah ibu kandung Faro yang sebenarnya, karena ingin menunggu sampai Faro dewasa terlebih dahulu.
"Apakah Abang tahu, jika bakat menembak Abang adalah dari Opa Tomy yang memang Opa kandung Abang sendiri" cerita Ken dengan antusias.
Faro hanya mengangguk tanda mengerti dan bisa menarik garis antara bakat dan kemampuan yang dimiliki, serta kejadian akhir akhir ini yang telah menimpanya.
"Tetapi Abi masih sayang Abang kan?, walaupun Abi tahu siapa sebenarnya keluarga kandung Abang?" tanya Faro sambil menatap sendu Ken.
Seketika Ken memeluk putranya itu dan meraih Imma juga di ajaknya juga berpelukan.
"Dari sejak awal Abi bertemu Abang, Abi menyayangi Abang seperti putra kandung Abi sendiri" jawab Ken mantap.
"Oya Bang, ada satu lagi yang belum bisa Abi ceritakan sekarang" kata Ken lagi saat Faro mendekati kedua adiknya yang duduk di samping Imma.
"Apa itu Abi?" tanya Faro dengan menatap sendu wajah Ken.
"Tetapi maaf Bang, nanti minimal kalau Abang sudah lulus SMU baru Abi bisa cerita, yang penting ini semua demi kebaikan Abang, Abang percaya kan sama Abi?".
"Iya Bi, Abang sangat percaya sama Abi, apakah boleh suatu saat nanti Abang tagih janji Abi?" jawab Faro sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tentu Bang, jika Abi lupa boleh Abang tagih langsung, anggap saja Abi punya hutang yang harus Abi bayar, yang jelas jangan sekarang nanti jika sudah waktunya".
________________
Sementara di tempat kejadian perkara penembakan itu Letnan Agung mengubungi putra kandungnya untuk menyelesaikan masalah itu.
"Andri bawa sini senjata kamu, biar aku saja yang bertanggung jawab atas penembakan tiga orang laki-laki yang ada di atas gedung kosong itu!" perintah Baron dengan tegas.
"Tetapi Papa, nanti..... bagaimana---?" jawab Andri dengan terbata-bata.
"Jangan banyak membantah, bawa sini!" perintah Baron dengan mata yang tajam dan sangat marah.
Andri berjalan menghampiri papanya dan mengulurkan tangannya memberikan pistol otomatis itu, pasti papa mempunyai rencana tersendiri gumamnya dalam hati.
Baron meninggalkan jejak sidik jari ke pistol itu sebelum polisi datang, sedangkan yang lain hanya bisa diam seribu bahasa asyik dengan fikirannya sendiri sendiri.
Rombongan pihak kepolisian datang, memberi tanda dengan police line, Baron Pranoto di bawa ke rumah sakit terdekat bersama dengan empat korban yang tewas termasuk Leo Bardan. Sedangkan yang tidak terluka mengikuti ke kantor polisi untuk membuat pernyataan dan membuat keterangan apa yang baru saja terjadi.
Sampai di rumah sakit Baron Pranoto langsung dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya.
Andri Pranoto setelah mengabarkan kepada ibu Sarah, Trisya Hamsah istrinya dan Mama kandungnya di Singapura Mama Cecilia.
Flashback on.
Andri mencari papanya di markas pusat yang berada di dekat pasar induk Kramat jati Jakarta timur, tetapi yang di temui hanya Lewi Cervantes yang sedang standby disana.
"Lewi dimana papa?" tanya Andri dengan suara yang keras.
"Dia sedang mengikuti cucu laki-laki dari pak Tomy Sanjaya, ada bos?" jawab Lewi penasaran.
Andri membelalakkan matanya mendengar pernyataan Lewi, dengan cepat menggebrak meja, bergegas ingin mengetahui dimana posisi papanya itu.
"Lewi..." panggil Andri dengan suara yang lebih tinggi.
"Ya bos ada apa?".
__ADS_1
"Cepat kamu lacak posisi papa dimana menggunakan handphone mu?"
"Tapi bos...,".
Karena Andri melotot menatap tajam ke arah Lewi, dia tidak berani membantah "cepat...."
Setelah Andri mendapatkan posisi dimana papa dan Leo Bardan berada dengan menggunakan mobil kecepatan tinggi menyusul mereka dengan harapan masih bisa menyelamatkan Abang Faro dari kemarahan papanya itu dengan menggunakan GPS yang telah di dapatkan dari Lewi.
Andri melewati dua lampu merah dengan kesal, memukul setir dengan keras seperti orang kesetanan, membuat waktu seakan berhenti sejenak setelah lampu berwarna kuning Andri sudah melesat cepat tanpa memperdulikan keadaan sekitar hampir saja menabrak mobil yang datang dari arah berlawanan.
Dengan kecepatan tinggi Andri melajukan mobilnya berharap tidak terlambat menyelamatkan nyawa Abang Faro dan papanya dari dosa jeruji besi yang akan di tanggung di kemudian hari.
Betul saja Andri sampai di tempat yang di tuju tepat waktu, mendadak menghentikan mobilnya tepat di samping mereka.
Flashback off.
Lamunan Andri berakhir setelah ibu Sarah, Heri, Indri dan kedua anaknya Jasson dan Jessi datang dari kejauhan dan memanggilnya.
"Papa.... Papa...." Panggil Jessi dengan memeluk papanya dengan erat.
"Bagaimana keadaan papamu nak?" tanya Ibu Sarah dengan khawatir.
"Papa sekarang masih di ruang operasi Bu, karena ada peluru yang bersarang di lengannya akibat terkena tembakan dari orang yang belum di ketahui identitas nya".
Karena mendengar cerita papanya Jasson memeluk neneknya dengan erat dan mengeluarkan air matanya.
Bergegas Ibu Sarah memeluk Jasson dan bersenandung sholawat nabi dengan merdu, berangsur angsur Jasson menghangat dan emosinya kembali stabil.
Ada suster yang membuka ruang operasi dan bergegas semua keluarga Andri mendekati suster itu termasuk Baron.
"Bagaimana dengan papaku suster?" tanya Andri dengan khawatir.
Suster itu tersenyum ramah mendekati keluarga yang sangat khawatir dan memberikan keterangan dengan hati-hati.
"Begini bapak ibu, apakah bapak Baron memiliki riwayat diabetes?" tanya suster dengan tegas.
__ADS_1
"Iya suster papa memang memiliki riwayat diabetes" jawab Andri.
"Setelah operasi ini mungkin luka bapak akan lebih lama keringnya karena adanya riwayat diabetes, harus lebih diperhatikan dalam merawat beliau ya!" perintah suster lagi.