Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 142 Aqiqah dan Bertanding Bertiga


__ADS_3

Sekarang sudah hari Sabtu, esok hari acara aqiqah baby Ezo, acaranya akan buat konsep yang santai, karena siang harinya akan di adakan di kafe, baru malamnya akan ada pengajian dan potong rambut di rumah utama.


Hari ini juga Tomy Sanjaya berangkat ke Jakarta di dampingi oleh asisten Hendra dari bandara internasional Soekarno Hatta ingin mencari buah tangan untuk cucu laki-laki kesayangan, untuk Fia dan bayi laki-laki yang baru lahir juga karena tidak sempat membeli buah tangan dari kampung halaman.


"Kita cari buah tangan dulu aja Hen, sebelum ke rumah Abang" perintah Tomy saat keluar dari bandara.


"Baby shop dan toko mainan kah bos?" tanya Hendra.


"Jangan toko mainan toko sepatu aja, beli sepatu untuk mereka aja karena sebentar lagi Fia akan sekolah" perintah Tomy lagi.


Sudah dapat baju bayi lucu-lucu yang dominan warna biru, Hendra di toko sepatu dengan merk yang cukup terkenal, mereka masuk parkiran yang cukup luas, turun dari mobil sekilas Tomy melihat sekelebatan sosok laki-laki tua dengan siluet tidak begitu asing di mata Tomy.


Karena jarak yang lumayan jauh hingga Tomy Sanjaya menyipitkan matanya agar bisa mengenali sosok siluet yang tidak asing baginya itu, tetapi sayangnya setelah di dekati sosok itu menghilang di balik gedung mall yang sangat ramai karena memang sekarang weekend.


"Siapa bos yang anda lihat?" tanya Hendra penasaran.


"Sepertinya aku melihat sosok laki-laki yang begitu familiar di mataku, tetapi cepat sekali jalannya" jawab Tomy.


Hendra hanya mengerutkan keningnya saja dengan jawaban bos besarnya itu, membuat hatinya lebih penasaran.


"Coba kamu cari tahu apakah Baron Pranoto saat ini ada di Jakarta!" perintah Tomy.


Hendra mengangguk, berfikir kemungkinan yang di lihat bosnya itu adalah Baron Pranoto, bergegas Hendra menghubungi anak buahnya yang ada di Jakarta untuk mencari informasi tentang rivalnya itu.


Masuk ke toko sepatu dengan memilih beberapa pasang ukuran untuk Faro dan Fia baru pulang ke apartemen untuk beristirahat dan bertemu dengan istri dan anaknya.


Pagi hari pukul sepuluh pagi di rumah Ken aqiqah dimulai dengan mengundang anak yatim-piatu, dan para pengunjung kafe hanya disediakan menu makanan khas aqiqah dengan gratis.


Keluarga Tomy Sanjaya datang di kediaman rumah Ken sejak pagi, dengan akrab mereka membantu semua keperluan yang di perlukan dalam acara aqiqah itu.

__ADS_1


Setelah anak yatim-piatu selesai menyantap makanan yang telah di sediakan, di berikan amplop satu persatu dan pulang dengan gembira, siang hingga sorenya gantian teman dan rekan bisnis yang datang di acara aqiqah itu, sebagian besar mereka tidak pulang karena akan langsung mengikuti acara pengajian dan potong rambut serta doa untuk pemberian nama.


Di sela-sela acara aqiqah itu ada sedikit waktu senggang pada senja hari Faro dan Tomy berlatih bersama saat ada Akung Letnan berkunjung untuk mengucapkan selamat atas kelahiran baby Ezo.


Jadi mereka bertanding bukan berdua melainkan mereka bertanding bertiga, disaksikan oleh para laki-laki yang tidak lain adalah Papi Bastian, Heri, Rama, Hendra, sandi, Bayu.


Dipersiapkan oleh Ken tiga arena yang akan di pakai untuk bertanding, Sandi seperti biasa sebagai juru vedio dan foto, sedangkan sisanya sebagai juri.


Walaupun posisi bertanding tidak berpindah tempat tetapi mereka harus menggunakan senjata otomatis dua tipe yaitu senjata Laras pendek, dan Laras panjang satu senjata ada enam peluru.


Saat persiapan sudah selesai, Faro, Akung Letnan dan Opa Tomy bersiap di tempat arena masing-masing, dan mulai menggunakan senjata laras pendek.


"Ayo dalam hitungan tiga di mulai ya...satu dua.. tiga.... mulai" perintah Ken.


"Dor......dor......dor".


"Dor.....dor.......dor".


"Kita mulai lagi...tiga... dua....satu..mulai" kata Ken dengan lantang.


"Dor.....dor......dor".


"Dor....dor.......dor".


Selesai pertandingan para juri berlari menuju tempat sasaran dan menilai siapa juaranya, harus dinilai dengan adil tanpa memihak kepada siapapun.


Faro mendapatkan nilai sempurna karena peluru yang ditembakkan tepat sasaran tidak satupun yang meleset, sedangkan Akung Letnan dan Opa Tomy memiliki skor yang sama karena hanya ada satu peluru yang meleset, sehingga di putuskan jika jarak yang akan dinilai untuk menentukan juara kedua dan ketiga.


ternyata jaraknya antara peluru keduanya lebih mendekati peluru Opa Tomy dari pada punya Akung Letnan, sehingga juara kedua adalah Opa Tomy dan juara ketiga adalah Akung letnan.

__ADS_1


Faro sudah lompat lompat kegirangan karena menang dari kedua laki-laki gaek yang dia kagumi itu, antara Akung Letnan dan Tomy Sanjaya bersalaman saling mengucapkan selamat dan Tomy Sanjaya mengangkat Faro dengan berputar putar karena begitu bangganya kepada cucu laki-laki yang begitu memiliki keahlian yang sangat langka.


Hendra langsung meminta vedio dan foto foto yang diambil oleh Sandi sejak awal pertandingan sampai selesai pertandingan.


Malam harinya acara di lanjutkan dengan pengajian dan potong rambut untuk doa pemberian nama baby Ezo dengan hikmat, baby Ezo di gendong oleh Ken saat acara potong rambut di dampingi oleh Imma dan banyak yang mendoakan semoga menjadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tua, bangsa dan negara.


Pagi harinya Hendra mendapatkan kabar dari anak buahnya jika sudah lebih dari sepekan ini Baron Pranoto tinggal di Indonesia karena terjadi perpecahan kepemimpinan yang ada di Jakarta.


Sebelum pulang ke perkebunan teh keluarga Tomy Sanjaya mencari oleh-oleh pesanan kedua putrinya Dini ke sebuah mall ternama di Jakarta.


Tomy Sanjaya mengajak Hendra ke tempat toko sepatu yang mereka kunjungi kemarin berharap bisa bertemu orang yang kemarin dia lihat secara samar-samar tetapi tidak asing baginya.


Saat sampai depan toko sepatu itu dan memarkirkan mobilnya, Hendra meminta izin pergi ke toilet sebentar karena ingin buang air kecil.


Tomy memutari area parkir itu, berharap orang yang dia lihat kemarin bisa bertemu kembali dengan orang yang di curigai oleh Tomy tetapi belum sempat memberi tahu Hendra ataupun keluarganya.


Hendra bergabung lagi bersama Tomy Sanjaya setelah selesai dari kamar mandi, dan heran apa yang sebenarnya bosnya cari gumam Hendra dalam hati.


"Bagaimana bos, kita mau kemana?" tanya Hendra penasaran.


"Kita ke mall aja yok, siapa tahu ketemu disana!".


Hendra hanya mengikuti langkah panjang Tomy tanpa berani bertanya kepada bosnya itu, setelah beberapa langkah Tomy menghentikan langkahnya sejenak.


"Coba kamu lihat kearah jam sebelas, apakah kamu mengenali orang itu?" tanya Tomy dengan melirik orang yang gerak geriknya mencurigakan.


Hendra langsung menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh Tomy Sanjaya dan memperhatikan mereka satu persatu, bagi Hendra tidak asing lagi karena mereka sering mengikutinya kemanapun dia pergi saat di Jakarta.


"Mereka anak buah Baron Pranoto bos, yang sering mengikuti kita saat kita di Jakarta" jawab Hendra berbisik.

__ADS_1


"Bukan mereka Hendra, yang ada di depan mereka yang duduk menghadap kesamping dan membelakangi kita?" kata Tomy lagi dengan kesal.


__ADS_2