
"Waaaah... sepertinya aku akan dapat lawan yang seimbang ini, apakah putramu mempunyai hobi seperti ku Mas Ken?" tanya Tomy Sanjaya.
Ken dan Dini saling menatap mata, seperti memberi tanda apa yang harus di jawab nya, keringat dingin keluar seketika dari kening Ken.
"Iya pak....dia punya ruangan khusus juga, tetapi semua pistol nya hanya pistol mainan" jawab Ken dengan sedikit gugup.
"Apakah putramu yang di ceritakan Sandi kemarin Mas Ken?" tanya Tomy penasaran.
"Betul pak yang di maksud Sandi adalah putraku namanya Faro"
Tomy Sanjaya sangat bahagia mendengar ada anak kecil yang mempunyai hobi yang sama dengan nya.
"Berapa umur nya nak Ken?.
"Hampir enam tahun, tahun ini baru akan masuk sekolah dasar".
"Waaah aku jadi pingin bertemu dengan dia, bolehkah nanti aku mampir jika berkunjung kesana?".
"Tentu pak dengan senang hati".
Tetapi Ken dan Tante Dini masih saling pandangan mata dan tidak tahu harus berbuat apa, Ken hanya mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
Karena sangat senang Tomy Sanjaya mengajak Ken datang ke ruang senjata otomatis itu lagi.
"Ayo nak Ken aku akan berikan sesuatu untuk putramu" ajak Tomy Sanjaya.
Ken mengikuti Tomy Sanjaya ke ruang senjata itu diikuti oleh Dini di belakang nya.
Saat pintu di buka memang ada berbagai macam senjata otomatis tertata rapi di dinding ataupun di rak-rak lemari persis seperti yang di vedio kan Sandi waktu itu.
Tomy Sanjaya mengambil salah satu pistol Laras pendek beserta surat resminya, kemudian di serahkan kepada Ken.
"Ini tolong berikan kepada putramu Faro, ini ada surat resmi kepemilikan kok tenang aja".
Ken menjadi gugup karena mendapatkan hadiah yang tidak biasa itu.
"Apakah bisa saya bawa menggunakan pesawat terbang Pak?".
"Oya.... Bisanya hanya orang tertentu saja yang bisa?".
Tomy berpikir sejenak dan mengerutkan keningnya, menimbang kemungkinan jika Ken membawanya akan ada masalah.
"Sebaiknya aku saja yang membawanya, nanti jika aku ke Jakarta"
Tomy Sanjaya mengembalikan senjata otomatis itu ke dalam lemari kembali dan memasukkan surat resminya kedalam lacinya kembali pula.
Tante Dini semakin gelisah mendengar harapan papa kandungnya itu, yang ingin bertemu Faro jika ke Jakarta nanti.
__ADS_1
Ken baru bisa beristirahat setelah semua keluarga Tomy Sanjaya masuk ke kamar mereka masing masing menjelang jam sepuluh malam.
Di dalam kamar Ken bergegas mengambil handphone nya menghubungi istri tercinta dengan vedio call.
"Halo.... honey...sudah tidur kah?" tanya Ken saat melihat wajah cantik istrinya itu.
"Hhmmmm....."
Jawa Imma sambil menggelengkan kepalanya dengan tatapan sayu.
"Umi tidak bisa tidur...". ucap Imma dengan memeluk guling bersuara manja.
Ken tersenyum ternyata istrinya merindukan nya walaupun belum sehari di tinggalkan.
"Tidak usah di matikan handphone nya Abi temani dari sini ya......"
"Ya ..... jangan di matikan vedio call nya sebelum umi tidur ya .... please".
"Tentu honey".
"Rasanya aneh tidak ada Abi, tempat tidur nya jadi kosong".
"Ini sudah di temani... ayo tidur"
Mata Imma sudah berkaca-kaca memandangi suaminya yang jauh dari jangkauan nya.
"Tidak bisa dong honey... besok itu peletakan batu pertama".
"Kalau begitu Abi cerita gin, biar umi dengarkan dari sini".
Ken bercerita panjang lebar sambil memandangi Imma yang mulai mengantuk, matanya terkadang terpejam, tetapi terbuka kembali sampai beberapa saat sampai Imma terlelap dalam mimpi indahnya.
Ken mematikan handphone nya setelah Imma terlalap meletakkan handphone itu di samping bantal, merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
Pagi mulai mengintip dari balik gorden, suara kicau burung yang tidak pernah Ken dengar di perkotaan, pagi itu Ken bisa terbangun karena suara burung yang sangat merdu.
Ken mengambil handuk dari koper nya untuk segera mandi, air di daerah perkebunan teh sangat dingin seperti es, Ken tidak jadi mandi hanya sikat gigi dan muka saja untuk sementara, dia berniat mandi jika matahari mulai mengintip dari pepohonan teh itu.
Kembali ke tempat tidur dan mengambil selimut tebal kembali dan mengambil handphone nya dan menghubungi Imma.
"Hai.... honey.... sudah bangun kah?"
Imma tidak begitu menjawab telepon Ken karena adik Fia sedang menangis kencang dan Ken pun mendengar tangisan itu.
Imma menekan handphone dengan nada loud speaker dengan cepat.
"Bi....adik nangis nich.....ada apa?, Vedio call aja ya" pinta Imma.
__ADS_1
Ken mengganti dengan vedio call, bersamaan dengan Faro masuk di kamar Imma karena mendengar adik Fia yang sedang menangis.
"Abi.....lagi ngapain?... Faro sama adik Fia kangen" usap Faro sambil loncat loncat di depan adik Fia, adik Fia berhenti menangis melihat abangnya loncat loncat seperti kanguru, adik Fia bergerak gerak kegirangan.
Ken tertawa lepas melihat mereka ceria lagi, memandangi wajah Imma yang sendu kembali saat keduanya beradu pandang, Ken hanya menunjukkan tangan dengan mode love sambil simbul mulut mengecup.
"Abi kok masih selimutan, disini sudah pada mandi semua" tanya Faro heran.
"Disini dingin banget bang, Abi tidak berani mandi tidak ada air hangat nya"
"Adik Fia...Abi jorok,... Abi jorok tidak mandi" kata Faro sambil menganggukkan kepalanya mengajak adiknya bicara, kembali adiknya terkekeh dengan riang menendang tangan dan kakinya.
Dari luar kamar Ken menginap, ada yang mengetuk pintu kamar perlahan, sehingga Ken berpamitan untuk mematikan teleponnya.
"Masuk.... tidak di kunci" perintah Ken.
"Bos.....kok belum rapi?" tanya Bayu setelah masuk dan membuka pintu.
"Dingin.... tidak berani mandi aku" jawab Ken jujur.
"Aku juga tidak mandi bos, airnya seperti air es, pakai parfum aja banyak banyak, nanti sore baru berani mandi" jujur Bayu
"Kalau gitu tunggu, aku ganti baju saja, tidak berani mandi juga"
Berganti baju, memakai parfum agak banyak sambil tersenyum, merasa aneh baru kali ini pagi tidak mandi.
Berdua keluar kamar bergabung dengan keluarga Tomy Sanjaya untuk sarapan pagi bersama yang sudah di sediakan di meja makan.
Tepat pukul delapan pagi mereka berangkat ke tempat peresmian peletakan batu pertama pembuatan destinasi pariwisata alam.
Saat asisten Budi melihat peletakan batu pertama mendapatkan notifikasi WA dari Sandi.
"Bud, kamu tahu Leo Bardan kah? yang menyerang bos mu kemarin adalah anak buahnya?"
"Nanti aku tanya.....bos ku dulu" jawab Budi singkat.
Budi berlari mendekati Edi Darmawan dan membisikkan di telinga menanyakan tentang orang yang ditanyakan oleh Sandi barusan.
"Nanti aku tanyakan Papa Tomy terlebih dahulu, aku tidak begitu faham tentang anak buahnya Baron Pranoto" jawab Edi.
Edi Darmawan yang yang mendapatkan informasi dari asisten nya, tanpa menunggu lama mendekati papa mertua itu untuk menanyakan tentang Leo Bardan.
"Papa..... apakah tahu tentang Leo Bardan?" tanya Edi Darmawan.
"Darimana kamu tahu tentang Leo Bardan, dia tangan kanan Baron Pranoto?".
"Haaaa.........?????"
__ADS_1