Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 117 kepergian Uthi Sumi


__ADS_3

"Bi.... Abi....sayang... bangun...,ini mengapa Uthi Sumi kok badannya dingin semua?" ucap Imma khawatir sambil memeluk Ken dan menangis.


"Honey....ada apa?, sabar dulu jangan menangis, Abi periksa dulu jangan menangis sini Abi peluk sebentar".


Ken memeluk Imma yang menangis terisak-isak, sambil bergeser sedikit ke badan Uthi Sumi, memeriksa denyut nadi uthi Sumi tetapi tidak ada denyut yang berdegup disana.


"Honey....maaf Uthi Sumi sudah dipanggil yang maha kuasa" ucap Ken sambil meneteskan air mata dan menutup tubuh uthi Sumi dengan jarik yang ada disampingnya.


Sontak Imma terkulai lemas terduduk di lantai dengan tersedu-sedu.


"Ibu....ibu.... kenapa. Ibu ajak Uthi Sumi pergi, kenapa bu?" kata Imma dengan lemas dan pingsan di bawah tempat uthi Sumi.


Ken panik bukan kepalang, menepuk-nepuk pipi istrinya yang lunglai lemas tak berdaya.


"Honey..... bangun....honey.... bangun" ucap Ken menggoyangkan tubuh Imma menggosok telapak tangan dan kembali menepuk pipinya.


Ada minyak kayu putih diatas nakas kecil di samping tempat tidur itu, disambar oleh Ken dan dioleskan sedikit ditangan Ken dan di dekatkan dihidung Imma.


"Honey...ayo bangun jangan buat Abi khawatir, please ayo bangunlah".


Mata Imma mulai mengerjap, memandangi wajah Ken yang panik dan pucat pasi, Imma langsung bangun dan memeluk Ken dengan erat.


"Sayang... Uthi Sumi bagaimana, mengapa meninggalkan umi disini hu...hu...hu" kata Imma tetap memeluk Ken dengan erat.


"Sebentar honey....Abi panggil Bu Yati sebentar, umi jangan kemana-mana, disini saja ok" perintah Ken sambil lari ke kamar samping.


Ken menggedor pintu Bu Yati dengan keras, karena kaget Bu Yati membuka pintu dengan cepat dan diikuti oleh putranya, karena sementara saat ada keluarga Imma datang memang mereka tidur dalam satu kamar ibu di atas dan putranya di bawah menggunakan kasur kecil.


Ken menarik cepat tangan mereka berdua membawa ke kamar Uthi Sumi, mengetahui jika sahabatnya itu telah tiada, Bu Yati juga terduduk di samping Imma terisak dan menangis dengan spontan memeluk Imma dengan erat.


Masih terlalu pagi untuk sebagian orang akan memilih meringkuk dibalik selimut hangatnya karena cuaca daerah pengunungan itu sangat dingin, tetapi Ken menghubungi Papi Bastian berkali kali tetapi tidak diangkatnya, beralih ke Mami Winda, setali tiga uang, sama sama masih di dalam mimpi indahnya.


Ken menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menggerutu sendiri, kemudian menghubungi adiknya Kemmy biasanya pagi pagi dia chatting dengan teman teman nya.


Betul saja sekali menelepon Kemmy langsung diangkat nya, karena handphone memang lagi online.

__ADS_1


"Ya kak ada apa pagi-pagi telepon?".


"Kem, bangunin semua, cepat kesini, Uthi Sumi meninggal dunia baru saja".


Tanpa menunggu di jawab oleh Kemmy Ken menutup teleponnya karena melihat Imma yang pingsan lagi dalam pelukan Bu Yati.


"Nak...nak.... bangun....mas Ken cepat kesini, istrimu pingsan!" perintah Bu Yati dengan cemas.


Sementara Ken mencoba menyadarkan istrinya dari pingsannya, putranya Bu Yati sangat cekatan, menghubungi RT setempat dan menghubungi tetangga serta teman teman dekat uthi Sumi


Imma baru saja sadar dari pingsannya, di peluknya dengan erat, hanya satu ketakutan Ken yaitu jika Imma mengalami depresi seperti dulu lagi saat awal pertemuan mereka.


Dalam pelukan Ken, Imma akan merasakan nyaman dan seperti yang terjadi dahulu, karena hanya dalam pelukannyalah Imma akan baik baik saja.


Saat bersamaan datang tetangga, pak RT dan Papi Bastian serta seluruh keluarga masuk ke rumah terutama Faro dan Fia, mereka berdua berlari memeluk uminya yang duduk lemas dalam pelukan abinya.


"Umi...umi...kenapa menangis, jangan menangis Abang sayang umi" ucap Faro sambil memeluk uminya sedang erat.


"Umi....umi... Fia tayang umi, dangan nangis" celoteh Fia ikut menangis memeluk uminya.


Inilah yang membuat hati Imma walaupun sakit masih tetap sedikit tegar dengan adanya mereka yang selalu memberikan semangat tanpa henti.


Semua teman uthi Sumi yang pernah di datangi dan di bantu dalam waktu beberapa hari ini juga datang dan mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya beliau.


Seluruh masyarakat di sekitar tempat tinggal Imma juga datang berbondong-bondong membantu keperluan pemakaman yang akan di langsungkan Sebelum sholat Zuhur.


Pukul sembilan pagi almarhumah uthi Sumi di mandikan, dikafani dan di baringkan di ruang tamu dan di sholatkan jenazah.


Keluarga besar Tomy Sanjaya datang bersama seluruh anggota keluarga walaupun Tante Dini menggunakan tongkat, tetap saja dia memaksakan untuk hadir mengucapkan belasungkawa kepada Imma.


Pukul sebelas siang almarhumah di masukkan ambulance untuk di bawa ke pemakaman desa sebelah, desanya Mami Winda disamping makam suami dan putranya Uthi Sumi.


Saat almarhumah akan di berangkatkan menuju ke pemakaman Imma pusing dan hampir pingsan tetapi dia berusaha kuat.


"Bi... tolong peluk umi, ...ayo kita ikut ke pemakaman" kata Imma sambil mencoba melangkah.

__ADS_1


"Honey... kalau tidak kuat jangan di paksakan, di rumah saja ok".


"Sayang... ayolah ikut ke pemakaman please".


"Baiklah kalau Umi kuat, ayo Abi bantu...".


Ken membawa Imma kedalam mobilnya bersama Mami Winda dan Papi Bastian ke pemakaman, sedangkan Faro dan Fia di jaga oleh Kemmy di rumah lama Imma.


Keluarga Tomy Sanjaya juga ikut ke pemakaman kecuali Tante Dini karena kondisi kakinya yang retak belum pulih benar, sehingga hanya bisa duduk di samping Faro dan memeluk Fia dengan erat.


Sekitar setengah jam ambulance itu sampai di pemakaman umum dan di turunkan almarhumah uthi Sumi dan di masukkan ke liang lahat yang sudah di persiapkan sebelumnya.


Imma duduk di samping makam itu Ken turun masuk ke liang lahat dan meng-azani dan Iqomah dengan lantang, setelah selesai Ken naik kembali duduk di samping Imma memeluknya dengan erat.


Sedikit demi sedikit tanah mulai di masukkan ke dalam liang lahat itu dengan perlahan, kepala Imma terasa pusing namun tetap dia bertahan, hanya di letakkan kepalanya di pundak Ken, di peluk Ken dari samping membuat Imma tetap sadar dan kuat.


Sudah tertutup rapat semua makam almarhumah uthi Sumi di siram dengan kembang dan seorang ustadz membaca doa, belum sempat doa itu selesai kepala Imma semakin pusing, dan terkulai lemas dan pingsan di samping Ken.


Ken tersentak kaget, menangkup tubuh Imma yang lemas, di gendongnya di bawa ke mobil diikuti oleh Mami Winda dan Mama Nadia dari belakang.


"Coba di gosok telapak tangannya nak dengan minyak kayu putih, ini pakai punya ibu!" perintah Mama Nadia mengulurkan tangannya untuk memberikan minyak kayu putih yang diambilnya dari tas kecilnya.


"Honey...ayo bangun.... jangan membuat Abi khawatir terus... honey!" ucap Ken sambil menepuk pipi Imma dan menggosok tangan Imma dengan lembut.


__________________


Maaf ya shobat saya nulisnya sambil


belelehan air mata, ikut baper seperti....


Sandi........ kehilangan uthi Sumi....


Jangan lupa like vote dan komentar ya


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2