
"Anton Sahroni.... betul kamu Anton kan?" tanya Tomy Sanjaya kaget.
"Bos... a...a...bos besar, anda disini?" jawab Anton terbata-bata karena kaget.
Anton seperti kepergok satpol PP bertemu dengan mantan bosnya yang selama ini selalu dia hindarinya.
"Aku bertahun tahun mencarimu, dimana putra dari Dona, aku yakin kamu tahu?" tanya Tomy langsung pada permasalahan.
"Maaf bos besar, aku.....aku...aku" jawab Anton bingung harus bicara apa.
"Apakah kamu tahu tentang Baron Pranoto?" tanya Tomy, hanya dijawab anggukkan kepala saja oleh Anton.
"Apakah kamu juga tahu jika kemungkinan Dona meninggal karena Baron juga?" tanya Tomy lagi dan Anton pun hanya menganggukkan kepalanya tanda menjawab sepatah katapun.
"Berarti kamu juga tahu dimana putra Dona sekarang dan bagaimana keadaannya?" lagi lagi Anton hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menjawab pertanyaan tersebut sepatah katapun.
"Mengapa kamu tega sekali dengan keluarga kami Anton?" tanya Tomy lagi dengan memegang kerah baju Anton dengan kuat.
"Bos, dengar..., apakah anda akan bisa menjamin keselamatan anak itu, sedangkan putra anda sendiri yang setiap hari anda awasi tetap masih tidak selamat" jawab Anton mulai kesal.
"Dan juga bos, Sebelum almarhum bos Dona meninggal, beliau memaksa saya untuk berjanji melindungi anak itu hanya dalam diam, jangankan mendekati dia, memanggil namanya saja saya tidak berani, hanya demi melindungi keselamatan anak itu" kata Anton dengan berapi-api.
Seketika itu juga Tomy melepaskan tangan yang memegang kerah Anton, mundur satu langkah, kepala terasa berat, dada seketika sangat sesak karena memang benar apa kata Anton belum tentu Tomy bisa melindungi putra dari Dona Sanjaya.
"Dimana dia Anton, aku hanya ingin tahu saja?" tanya Tomy dengan berlinang air mata.
"Sebetulnya anda sudah sering bertemu dengan dia bos, anda saja yang kurang peka, karena bakatnya persis seperti anda yaitu menembak" jawab Anton lirih.
"Berarti di..... dia...dia adalah----?" Potong Anton cepat karena dari kejauhan ada yang mengawasi mereka.
"Jangan sebut namanya bos, ada yang mengawasi kita di belakang anda, jangan menengok juga" perintah Anton dengan tegas.
"Apakah kamu juga tahu jika Meera tidak bisa punya anak karena---" tanya Tomy tidak jadi melanjutkan pertanyaannya.
"Stop..bos ada Meera di belakang anda!" jawab Anton dengan nada tinggi.
__ADS_1
Seketika Tomy memegang dadanya yang semakin sesak, melorot kebawah sedikit demi sedikit, pingsan di saat itu juga dan di rangkul oleh Anton tumbuh tua itu.
"Bu.. cepat panggil Ken, suruh kesini!" perintah Anton kepada istrinya yang sedari tadi hanya bengong karena takut bertemu dengan Tomy Sanjaya mantan bosnya dulu.
Intan Ariyani berlari mencari Ken yang berada di antara para tamu undangan dengan cepat, sedangkan Anton menepuk pipi Tomy berusaha menyadarkan dari pingsannya, sesekali melihat orang yang mengawasi mereka dari kejauhan ternyata adalah Ameera Safitri yang terduduk lemas mendengar semua pembicaraan antara Anton Sahroni dan Tomy Sanjaya itu dengan jelas, ternyata mata tajam yang selama ini dia pandang dengan penuh tanda tanya adalah mata yang persis milik almarhum suaminya sendiri yaitu Dona Sanjaya gumam Ameera dalam hati sambil terduduk lemas.
Datang Ken, Sandi dan Intan Ariyani dengan sedikit berlari mendatangi Anton dan Tomy dengan khawatir.
"Sandi hubungi ambulance cepat" perintah Anton dengan suara lantang.
Sandi mengubungi panitia pelaksana wedding organizer dengan cepat karena di luar sudah ada ambulance yang standby di luar hotel.
Para medis datang dengan cepat dengan membaca tandu dan membawa Tomy ke ambulance yang ada di luar hotel.
Sedangkan Anton hanya menyatukan kedua tangannya di dada kepada Ameera Safitri dari kejauhan, dan berlari keluar mengikuti Ken, Sandi menuju ambulance.
"Bu tolong kabari keluarga bos besar kita menuju rumah sakit sekarang!" perintah Anton kepada istrinya sambil tetap berlari keluar.
Intan Ariyani berjalan perlahan menuju ke arah Ameera Safitri yang masih syok dan tidak beranjak dari tempatnya dari tadi duduk bersimpuh dengan tangis yang terisak-isak langsung memeluknya dengan erat.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima di hotel itu sudah tidak ada tamu yang datang, hanya ada keluarga, dan teman yang sedang bersiap-siap untuk pulang, kecuali ada rombongan keluarga Tomy yang kebingungan mencari Tomy Sanjaya dan Ameera Safitri yang menghilang entah kemana.
Datang Intan berjalan sambil memeluk Ameera Safitri dengan keadaan lemah dan menangis terisak-isak.
"Maaf Bu, bos Tomy di larikan ke rumah sakit oleh suamiku bersama bos Ken barusan" kata Intan kepada Mama Nadia.
Semua orang yang hadir disitu kaget bukan kepalang, dengan apa yang terjadi, mereka bergegas menyusul ke rumah sakit termasuk Imma dan Papi Bastian, sedangkan yang lain di minta pulang ke rumah.
Dirumah sakit Tomy Sanjaya di tangani oleh dokter di ruang UGD, sedangkan Anton sudah mondar-mandir seperti setrikaan karena merasa bersalah atas apa yang terjadi.
Datang rombongan Dini dan seluruh keluarga ditambah Imma, Papi Bastian, Intan dan Heri Pranoto menanyakan tentang keadaan Tomy Sanjaya.
Bersamaan pula datang dokter yang menangani Tomy keluar dari pintu ruang UGD memanggil keluarganya.
"Keluarga Tomy Sanjaya?" Panggil dokter itu dengan lantang.
__ADS_1
Mama Nadia mendatangi dokter itu dengan cepat disertai oleh seluruh keluarga yang hadir saat itu.
"Saya istrinya dokter, bagaimana dengan suami saya?" tanya Mama Nadia cemas.
"Baik Bu, sabar ya, apakah bapak memiliki riwayat hipertensi Bu?" tanya dokter itu.
"Iya dok, papaku memang memiliki penyakit hipertensi" jawab dini cepat.
"Tensi pak Tomy terlalu tinggi Bu, sehingga mengakibatkan terjadinya stroke ringan, beliau sudah sadar, sebentar lagi akan kami pindah ke ruangan" kata dokter lagi.
Mendengar keterangan dokter Dini mengajak suaminya menarik tangan Anton untuk bertanya apa sebenarnya yang terjadi hingga membuat papanya itu terkena stroke ringan.
Akhirnya Anton menceritakan tentang pertemuan tidak disengaja dengan Tomy Sanjaya dan tentang pertengkaran itu dan semua di dengar oleh Ameera Safitri juga.
"Mas, disana saat kejadian itu apakah ada orang orang dari Leo Bardan ataupun Baron Pranoto?" tanya Dini khawatir.
Anton mengingat peristiwa itu terjadi ada beberapa orang tamu yang lewat saat itu, tetapi Anton tidak begitu mengenali mereka karena memang sebagian besar memakai baju batik.
"Entahlah aku juga tidak begitu mengenali mereka, karena aku begitu takut bertemu dengan papamu, sehingga aku tidak begitu memperhatikan" jawab Anton cemas.
"Mas, berarti papa mertuaku sudah mengetahui siapa anak dari almarhum mas Dona, siapa dia mas?" tanya Edi Darmawan penasaran.
Anton hanya bernafas panjang dengan pertanyaan dari adik ipar mantan bosnya itu dan menatap tajam kepada Edi Darmawan.
"Maaf bos, nanti saja kita bicarakan lagi, untuk sementara aku belum bisa bercerita, itu bos besar akan di pindahkan ke ruang rawat inap ayo!" jawab Anton sambil berjalan mengikuti brankar yang sedang membawa Tomy Sanjaya.
__________________
untuk sementara dobel up nya setiap Minggu
dulu ya...shobat.
mohon dukungan like vote dan komentar
agar lebih bersemangat nulis nya
__ADS_1
terima kasih I love you all