
Sudah hampir dua Minggu ini Imma dan Ken mual dan muntah di setiap pagi nya, lemas sebentar dan fit lagi, hanting makanan apa yang ingin di makannya berdua.
Jam sebelas malam semua keluarga sudah di dalam peraduannya, di bawah selimut tebal dengan hangat.
Imma terbangun merasakan perut yang melilit terasa lapar bangun membangunkan Ken yang tidur memeluk nya dari samping.
"Bi..... Abi......, bangun".
"Hmm...... masih ngantuk umi... ada apa?".
"Bi..... sayang.....".
Dipanggil sayang Ken langsung terbangun dan tersenyum.
"Ada apa honey?.
"umi lapar... pingin makan gado-gado".
"Sudah jam sebelas malam kita cari dimana honey, tapi tidak apa-apa ayo kita cari"
Ken berganti baju, mengambil dompet dan kunci mobil nya.
"Jangan lupa pakai switer Honey... di luar dingin".
Mereka keluar dari kamar dan turun dari tangga, di bawah bertemu dengan uthi Sumi yang mengambil air minum dari dapur
"Abi....umi mau kemana jam segini?".
"Eeeee uthi Sumi....ini Umi pingin gado-gado, dimana yang jual ya Uthi?.
"Cari aja di alun-alun, taman kota atau kafe yang menjual makanan tradisional"
Sebelum berangkat Ken browsing di internet mencari informasi tentang gado-gado yang berada di daerah Jakarta, cepatnya di sebuah kafe di daerah bundaran Hotel Indonesia.
"Ya Uthi dapat.... kita ke sana, uthi istirahat saja tidak usah menunggu kami pulang, nanti Abi bawa kunci aja"
Jalanan masih terlihat ramai walaupun hampir tengah malam inilah kota Jakarta, karena mereka tinggal di pinggiran kota Jakarta perjalanan ditempuh hampir satu setengah jam baru tiba disana.
Kafe dan resto yang akan di datangi Ken buka 24 jam sehingga sesampainya di sana Ken langsung mencari tempat duduk yang sebagian besar memang kosong karena sudah lebih dari tengah malam.
"Saya pesan dua gado-gado dan teh hangat ya mas". Kata Ken setelah waiters itu mendatangi nya.
Setelah beberapa lama waiters itu mendatangi meja mereka dengan membawa dua porsi gado-gado yang sangat menggugah selera dan dua gelas teh hangat.
"Selamat menikmati ya pak...bu".
__ADS_1
"Terima kasih mas".
Imma yang melihat gado-gado itu langsung menarik kursi dan melahap makanan itu dengan cepat.
"Honey... pelan pelan tidak usah buru-buru, tidak ada yang minta, ini sampai belepotan sambal kacang nya".
Ken membersihkan bibir Imma dengan mengecup bibirnya Imma hanya tersenyum dan lanjutkan makan kembali.
Ken juga ikut makan gado-gado itu perlahan sambil mengawasi Imma makan, setelah piring Imma kosong.
"Honey kurang kah.... ini punya Abi masih ada?".
"Ho....o boleh.... Abi sudah kenyang kah?, sini umi yang menghasilkan kan".
Imma kembali makan gado-gado milik Ken dengan cepat sampai habis tidak tersisa di piring nya dan minum teh hangat.
Mereka pulang ke rumah dengan menggunakan mobil dalam kecepatan sedang saja, awalnya berbincang hangat dalam perjalanan sambil sesekali membelai rambut Imma tetapi karena Imma makan banyak tertidur di dalam mobil itu.
Menjelang pukul tiga pagi Ken baru tiba dirumah, karena Imma tertidur pulas akhirnya Ken menggendong nya sampai kamarnya.
"Kapan lagi bisa menggendong anak dan istri sekaligus mumpung masih dalam perut nya" gumam Ken dalam hati.
Ken membuka pintu dengan susah payah kerena sambil menggendong Imma dan menutup pintu dengan kaki langsung ke lantai atas menuju kamarnya.
Pagi harinya seperti biasa gado-gado yang di dalam perut itu keluar semua tanpa tersisa Imma memuntahkan nya, sampai hanya cairan saja tersisa.
Menyusul Ken juga terbangun karena merasa mual juga dan ikut muntah di samping Imma dalam kamar mandi itu.
Karena sudah beberapa Minggu ini seperti itu uthi Sumi berinisiatif setiap pagi membuatkan teh herbal atau terkadang juga jahe hangat.
Uthi Sumi langsung masuk ke kamar Imma tanpa mengetuk karena keduanya sedang di kamar mandi.
Diletakkan jahe hangat itu di nakas samping pintu kamar.
"Abi....umi... ini uthi Sumi buatkan wedang jahe ayo cepat di minum, mumpung masih hangat".
"Ya Uthi terima kasih... sebentar ini Abi belum selesai muntah nya".
Imma memijat tengkuk Ken dengan pelan pelan, berkumur kumur setelah itu baru keluar bersama dari kamar mandi itu.
"Ayo honey minum dulu...sini Abi suapin pakai sendok saja ya".
Minum wedang jahe hangat cukup mengurangi mual mual di pagi hari, baru Ken mandi karena selama Imma hamil jarang mengantar Faro berangkat ke sekolah, hanya pulangnya saja dijemput oleh Imma.
Sekarang pun Ken membelikan mobil untuk di gunakan Imma kemanapun dengan seorang sopir paruh baya yang bernama Pak Sardi.
__ADS_1
Setiap pagi Faro juga sudah mulai mandiri, bangun tidur juga sudah terbiasa sendiri tanpa harus di bangunkan, mandi dan memakai seragam sekolah nya.
Sarapan pagi bersama dengan keluarga Faro di antar abinya ke sekolah.
"Ayo ganteng.... kita berangkat sekolah jangan lupa salim sama umi dan uthi"
"Umi.... salim .... muaaah, adik pipi tembem Abang sekolah dulu ya".
Faro berpamitan dengan Imma mencium tangan nya dan mengelus perut uminya dengan lembut.
**********
Sementara Tomy Sanjaya dan Nadia istrinya sudah pulang ke rumah nya di sebuah perkebunan teh di daerah Jawa timur.
Masih mencari cucu laki-laki nya tetapi tanpa bantuan dari luar seperti yang dahulu di lakukan nya.
Hanya dua bodyguard dan dua detektif swasta itu saja yang membantu nya, detektif swasta bertugas mengawasi Baron Pranoto sedangkan dua bodyguard itu mencari Anton Sahroni.
Hari demi hari kesehatan mama Nadia mulai menurun karena pikiran dan juga umur yang mulai menua.
"Mama jangan menyerah... ayolah...kita belum menemukan cucu laki-laki kita"
"Iya papa..... mama tidak mau meninggalkan dunia saat ini, mama masih ingin bertemu dengan nya".
"Mama semangat lah, kalau tidak salah dalam perhitungan papa di foto USG yang di tinggalkan anak kita Dona, kemungkinan besar bulan depan cucu laki-laki kita umur lima tahun"
Sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya mama Nadia langsung bersemangat mendengar cerita tentang cucu laki-laki nya.
"Papa...... mama mau makan yang banyak biar cepat sehat.....sini...bawa sini makanan di meja".
Papa Tomy langsung mengambil makanan itu dan ingin menyuapi istrinya itu.
"Tidak pa.... mama mau makan sendiri"
Papa Tomy langsung tersenyum melihat semangat Mama Nadia yang makan dengan lahap.
"Papa... bolehkah mama pergi ke Jakarta kalau sudah sembuh".
"Tentu..... akan Papa antar kemanapun yang mama mau, asalkan mama sembuh terlebih dahulu.
Melihat Mama nya semangat Dini putri nya juga ikut senang.
"Aku juga ikut mama ke Jakarta, mama mau kemana pun aku juga bisa antar mama tetapi mama harus sehat dulu ya, kami semua menyayangi mama".
"Iya nak.....mama mau sehat.... mama mau sehat".
__ADS_1