Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 38 Masih Melindungi Dalam Diam


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaaaa" teriak Imma karena tidak memakai baju hanya celana dalam dan bra saja yang di pakainya.


"Ada apa umi kok teriak teriak?" tanya uthi Sumi.


"Kok umi tidak memakai baju uthi?" gantian Imma bertanya juga.


"Apa yang umi rasakan semalam?"tanya lagi uthi Sumi.


"Umi seperti di peluk oleh Abi semalaman" jawab Imma jujur.


Uthi Sumi hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban kepada Imma.


"Kok malah tersenyum uthi, apa yang terjadi?" tanya Imma heran.


"Maaf umi, uthi belum bisa memberikan jawaban, umi harus jujur dulu pada uthi" ucap uthi Sumi.


"Jujur tentang apa uthi?"tanya Imma lagi.


"Tentang Abi Ken, apakah umi mencintai nya?" tanya uthi Sumi.


"Sangat uthi, umi sangat mencintai nya" Imma berkata jujur.


"Tetapi mengapa umi tidak mau menemui Abi?" tanya uthi Sumi kemudian.


"Kan uthi tahu, seandainya ada yang tidak suka dengan hubungan kami, umi mau mundur" Imma mengakui.


"Memang siapa yang tidak suka?" pertanyaan uthi Sumi lagi.


"Tidak tahu uthi masyarakat yang tidak setuju mungkin" jawab Imma sekenanya.


"Jawaban apa itu umi, ayolah perjuangkan cinta umi, jangan menyerah begitu saja" nasehat uthi Sumi.


"Tidak uthi, umi tidak mau nama keluarga Abi tercemar karena umi" kekeh Imma


"Sebentar umi, uthi mau beli kopi ya, umi pakai baju dulu lah" perintah uthi Sumi.


Uthi Sumi keluar ruangan rawat inap dan menemui Ken yang masih menunggu nya disana.


Uthi Sumi menceritakan apa yang di bicarakan dengan Imma di dalam, Ken sangat frustasi karena penolakan Imma.

__ADS_1


"Bi... sebaiknya pulang ganti baju dan istirahat lah dulu, biar uthi Sumi yang menjaga umi" nasehat uthi Sumi.


"Baiklah uthi, Abi pulang aja dulu, tolong jaga umi untuk Abi, dia satu satunya cinta Abi" jawab Ken sedih.


Ken berjalan ke luar rumah sakit dan memesan mobil online tetapi tidak ke rumah melainkan ke kantor akan menemui Papi Bastian dan Anton Sahroni.


Di kantor Papi Bastian juga menunggu Anton dengan gelisah, karena dari kemarin Anton berada di Bandung.


Saat Ken tiba di kantor Anton belum datang, Ken selalu emosi, hati nya terasa sakit karena penolakan Imma.


Papi Bastian sangat tidak sabar menunggu kedatangan Anton, tetapi Anton baru sampai Bogor. sekitar satu jam lagi dia sampai.


Karena semalaman Ken tidur dan tidak makan sama sekali, akhirnya Ken tertidur di kursi kantor nya.


Dalam tidurnya pun Ken memimpikan Imma yang menolak nya, hanya tertidur pulas selama setengah jam Ken langsung terbangun saat Ken mimpi Imma pergi meninggalkan nya dan tidak mau kembali.


"Umiiiii.... umi... tunggu.. "Ken mengigau kemudian terbangun.


setelah terbangun Ken ganti baju yang ada di kamar yang ada di kantor bagian belakang, baru pergi ke pantry untuk membuat kopi.


Setelah selesai minum kopi, mata Ken sudah tidak ngantuk lagi, dan kembali ke kantor Papi Bastian kembali.


Mereka duduk berempat saling berhadapan, semua terasa tegang dengan pikiran masing-masing.


"Pak Anton tahu kan apa yang terjadi dengan umi nya Faro?" papi Bastian mengawali pembicaraan itu.


"Ya bos, saya sudah mendapatkan laporan dari pak Karno" jawab Anton sambil tertunduk.


"Apa sebenarnya yang terjadi tentang mereka?" tanya Papi Bastian.


"Maaf bos, saya belum bisa menceritakan tentang hal itu" jawab Anton lagi tidak berani menatap bos nya.


"Ayolah pak Anton, karena masalah yang tidak jelas ini dia tidak mau menemui ku, coba lihat ini mengembalikan cincin ku" cerita Ken sambil marah marah dan menggebrak meja dan suara keras.


"Maaf....maaf" jawab Anton gemetar.


"Kau sama saja dengan uthi Sumi hanya minta maaf saja, apa sekarang yang harus saya lakukan?" tanya Ken frustasi.


karena Ken tidak bisa mengendalikan emosi nya kemudian memukuli Anton dengan membabi buta, Sandi dan papi Bastian melerainya tetapi Ken tidak perduli.

__ADS_1


Hatinya sakit karena penolakan Imma, justru Anton tidak melawan di pukuli oleh Ken.


"Katakan apa yang harus aku lakukan agar umi bisa kembali pada ku?" bentak Ken sambil memukuli Anton lagi.


"Silahkan pukuli aku sampai mati, aku tidak perduli, aku hanya melaksanakan amanah dari ayah kandungnya" ucap Anton ikut emosi.


"Aaah ahhhh" Ken teriak teriak semakin emosi.


"Amanah apa maksudnya, apa yang harus aku lakukan?" teriak Ken.


"Ken sabar dulu, kasihan pak Anton sudah babak belur begitu" perintah Papi Bastian.


"Ok ok kalau memang anak muda ini sangat mencintai uminya Faro, akan aku katakan, aku tidak perduli masuk neraka karena tidak menjalankan amanah ayah kandung Faro, aku tidak perduli mati di tangan mu" ucap Anton frustasi.


"Sebetulnya amanah seperti apa yang kau lakukan, mengapa membuat kami tidak bisa bersatu padahal kami saling mencintai?" tanya Ken.


"Ayolah pak Anton, apakah anda meragukan cinta dari putra ku untuk uminya Faro" rayu papi Bastian agar Anton bercerita.


"Tetapi harus ada syarat nya, akan aku katakan tetapi tidak semua" janji Anton.


"Baiklah yang penting ada titik terang dan ada cara menyelesaikan masalah ini" Papi Bastian pasrah.


"Dengar, adakan konferensi pers, jika memang kau benar benar mencintai uminya Faro, akuilah Faro sebagai putra kandung mu, akuilah jika Faro lahir akibat kesalahan mu, akibat kau harus melanjutkan kuliah dan waktu itu kau tidak mau bertanggung jawab" perintah Anton penuh penekanan.


"Mengapa harus begitu pak Anton?" tanya sandi yang dari tadi ikut emosi hanya melihat saja.


"Aku melindungi Faro dari kakek nya dan bos mafia terbesar di Asia tenggara" kata Anton sambil meneteskan air mata dan bersimpuh di kaki Ken.


"Sebesar itu kah masalah nya?" tanya Papi Bastian kemudian.


"Sisanya saya belum bisa menceritakan, saya akan menceritakan semuanya tiga hari setelah anak muda ini menikahi uminya Faro" janji Anton kemudian.


Setelah Anton mengatakan itu Ken duduk melorot di lantai dengan lemas dan hati yang berdebar-debar.


"Ternyata sebesar itu pengorbanan umi untuk Faro, masalah apa ini mengapa harus melibatkan bos mafia Asia tenggara segala" gumam Ken dalam hati.


Papi Bastian tidak kalah syok nya, dia tidak menyangka sampai seberat ini masalah yang di hadapi umi dan Faro dalam umur masih remaja.


"Sekarang Ken semua papi serahkan pada mu apa keputusan nya?" tanya Papi Bastian.

__ADS_1


"Aku tidak memaksa juga bos, jika anak muda ini ragu sebaiknya mundur saja, biarkan seperti ini saja aku hanya bisa melindungi nya dari jauh seperti permintaan ayah kandungnya, aku tidak boleh juga mendekati nya selama ini agar Imma dan Faro tidak dikenali oleh mereka, itulah sebabnya jika ada mereka aku menghindar, ini istri ku pun tidak tahu" kata Anton panjang dan lebar.


__ADS_2