
"Ukuran apa sih Bi....?" tanya Imma heran.
"Ini coba lihat...... honey" jawab Ken sambil memegang kedua gunung kembar nya.
"Saat baru menikah dulu ukuran nya cuma M, setelah sering di daki ini gunung sama Abi ukuran nya jadi L, saat umi hamil XL kenapa sekarang jadi XXL ya?" ucap Ken sambil memiringkan kepalanya mengamati gunung kembar itu.
"Memangnya baju ada size nya......alasan aja mau modus"
Imma mengerucutkan bibirnya sambil mengancingkan baju nya kembali dan membelakangi Ken dengan cepat.
"Eeeee jangan di kancing lagi....tadi Abi sudah bilang mau minta bagian".
Ken membalikkan badan Imma, membuka kembali kancing itu sampai bawah, dan mencium dengan lembut.
"Sekarang ini punya adik Fia bukan punya Abi".
"Enak aja....Abi yang duluan, harus berbagi".
Ken kembali mendaki gunung kembar dan menirukan adik Fia menyedot puncak nya pelan.
"Abi......ih... jangan di telan.....".
"He...he...manis honey... Maaf sudah terlanjur".
Ken mencium bibir Imma, mulai mengabsen semua yang ada didalam nya, turun ke bawah gantian memberi tanda di leher jenjang nya.
Baru setengah permainan adik Fia menangis kencang.
"Bi.....adik Fia nangis.... sebentar break dulu".
"Honey....tanggung nich..... memangnya pertandingan, ada break dulu?".
Imma mendorong perlahan Ken kebelakang dan berlari mendekati box bayi Fia dengan khawatir, tanpa mengancingkan bajunya lagi.
"Kenapa nak.... hauskah?".
Imma meraba popok bayi kecilnya itu dengan lembut ternyata. ada basah disana.
"Ooooo ternyata adik cantik pub ya...., sebentar umi ganti"
Imma mengangkat adik Fia ke tempat tidur dan meletakkan nya di atas perlak.
"Bi..... tolong ambilkan air hangat adik Fia pub".
Dengan muka masam Ken mengambil air hangat di kamar mandi dan kembali dengan cepat.
"Sini Abi yang bersihkan...umi cuci tangan sana, pasti habis ini adik Fia minta ASI".
Ken dengan cekatan membersihkan bekas pub adik Fia tanpa rasa jijik sedikitpun karena memang dari lahir Ken lah yang selalu membersihkan nya jika di rumah.
Imma berjalan ke kamar mandi dan mencuci tangan nya agar cepat bisa memberikan ASI kepada putrinya.
__ADS_1
"Sudah cantik lagi putri Abi" ucap Ken sambil mentoel hidung Fia.
Imma tersenyum dan memangku adik Fia, memberikan ASI sampai dia terlelap kembali.
"Abi aja yang membawa adik Fia ke box bayi.....ayo bobok lagi nak".
Ken berjalan ke kamar adik Fia dengan menggendong nya, sampai di box itu di letakkan nya dengan perlahan agar tidak terbangun ataupun menangis lagi.
Ken kembali ke kamar, memandang Imma dengan sendu dan baju yang sudah terkancing dengan rapi.
"Kenapa di kancing lagi bajunya.....?".
Ken membuka nya kembali satu persatu dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan.
"Apakah adik Fia tidak rela berbagi sama Abi, baru di sedot sedikit aja sudah nangis dia?".
"Yang tidak rela itu siapa, bukannya malah Abi?".
Ken tersenyum mendengar protes Imma, dan kembali mengulangi adegan yang terputus tadi, selalu jadi candu Ken memberikan tanda kepemilikan sampai ada warna kemerahan di sana.
Sampai sudah hampir pelepasan nya kenikmatan itu di raih ada suara tangisan dari kamar adik Fia lagi.
"Satu menit lagi jangan di lepas please".
Imma mempercepat ritme gerakan naik turun dengan cepat nya biar Abi cepat pada klimaksnya.
Ken tumbang disamping Imma, bersamaan adik Fia tertidur lagi, tidak ada suara tangisan lagi terdengar.
"Apa umi.... sudah sampai puncaknya, sepertinya umi kecewa banget, mau di ulang lagi".
Ken memiringkan badannya masih memandangi wajah Imma yang khawatir lalu mencium kening nya dengan lembut.
"Mau tidur atau minta di putar ulang?".
"Idiiiih bilang aja minta tambah, pakai alasan mau di putar ulang".
"Boleh kah...... honey?".
"Tidak..... tidak boleh lain kali aja....".
Imma menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya sampai lehernya.
"Ayo tidur lah....sini Abi peluk".
Ken memeluk Imma dengan erat tertidur pulas setelah penyatuan panas mereka itu.
Pagi buta Sandi dan Bayu menunggu kedatangan Edi Darmawan dan asisten Budi di bandara internasional Soekarno Hatta dengan pesawat komersil menuju bandara internasional Juanda Surabaya.
"Apakah sudah lama menunggu pak Sandi?" tanya Edi Darmawan saat tiba di bandara itu.
"Belum pak Edi, panggil Sandi saja, tidak usah pakai pak"
__ADS_1
"Baiklah, mari kita check in dulu".
"Bagaimana dengan tangan anda pak Budi?" tanya Sandi khawatir.
"Aku sudah baikan, kita seumuran tidak usah panggil pak, panggil Budi aja".
"Kenapa apa tangan anda?" tanya Bayu melihat tangannya yang dibalut perban padahal kemarin saat bertemu dengan nya belum terluka.
"O...ini kemarin ada orang yang mau menyerang kami sepulang dari Imma Kafe, tapi tidak dalam kok".
Masuk pintu pemeriksaan mereka sejenak, baru duduk berhadapan di ruang tunggu, menunggu pesawat komersil itu datang.
Di ruang tunggu itu, Sandi menanyakan tentang banyak hal mengenai perkebunan teh yang di pimpin oleh Edi Darmawan.
Mulai dari luas wilayah, jumlah karyawan jumlah produksi juga kemana teh itu di pasarkan, Sandi mencatat dengan cepat.
Bayu juga tidak kalah banyak pertanyaan nya baik kepada Edi ataupun Budi, sampai panggilan pesawat mereka terdengar di telinga nya.
"Kita lanjutkan lagi nanti sesampainya di perkebunan" ucap Budi cepat.
Mereka berjalan dengan menarik koper masing-masing, berdiri mengikuti antrian yang mulai panjang ke belakang.
Di pesawat mereka berempat mendapatkan kursi duduk bersebelahan dua di kiri dan dua di kanan.
Perjalanan di tempuh selama hampir dua jam dari bandara internasional Soekarno Hatta ke bandara internasional Juanda Surabaya.
Di bandara internasional Juanda, mereka sudah di tunggu oleh asisten Hendra di pintu keluar bandara.
Edi Darmawan dan asisten Budi tidak menceritakan tentang kejadian penyerangan itu kepada keluarga nya sehingga membuat mata asisten Hendra terbuka lebar melihat tangan asisten Budi terbalut perban.
"Apa yang terjadi dengan tangan mu?" tanya Hendra kepada Budi.
"Nanti saja sampai di rumah aku ceritakan, dan perkenalkan mereka perwakilan dari PT WIGUNA GROUP, Sandi dan Bayu" kata Budi.
Mereka saling berjabat tangan dengan senyum dan memperkenalkan diri masing-masing.
Dari bandara internasional Juanda Surabaya ke perkebunan di tempuh sekitar tiga jam perjalanan menggunakan mobil.
Masuk lingkungan perkebunan menjelang matahari berada di atas kepala tetapi udara terasa segar karena adanya pohon teh yang terhampar bak permadani di sepanjang jalan di sebelah kiri dan kanan.
Udara yang sejuk dan segar masuk ke pernapasan membuat hati terasa sangat nyaman, tidak seperti di kota banyak polusi udara kotor yang menyesakkan dada.
Tiba di rumah megah di tengah perkebunan itu mobil berhenti di halaman yang luas dan parkir di antara beberapa mobil di sana.
Mereka turun dari mobil langsung di sambut oleh Tomy Sanjaya, Mama Nadia dan Dini.
"Selamat datang di perkebunan kami anak muda" kata Papa Tomy dengan suara beratnya.
________________
Terima kasih atas like vote dan komentar nya
__ADS_1
jangan bosan-bosan ya.......
saya semangat menulis karena dukungan shobat semua I love you all