Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 124 Kejadian di Jalan Sepi


__ADS_3

Di rumah sakit Papi Bastian dan Sandi duduk bertiga di kantin rumah sakit, menceritakan kronologi kejadian penembakan senja itu, dan papi Bastian menceritakan tentang siapa sebenarnya Andri Pranoto dan keluarganya, serta menceritakan tentang keluarga Faro yang sebenarnya.


Sehingga Papi Bastian meminta kepada Akung Letnan untuk merahasiakan identitas Faro, demi melindungi keselamatan semua, baik keluarga Ken ataupun keluarga kandung Faro juga yaitu Tomy Sanjaya.


Sandi bercerita jika kemampuan Faro menembak adalah bakat langka yang diturunkan dari kakek kandungnya yang sekarang masih sehat walaupun sekarang sudah berumur.


Selesai berbincang Papi Bastian dan Sandi pulang kerumah, mereka tidak ingin bertemu langsung dengan Andri Pranoto ataupun anak buahnya di rumah rumah sakit itu.


*******"**


Sementara Andri Pranoto sudah selesai keluar dari ruang operasi dan berada dirawat inap VVIP rumah sakit itu ditemani oleh pengacara, Leo Bardan dan lima anak buahnya.


"Bang Leo coba selidiki orang yang telah menolong aku tadi sore, orangnya pensiunan, dia memiliki cucu laki-laki umurnya sebaya dengan Jessy" titah Andri.


"Baik bos, siapa namanya?" jawab Leo Bardan.


"Agung Darsono namanya tetapi dia memanggil cucunya Abang".


"Ini siapa yang di selidiki kakeknya atau cucunya?".


"Kalau bisa dua-duanya, jangan lupa urus semua tentang masalah hukumnya, karena dua hari lagi aku harus sudah tiba di Singapura lagi".


Pengacara dan Leo Bardan menganggukkan kepalanya, baru mereka pamit untuk melaksanakan tugas yang diberikan Andri Pranoto sedangkan ke-lima anak buahnya tetap menjaga bosnya disana.


Andri kemudian menghubungi keluarga yang ada di Singapura, dan menceritakan tentang kejadian penembakan di senja hari itu, Andri bercerita kepada ayah kandungnya Baron bahwa orang yang menembaknya adalah mantan anak buah Leo Bardan yang berkhianat dan ingin mendirikan organisasi sendiri tanpa harus bergabung dengan Leo Bardan.


Tetapi Andri tidak menceritakan tentang anak laki-laki yang telah menembak orang yang mengejarnya tadi sore itu, karena memang sudah berjanji tidak akan menceritakan kepada siapapun.


Tetapi Andri bertekad ingin mencari tahu siapa sebenarnya si Abang kecil itu, yang telah menyelamatkan nyawanya, dia begitu penasaran anak seumuran putri kecilnya sudah memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, Andri melamun mengingat kejadian tadi sore.


Flashback on.


Andri keluar dari bandara internasional Soekarno Hatta pukul sebelas siang, dengan tujuan akan ke Bandung untuk melakukan lobi bisnis dengan temannya yang ada disana.

__ADS_1


Tetapi sebelum berangkat ke Bandung ingin mampir ke kediaman istri kedua dari ayahnya Baron Pranoto, tetapi baru keluar dari bandara Andri sudah diikuti oleh tiga orang laki-laki yang tidak di kenalnya.


Saat Andri naik taksi, mereka mengikuti dari belakang menggunakan mobil pribadi dengan jarak yang dekat, hampir setengah jam mobil itu mengikuti Andri, awalnya tidak begitu memperdulikan, tetapi sopir taksi itu ternyata juga mencurigainya.


"Pak, maaf sepertinya mobil yang di belakang kita itu mengikuti kita dari bandara tadi?" tanya sopir taksi itu.


"Iya pak saya juga curiga, coba belok kanan pak melewati lampu merah itu!" perintah Andri.


Taksi itu berbelok ke kanan melewati lampu merah dengan kecepatan yang lumayan tinggi tetapi mobil itu tetap mengikutinya, sambil mengirim pesan WA kepada Leo Bardan jika dia diikuti oleh orang yang tidak di kenal.


Tidak lupa Andri mengirim nomor polisi mobil yang mengejarnya itu, setelah berbelok berkali kali kanan dan kiri tetap saja mobil itu mengikutinya, sampai sopir taksi itu mempercepat laju mobilnya dengan jarak yang lumayan jauh sampai di daerah sepi dan ada semak-semak serta ilalang yang tumbuh tinggi Andri turun dari taksi dan membayar lebih serta menyuruh pergi agar tidak terjadi sesuatu kepada sopir ataupun mobil taksinya.


Andri memasuki daerah semak-semak dan ilalang perlahan, sayangnya Andri tidak memiliki senjata untuk melawan mereka, Andri hanya bisa bertahan hidup saja.


Ada suara beberapa langkah kaki yang turun dari mobil yang berhenti di pinggir jalan semak-semak dan ilalang agak jauh dari persembunyiannya Andri.


"Sepertinya dia masuk ke semak dan ilalang ini bos" ucap salah satu laki-laki itu.


Pelan-pelan Andri bergerak menjauh dari ketiga laki-laki itu, tetapi suara langkah kaki Andri mudah di ketahui oleh lawannya karena gerakan ilalang dan semak-semak yang dia injak.


"Bos.... suaranya disana, ayo cepat".


Mereka mengejar Andri dengan mengeluarkan senjata otomatis ditangan masing-masing, ada suara langkah kaki yang menginjak ilalang.


"Seek.......seek..."


"Dor....dor...."


Mereka bertiga menembaki Andri dari jarak jauh, padahal Andri tidak terlalu terlihat oleh mereka.


Ternyata saat mereka bertiga berlari turun dari mobil itu, ada Akung Letnan dan Faro yang turun dari mobil karena ban belakang dua-duanya kempes.


Andri yang melihat ada orang dari kejauhan langsung berlari mendekatinya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Dor.... dor... dor...".


Kaki Andri tertembus peluru panas dan mengeluarkan darah yang lumayan banyak, tetapi Andri terus tetap berusaha berlari tanpa melihat daerah sekitanya sehingga kepalanya pusing dan menabrak Akung Letnan tanpa sengaja.


Flashback off.


Andri tersentak kaget dari lamunannya setelah ada suster dan anggota kepolisian datang di ruang rawat inapnya.


Andri langsung menghubungi pengacara dan Leo Bardan untuk datang ke ruang rawat inap karena ada anggota kepolisian yang datang, sedangkan Leo Bardan dan pengacaranya sedang berada di kantin bertemu dengan Akung Letnan.


Bergegas Leo dan pengacara itu berpamitan kepada Akung Letnan berlari menemui bosnya, sedangkan Akung Letnan pulang ke rumah dengan memesan mobil online tanpa berpamitan kepada Andri Pranoto terlebih dahulu, Akung Letnan hanya pamit kepada putranya saja yang sedang menangani kasus penembakan itu.


Saat di dalam ruangan rawat inap Andri menjawab pertanyaan petugas kepolisian dengan lancar, Andri bercerita jika dia akan ke rumah ibu tirinya yang tinggal di Bekasi tetapi dikejar oleh orang yang tidak dikenalnya sejak keluar dari bandara internasional Soekarno Hatta.


Andri Pranoto juga menceritakan jika meminta sopir taksi yang di tumpanginya itu menurunkan dia daerah sepi, dan menyuruh sopir taksi itu pergi agar tidak terjadi apa-apa dengan dia dan mobil taksinya.


Setelah mendapatkan informasi dari Andri Pranoto, pihak kepolisian keluar dari ruang rawat inap itu tetapi meminta untuk sementara waktu dilarang meninggalkan Indonesia dan meminta alamat yang bisa dihubungi jika memerlukan keterangan lebih lanjut, sehingga Andri memberikan alamat ibu Sarah yang tinggal di Bekasi.


Setelah pihak kepolisian keluar dari ruangan itu, barulah Andri Pranoto bertanya kepada Leo tentang pertemuannya dengan Akung Letnan.


"Bagaimana dengan purnawirawan Agung Darsono, dia menceritakan tentang apa saja, apakah menceritakan tentang cucunya?" tanya Andri penasaran.


_______________


Sambil menunggu up, jangan lupa


baca juga "Ikat pinggang cinta"


terima kasih selalu saya tunggu


like vote dan komentar nya


I love you all

__ADS_1


__ADS_2