Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 57 Kunjungan Dini


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah papa Tomy dan Mama Nadia sedang menunggu laporan dari asisten nya Hendra, dan orang orang kepercayaan nya untuk mencari tahu tentang informasi keberadaan Baron Pranoto.


Sudah hampir satu Minggu papa Tomy dan Mama Nadia menunggu kabar itu, tetapi belum mendapatkan informasi yang akurat.


Hendra datang bersama dua orang kepercayaan nya, bisa di bilang dua orang itu adalah Detektif swasta yang selama ini sering membantu papa Tomy dalam informasi tentang sepak terjang Baron Pranoto di dunia mafia, terutama mengenai yang menyangkut keluarga nya.


Hendra dan dua orang detektif itu mengabarkan bahwa Baron datang ke Indonesia sedang menghadiri acara pernikahan saudara jauh nya yang diadakan di Jakarta.


Hendra juga menceritakan bahwa kemungkinan besar Baron sudah tahu tentang kabar burung adanya putra Dona Sanjaya, tetapi kabar nya Baron belum bergerak mencari informasi tentang hal itu.


Dua orang Detektif swasta itu menyarankan agar untuk enam bulan kedepan tidak membuat pergerakan yang mencurigakan.


Mereka menyarankan juga sebaiknya tidak mencari keberadaan putra Dona Sanjaya dalam waktu enam bulan kedepan jika ingin aman dari pengawasan Baron Pranoto.


Mendengar saran dari orang kepercayaan papa Tomy, Mama Nadia menangis sejadi jadinya, hatinya sangat sakit, mengapa harus selama itu mereka menahan hanya untuk sekedar tahu dimana keberadaan cucu laki-laki nya.


"Yakin pa, selama itu kita hanya diam saja tanpa mencari cucu laki-laki kita hu... hu... hu"


"Habis mau bagaimana lagi mama, papa juga tidak tahu, sabar dulu lah nanti kita cari jalan terbaik nya".


"Sebaiknya kita di sini di ya pa, sampai kabar Baron Pranoto pulang lagi ke Singapura".


"Baiklah, ikut kata mama saja".


"Boleh kah minta satu hal lagi Papa?".


"Apalagi mama?".


"Mama ingin berkunjung ke rumah Faro".


"Mama..... kamu ini kenapa, di bilang jangan mendekati siapapun yang membuat Baron Pranoto curiga".


Papa Tomy langsung naik pitam mendengar permintaan Mama Nadia, tensi papa Tomy langsung naik dan kepala nya menjadi pusing.


Memang selama ini papa Tomy memiliki penyakit darah tinggi, papa Tomy langsung terduduk di samping Mama Nadia dan memegangi kepalanya yang pusing.


"Arghhhhhh...."

__ADS_1


"Papa......pa.... maafkan mama, pusing kah kepalanya, ayo istirahat di kamar dulu".


Mama Nadia langsung mengajak papa Tomy ke kamar untuk istirahat, papa Tomy langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya untuk tidur sebentar.


Mama Nadia kemudian langsung menelpon Putri nya Dini, menceritakan tentang papa nya yang darah tinggi nya kambuh lagi.


"Ma. , aku mau kesana besok sama anak-anak, naik pesawat pagi nanti".


"Ya... mama tunggu ya nak".


Keesokan paginya Dini dan kedua putri nya Laila dan Dania datang ke Jakarta dengan pesawat pagi, tetapi Edi Darmawan suaminya tidak ikut ke Jakarta karena tidak bisa meninggalkan perkebunan teh yang selama ini dia pimpin.


Saat berangkat tadi Dini dan kedua anaknya belum sarapan, saat sampai di Jakarta Dini dan kedua anaknya di jemput oleh asisten Hendra.


Saat dalam perjalanan tanpa sengaja Dini kedua putrinya meminta berhenti sarapan dan berhenti di depan Imma Kafe


"Kita makan di situ saja ya mama" Dania menunjuk ke arah Imma kafe.


"Dik Nia itu sepertinya kita pernah melihat kafe ini di televisi swasta nasional deh, kapan ya kok lupa tapi?" Laila berkata sambil mengingat ingat peristiwa itu.


Dini dan kedua putrinya masuk ke dalam kafe itu diikuti oleh asisten Hendra dari belakang.


Mereka duduk berhadapan dan memesan makanan untuk sarapan, Dini melihat foto keluarga yang berada di kanan kiri dinding itu langsung shock, melihat foto Faro Dini seperti melihat foto kakaknya waktu masih kecil.


Wajah Faro persis tidak ada bedanya sama sekali dengan Dona kecil, karena Dona dan Dini memang tumbuh bersama sejak kecil sehingga Dini sangat mengingat masa kecilnya.


"Dik Nia bukan kah itu yang di tanyakan Oma saat lihat tantangan infotainment saat itu"


"Iya Mbak Laila itu Faro yang di infotainment itu"


Dini memesan makanan yang di minta kedua putrinya, dengan tangan bergetar, asisten Hendra merasa heran apa yang terjadi putri bos nya itu, karena asisten Hendra tidak pernah mengetahui masa kecilnya dari putra dan putri bos nya.


"Anda baik-baik saja Bu?".


"Maaf sepertinya mag saya kambuh asisten Hendra". Dini terpaksa berbohong kepada asisten Hendra.


"Ayo cepat di makan sayang... Opa dan Oma sudah menunggu kita".

__ADS_1


Dini mengajak kedua putrinya makan setelah pesanan nya datang, untungnya uthi Sumi tidak melihat pengunjung saat ini, karena saat ini uthi Sumi pergi ke pasar menemani uthi Marni berbelanja keperluan kafe.


Dini melanjutkan perjalanan kembali setelah selesai membayar di kasir Imma Kafe, tetapi sebelum keluar dari kafe itu, Dini meminta kedua putrinya untuk berfoto bersama dengan di bantu oleh asisten Hendra.


Dini sengaja mengambil background foto Faro dan foto ayah Hariyanto dan ibu Lestari, dengan harapan ada petunjuk dari sini tentang putra kakaknya Dona Sanjaya.


Sudah sampai di apartemen Laila dan Dania langsung berlari mencari Opa dan Oma nya yang sangat di rindukan nya.


"Opa..... Oma.... kami datang..."


Mereka langsung mencium punggung tangan keduanya bergantian sesampainya di kamar.


"Opa.... apakah sudah sehat?"


"Opa tidak apa-apa cucu cucu cantik".


"Sudah makan kah, Oma buatkan dulu ya, temani Opa sebentar".


Mama Nadia keluar kamar untuk membuat sarapan dan diikuti oleh Dini di belakang nya.


Dini menceritakan semua yang di lihatnya tadi pagi di Imma kafe, mama Nadia langsung ingin melihat foto foto yang diambil oleh dini saat tu,


"Nak, jangan ceritakan kepada papamu ya untuk sementara, tensinya biar turun dulu".


"Ya mama... baiklah".


Mama Nadia memasak makanan untuk makan siang untuk semua keluarga di bantu oleh Dini.


Dini hanya sekitar tiga hari tinggal di Jakarta, karena harus dampingi suaminya dan juga kedua putrinya harus sekolah.


Setelah papa Tomy sehat kembali Dini kembali ke daerah pegunungan di Jawa timur, dengan menggunakan penerbangan pesawat sore hari.


Sedangkan papa Tomy dan Mama Nadia masih bertahan di Jakarta, karena masih mendengar kabar bahwa Baron Pranoto masih ada di Jakarta.


Rombongan Baron Pranoto masih berwisata di daerah Jakarta dan sekitarnya.


Orang kepercayaan Papa Tomy masih mengawasi gerak-gerik Baron dan anak buahnya yang khusus nya tersebar di daerah Jakarta.

__ADS_1


Mama Nadia tidak berani menceritakan tentang kunjungan Dini di Imma kafe itu, takut nya nanti papa Tomy tensi naik lagi.


Papa Tomy juga sudah mulai tenang dan tidak merasa pusing lagi dan masih mencari solusi kedepannya apa yang harus di lakukan.


__ADS_2