
"Enak aja mana ada malaikat maut seganteng Abi" jawab Ken sambil meneteskan air matanya.
"Iya juga sih, tidak ada malaikat maut ganteng tetapi cengeng" kata Imma lagi karena melihat Ken berlari mengikuti brankar sambil menangis.
Brankar itu akhirnya memasuki ruang rawat inap kembali seperti semula saat Imma masuk ke rumah sakit.
Ken seketika memeluk Imma dengan erat tanpa memperhatikan luka di perutnya setelah operasi.
"Auch......auch....... Abi perut umi sakit".
"Maaf umi....... mengapa selalu membuat hati ini mau terlepas dari raga Umi.....hu...hu...".
Imma tersenyum melihat suaminya itu khawatir yang berlebihan.
"Jangan buat Abi..... Gila....umi... ampun jangan seperti ini lagi".
"Sayang kendalikan dirimu, umi baik baik saja"
Ken tetap saja menangis tersedu-sedu sangat merasa bersalah tidak berada di samping nya saat Imma membutuhkan nya.
Hati Ken seperti di sayat sembilu, tercabik-cabik oleh rasa bersalah yang begitu besar, sampai terdengar suara bayi yang memecah suasana di kamar itu.
"Oek.......oek...... oek......".
Ken mencari suara itu sambil mengusap air matanya.
Ada dua suster yang satu menggendong bayi dan satu lagi mendorong box bayi mungil itu.
"Apakah itu putri ku?" tanya Ken.
"Betul pak, silahkan di Azani terlebih dahulu".
Ken meraih bayi mungil itu dan duduk di sofa panjang berbisik dengan suara azan di telinga kanan dan Iqamah di sebelah kiri.
Semua para laki-laki mengerumuni Ken sambil mengusap lembut pipi nya.
Sedangkan uthi Sumi tidak kalah merasa bersalah menangis tersedu-sedu sambil menggenggam tangan Imma.
"Maafkan uthi anakku, maafkan.......tidak bisa dari awal menemanimu saat kau butuh dukungan".
"Semuanya baik-baik saja uthi tenanglah"
Jawab Imma singkat sambil mencium punggung tangan Uthi Sumi.
"Sudah selesai Pak, sini bayinya akan belajar untuk menyusu".
Suster itu menggendong bayi nya dan mendekatkan kepada Imma.
"Eeee tunggu sebentar suster, biar para bapak bapak ini keluar dulu, enak aja mau melihat yang mulus mulus".
__ADS_1
Ken mendorong papi Bastian, Sandi dan Anton keluar ruangan itu.
"Jangan lupa kabari Faro dan Mami Winda papi" perintah Ken.
"O iya papi lupa" jawab Papi Bastian sambil menepuk dahinya.
Papi Bastian mengambil handphone dari kantong saku nya, menggeser posisi ponsel itu mencari nama mami, dan menghubungi nya mengabarkan bahwa cucu perempuannya sudah lahir dan meminta Faro untuk di bawa ke rumah sakit.
Didalam ruang rawat inap itu suster membantu Imma berlatih menyusui putri kecilnya juga di bantu oleh uthi Sumi.
Ken berdiri di belakang Imma membelai pipi Imma dan mendekatkan mukanya di dekat telinga Imma.
"Honey itu kan kesukaan Abi, apakah harus berbagi dengan putri kita" ucap Ken sambil berbisik.
Imma memelototi Ken tanpa berkata apapun, sedangkan uthi Sumi yang mendengar Ken berbisik hanya melirik nya sambil menggelengkan kepalanya.
Sudah setengah jam bayi itu menyusu, sepertinya sudah kenyang dan terlelap di letakkan di box bayi dengan lembut oleh uthi Sumi.
"Abi....umi... Uthi Sumi ke kantin sebentar mau cari air minum".
Uthi Sumi keluar ruang rawat inap dan menutup pintu nya kembali saat sudah di luar.
"Umi...... Mengapa Abi di tinggalkan, umi jahat.... Jangan tinggalkan Abi".
"Putri mu yang tidak mau menunggu Abi nya, bukan umi, sudahlah jangan di bahas lagi, nanti Abi bisa melihat rekaman video saat putri kita lahir".
"Tanya suster atau dokter Tanti".
"Umi siapa namanya putri cantik kita ini?".
"Umi pingin nama depan nya Safia, karena saat mau operasi umi ingat ibu Lestari, itu nama kesukaan nya".
"Baiklah jadi namanya SAFIA ANJANI KENZIE WIGUNA".
Bayi kecil itu memiliki panjang 2,4 kg dan panjang 51 cm, walaupun lahir kurang satu Minggu sembilan bulan nya tetapi sangat bersyukur lahir sehat dan lancar tanpa halangan.
Uthi Sumi masuk ruangan membawa air minum dan para bapak bapak yang di luar tadi juga mengikuti nya.
"Mana cucu Akung papi, namanya siapa?".
"Safia Akung, panggil saja Fia" kata Imma senang.
"Cantik banget bos putri mu, aku jadi pingin punya anak". Kata Sandi.
"Makanya menikah lah, jangan cuma mengagumi putriku saja" protes Ken pada Sandi.
Semua menatap sendu kepada Sandi, karena setahu mereka Sandi tidak memiliki pasangan sampai saat ini, masih betah menjomblo.
"Mau nikah sama siapa, pasangan aja tidak punya?" Sandi mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
__ADS_1
Pintu terbuka lebar datang dengan cepat sambil berlari, Faro bersama Uthi Mami dan Kemmy.
"Umi......umi....apa adik bayi pipi tembem sudah keluar?".
Faro mendekati uminya yang masih terbaring di tempat tidur.
"Sudah Abang Faro....itu ada di box bayi, adik cantik nya sedang tidur".
Faro mendekati box bayi itu memandangi wajah adiknya bulu mata yang lentik, Pipi nya halus, rambut lurus hitam, serta hidungnya mancung.
"Umi..... adiknya cantik hidungnya mancung, beda dengan Abang ya?"
"Beda dong bang, Abang Faro laki-laki, sedangkan adiknya perempuan" jawab Ken singkat.
"Betul juga ya Abi, panggil nya siapa Abi?"
"Abang bisa panggil adik cantik dengan adik Fia" jawab Ken lagi.
"Iya.....iya..... Abang Faro suka nama itu, adik cantik Fia".
"Sini bang.... uthi Mami gendong adiknya, memang cantik banget Adik nya Abang Faro".
Ken dan Imma saling menautkan kedua tangannya berpegangan erat, saling memandang dengan penuh cinta.
"Terima kasih.... honey... memberikan Abi putri yang cantik".
Datang dokter Tanti dan beberapa suster untuk memeriksa kesehatan Imma pasca operasi, juga memeriksa putri kecilnya.
"Mohon maaf ya semua harap di luar sebentar, pasien akan di periksa dulu" titah dokter Tanti.
Keluarga menunggu di luar ruangan rawat inap itu sampai selesai pemeriksaan nya.
"Baiklah kita periksa jahitan bekas operasi nya, hmm sudah bagus, tekanan darah juga sudah mulai normal" keterangan dokter Tanti.
"Oya pak Ken maaf tadi pagi operasi nya saya sendiri yang tanda tangan tetapi atas persetujuan dari istri anda dan dokter Jaka mewakili orang tua".
"Iya dok, justru saya ingin mengucapkan terima kasih kepada dokter karena bertindak cepat untuk menyelamatkan istri dan putri saya"
"Ya sama sama pak, itu sudah menjadi kewajiban saya, dan ini handphone ibu Imma, sudah di rekam semua proses operasi nya tadi pagi".
Ken menerima handphone itu dengan cepat, rasanya ingin cepat membuka handphone itu untuk melihat istrinya sendirian berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan putri kecilnya.
Selanjutnya dokter Tanti memeriksa bayi kecil itu dengan teliti dengan perlahan agar tidak membangunkan nya.
"Ada pertanyaan pak Ken?".
"Kapan kami bisa pulang kerumah dokter, rasanya saya rindu sekali tidur di kamar sendiri?" tanya Imma cepat sebelum Ken bertanya.
"Sekitar tiga hari lagi jika semua membaik Bu Imma".
__ADS_1