Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 125 Rencana Mencetak Kenzo


__ADS_3

Bagaimana dengan purnawirawan Agung Darsono, dia menceritakan tentang apa saja, apakah menceritakan tentang cucunya?" tanya Andri penasaran.


"Tidak bos, dia hanya bercerita jika dia yang menolong dan yang menembak ketiga laki-laki yang mengejar anda itu" jawab Leo Bardan.


Andri termenung lagi, mengerutkan keningnya, mengingat kejadian senja itu, Letnan Agung tidak menembak mereka, dia hanya memegang pistol itu diatas tangan anak laki-laki yang dipanggil Abang itu.


"Apakah kamu bertemu dengan cucunya Letnan itu?" tanya Ardi lagi.


"Tidak bos, beliau hanya sendiri, apakah saat peristiwa itu terjadi Letnan itu bersama cucunya?" jawab Leo heran dan penasaran.


"Sudahlah tidak usah dibahas, tolong selidiki saja latar belakang keluarga dari mantan letnan itu" titah Andri Pranoto lagi.


Akhirnya Leo dan pengacara itu hanya menganggukkan kepalanya saja, dan pergi melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka.


Andri kemudian menghubungi keponakannya Heri Pranoto untuk datang ke rumah sakit, dalam waktu kurang dari satu jam Heri beserta seluruh keluarga datang menemui Andri.


"Apa yang terjadi nak?, apakah kamu masih mengikuti jejak papamu?" tanya ibu Sarah dengan khawatir.


Andri hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya saja tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan ibu tirinya itu.


"Maaf Bu, merepotkan ini titipkan dari papa buat semua keluarga disini" jawab Andri mengalihkan perhatian.


Ibu Sarah tersenyum, tetapi merasa sedih ternyata keluarga yang selalu di hormati itu masih tetap seperti dulu tidak ada perubahan sama sekali.


"Tidak usah nak, keluarga kami sudah mampu mencari nafkah sendiri tanpa bantuan dari papamu, kembalikan saja" titah ibu Sarah tegas.


"Tapi Bu, ini ---!" kata Andri lagi tidak dilanjutkan ucapannya Heri memotong ucapannya.


"Maaf, Papa Andri tolong jangan patahkan prinsip nenek dan ibuku, please!".


Andri menunduk, meneteskan air matanya, prinsip ibu Sarah memang sangat kuat, sudah bertahun tahun lamanya tetapi tidak pernah bergeming tentang keyakinannya yang kuat, dimasukkan kembali amplop yang berisi cek titipkan dari papanya ke dalam dompet.


************


Ken yang sedang memeluk Imma di dalam kamar sambil berbincang mesra masih membahas tentang kejadian tadi sore saat Faro menebak tiga orang laki-laki tepat sasaran seperti yang diperintahkan Akung Letnan.


"Bagaimana Faro.... sayang apakah ada perubahan sikap?" tanya Imma.


"Seperti tidak ada, biasa-biasa aja dia tuuh, kita lihat beberapa hari ini dulu lah".

__ADS_1


"Sayang... umi cuma takut, dia jadi terbiasa menembak sasarannya orang, dan tidak merasa bersalah".


"Sudahlah kita lihat beberapa hari dulu, umi jangan terlalu khawatir, lebih baik kita bahas Kenzo, sudah tercetak belum di dalam sini" kata Ken sambil tangannya menyusup di balik baju Imma.


"Mulai lagi..., jangan bahas itu kita harus konsultasi dengan dokter Tanti saja dulu".


"Kalau cuma usaha boleh dong?" jawab Ken dengan mengedipkan matanya.


Baru mau mulai ritual bergerilya ada suara handphone berdering kencang, Ken mengambil dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya masih nangkring di balik baju tanpa henti.


"Ya San....ada apa?, ini sudah malam, menganggu orang lagi senang aja?" tanya Ken setelah menggeser tombol hijau handphonenya.


"Bos... Mely mau melahirkan ini aku dalam perjalanan ke rumah sakit".


Ken seketika menarik tangannya dari puncak gunung kembar itu dan beranjak berdiri dari tempat tidur.


"Kami kesana... hati-hati, jangan panik" nasehat Ken.


Imma jadi ikut bingung, karena memang tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi.


"Ada apa sayang, siapa yang menelepon?".


"Itu tadi Sandi, katanya Mely sudah akan melahirkan, ayo umi ikut!" jawab Ken sambil berganti baju.


"Suruh tidur aja dulu dia, nanti bersambung lagi" celoteh Imma dengan menatap sendu Ken yang menahan hasrat yang gagal bertemu dengan kesayangannya.


"Kalau sudah bangun susah disuruh tidur, minta di belai terlebih dahulu" rayu Ken tetap memeluk Imma sehingga Imma kesulitan memakai baju ganti.


"Sayang...ini apa-apaan sih, ayo cepat, kasihan Sandi dan Mely" jawab Imma sambil memukul lengan Ken dengan pelan.


Ken melepaskan pelukannya, mengambil dompet dan kunci mobil keluar kamar turun menuju garasi, setelah Imma berpamitan kepada Uthi Mami untuk menitipkan anak-anak, baru menyusul Ken ke garasi dan berangkat menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit Ken hanya sedikit masam mukanya sesekali meremas tangan Imma dengan perlahan dan terkadang menautkan kedua tangannya memegang jari jemari dengan sempurna.


"Kenapa sayang, belum tidurkah kesayangan umi?" rayu Imma.


Ken hanya menganggukkan kepalanya menatap sendu, penuh harap dibelai tetapi sayangnya lagi dijalan raya takutnya membahayakan keselamatan istrinya, Ken hanya menelan ludahnya dengan kasar.


Ken dan Imma langsung menuju ruang bersalin menemui Sandi yang mondar-mandir seperti setrikaan.

__ADS_1


"San, kamu sendirian dimana mama mertua dan keluargamu?" tanya Ken penasaran.


"Mereka dalam perjalanan bos, kalau kedua orang tuaku baru berangkat dari Bandung" jawab Sandi tetap sambil mondar-mandir dari tadi.


"Kakak........ sakit..." panggilan Mely dari dalam ruang bersalin, Sandi sampai membulatkan matanya ingin berlari ke ruang bersalin itu, bersamaan dengan seorang suster yang berlari tergopoh-gopoh.


"Keluarga ibu Mely " panggil suster itu dengan cepat.


"Saya suaminya sus" jawab Sandi.


"Pembukaannya sudah sempurna pak, silahkan masuk, menemani istrinya melahirkan" perintah suster lagi.


Ada suara teriakan yang lumayan menyakitkan, membuat Ken menjadi ngeri dan sedikit takut, Ken memeluk Imma dengan erat.


"Honey....apakah sesakit itu melahirkan, bagaimana nasib Kenzo, Abi jadi ngilu, takut umi mengalami itu?".


Imma hanya tersenyum membalas pelukan Ken, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ken.


"Umi juga belum pernah merasakannya Abi, tetapi yang jelas setiap wanita pasti ingin melewati tahapan melahirkan putra putrinya dengan normal, itu merupakan salah satu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri menjadi seorang itu" jawab Imma panjang lebar.


"Waduh manisnya, honey.. berarti jadi ya kita cetak Kenzo, nanti umi yang hamil dan kalau rasa sakitnya biar Abi ambil dan Abi yang merasakannya" pinta Ken nyeleneh.


"Memang bisa rasa sakitnya dipindahkan, aneh?" celetuk Imma dengan mengerucutkan bibirnya.


Terdengar suara tangisan bayi sangat kencang dari dalam ruangan bersalin itu, Imma dan Ken saling pandang dengan tatapan mata yang berbinar.


"Sudah keluar bayinya Bi, kencang banget lagi suaranya" kata Imma sedang.


Setelah beberapa saat keluar Sandi dengan menggendong seorang bayi laki-laki, tetapi tangan Sandi merah dan banyak luka gores di kedua tangannya.


"Bos... lihatlah putraku, gagah sekali seperti papanya" kata Sandi jumawa.


"Iya gagah sekali putramu, tetapi aku masih ngilu, apalagi melihat tanganmu luka begitu?"


________________


jangan lupa like vote dan komentar nya,


dukungan teman teman membuat semangat

__ADS_1


menulis lo..... terima kasih.


I love you all.


__ADS_2