Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 87 Niatnya Nembak Malah Melamar


__ADS_3

Mely sedang mengotak atik leptop karena banyak sekali tugas dari dosen yang harus di kerjakan nya.


Ada suara notifikasi dari handphone nya, langsung di sambar, berharap Sandi menghubungi nya karena dari kemarin cerita akan ke luar kota sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali.


Ketertarikan antara Sandi dan Mely sudah lumayan dekat tetapi memang belum ada kata yang terucap cinta di antara keduanya.


Mely mendapatkan kiriman lagu romantis itu berjingkrak kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan sekantong permen.


Mely seketika mengirim pesan lewat WA kepada Imma.


"Im.....darimana dapat vedio itu?".


"Meneger kafe Mas Bayu yang mengirim nya barusan,.....cie....cie....di tembak nich".


"Apakah Sandi nya tahu kalau video nya sudah sampai pada ku?".


"Sepertinya belum sih".


"Yaaaaah Imma....... berarti dia tidak tahu dong kalau aku sudah tahu?".


"Memang.......".


"Yaaaaah kasihan deh diriku"


"Sabar..... yang penting hatinya sudah terpaut, tenang saja ok".


"Ya sudah deh......".


Mely melanjutkan mengerjakan tugas kembali dengan hati yang gundah, terbayang suara Sandi yang menyanyikan lagu untuk nya.


Hampir dua jam Mely baru menyelesaikan tugas nya itu, tiba-tiba ada notifikasi lagi tetapi langsung dari Sandi mengirimkan vedio sama persis yang di kirim oleh Imma.


Setelah lima menit Mely memandangi dan mendengarkan lagu itu, kemudian sandi menelpon nya.


"Kring.....kring....kringggg".


"Halo...... Ya kak "


"Halo..... bagaimana apakah di terima?".


Sandi menunggu jawaban Mely dengan hati yang berdegup kencang, seakan naik roller coaster tercepat.


"Apanya.... yang di terima kak?".


Sandi bergumam mengapa malah pura-pura tidak faham dengan maksud nya.


"Cintaku lah..... apalagi?".


"Tidak romantis banget nembak cewek lewat telepon aja!"


"Momen nya kurang tepat ya....., janji nanti kalau ketemu aku ulang lagi deh....yang penting di terima dulu, tidak bisa tidur nich...di kampung orang".

__ADS_1


"E....eee.. " Mely berpikir sejenak, dari tadi belum memikirkan bagaimana cara menjawab pertanyaan Sandi yang mendadak.


"Ayo lah please..... di terima kan?".


Mely berdiam sejenak menimbang dan menata hatinya yang berdegup kencang dari tadi malam.


"Kak....halo...?".


"Ya... Aku masih sabar menunggu ... bagaimana?".


"Baiklah tetapi dengan satu syarat".


"kenapa harus ada syarat nya, nanti aja kalau lamaran baru minta syarat, apa syaratnya?"


"Di ulang lagunya dengan langsung di depan ku, tidak mau lihat lewat handphone".


"Titah tuan putri wajib di laksanakan".


Sandi tersenyum mendengar jawaban Mely, hatinya seperti melayang, sudah terpaut hati nya kepada gadis periang sahabat Imma.


Hari Minggu pagi Sandi dan Bayu pulang kembali ke Jakarta dengan pesawat terbang komersil dari bandara internasional Juanda Surabaya.


Tiba di bandara internasional Soekarno Hatta Sandi dan Bayu berpisah, Bayu naik mobil online menuju rumah nya dan ingin segera bertemu istri dan putranya.


Sandi tidak langsung pulang ke apartemen nya, melainkan belok ke toko alat musik, gitar yang ada di rumah nya sudah tidak bisa di pakai lagi, sehingga berniat membeli gitar dan bergegas pergi ke rumah Mely.


Sandi akan memberikan kejutan untuk Mely tetapi sebelum ke rumah nya memastikan jika gadis yang di cintai nya itu ada di rumah nya.


Di depan rumah Sandi mengetok pintu perlahan, berharap ada gadis pujaan hatinya yang membuka pintu, yang membuka pintu bukan Mely tetap malah mamanya.


"Maaf mas ngamennya di tempat lain saja" kata mama Mely.


Pintu langsung di tutup kembali oleh nya dengan cepat, sampai di dalam rumah, mama Mely menggerutu tanpa henti.


"Ada pengamen ketuk pintu dan membawa koper, jaman sudah gila ".


"Siapa mama?..... Pengamen......bawa koper...?" tanya Mely.


Mely lari keluar tanpa menghiraukan mamanya yang masih menggerutu, membuka pintu dengan cepat.


Ada sosok laki-laki gagah yang sedang berdiri dengan memegang gitar di tangan nya dan di selempangkan di pundak dan memegang koper.


"Kak Sandi.....!!!!".


Tanpa menunggu lagi, Sandi memetik gitar itu dan mengulangi menyanyikan lagu yang tadi malam dia persembahan untuk nya.


Mely tersenyum mendengar lagu dan berdiri di depan pintu dengan mata berkaca-kaca, tetapi mamanya yang masih menggerutu dari dalam rumah mendekati Mely dan di ikuti oleh papa nya dengan tatapan tajam nya.


"Mely.....mama sudah mengusir pengamen itu kenapa kamu keganjenan begitu?".


Hampir selesai lagu itu Sandi nyanyikan, tetapi langsung menghentikan lagunya setelah kedua orang tua Mely ikut keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


"Mama dia bukan pengamen.....dia...dia..." kata Mely sambil mengerucutkan bibirnya karena momen romantis nya terhenti karena ocehan nya yang tidak penting mamanya.


"Om.... Tante... saya bukan pengamen"


Kata Sandi sambil mencium punggung tangan keduanya bergantian dengan tersenyum.


"Mama jadi tidak romantis, gara-gara mama sih".


Mely masih mengerucutkan bibirnya dengan memeluk papanya dengan manja minta dukungan dari nya.


"Oooooo kamu menyukai putri kami anak muda?" tanya papanya Mely tegas.


"Ya....betul" jawab Sandi kemudian.


Papa Mely memperhatikan Sandi dari kepala sampai ujung kaki.


Mereka mempersilahkan Sandi masuk dan mengajak nya berbincang di ruang tamu.


Mama Mely langsung mencerca pertanyaan, apakah mau langsung menikahinya, apakah pekerjaan nya, kenapa bawa koper, apa pergi dari rumah mau mengajak putri nya lari dan masih banyak lagi yang di tanyakan.


Sandi tersenyum melihat mamanya Mely yang begitu protektif kepada putrinya itu, Mely sampai gemas mendengar mamanya yang terburu-buru.


"Kalau bapak dan ibu mengijinkan mau saya langsung menikahinya!" jawab Sandi dengan nada yang tegas.


Mely seketika kaget dan tersedak dengan ketegasan nya.


"Papa.... Mely belum pacaran sama kak Sandi, mengapa jadi begini?" Protes Mely.


Papanya Mely tersenyum dengan putri nya yang manja, akhirnya berbicara serius dengan Sandi.


Setelah di tanyakan kesungguhan Sandi papanya Mely bergantian menanyakan kepada Mely.


"Pa .... rencananya kak Sandi kesini itu mau menembak bukan melamar" protes Mely.


Semua tertawa, ini memang sungguh lucu yang niatnya mau nembak cewek langsung di todong untuk menikahi oleh orang tuanya.


Papanya Mely menanyakan latar belakang keluarga Sandi dan tempat tinggalnya.


"Umur ku sudah 30 tahun pak, tinggal di apartemen sendirian, kedua orang tua tinggal di Bandung, mempunyai tiga bersaudara, dan sudah menikah semua" cerita Sandi kepada kedua orang tua Mely.


"Aku memang cari istri pak, bukan waktu nya untuk pacaran" sambung Sandi lagi.


"Bagaimana dengan kuliah ku kak?" tanya Mely ragu.


"Kau bisa tetap melanjutkan kuliah, kalau perlu aku yang membiayai nya" tantang Sandi.


Sandi juga menceritakan tentang pekerjaan nya, dan membawa koper karena baru pulang tugas luar kota.


Melihat kesungguhan niat Sandi, papanya Mely memberikan kesempatan kepada putrinya untuk memberikan jawaban atas lamaran Sandi


"Iya deh....tapi boleh tetap kuliah ya.....?".

__ADS_1


"Jadi..... nak Sandi, kami tunggu kedatangan orang tua mu kesini" kata Papa Mely.


__ADS_2