Dia Adikku Bukan Anakku

Dia Adikku Bukan Anakku
Bab 73 Malaikat Maut Ganteng


__ADS_3

Sebelum masuk kamar operasi Imma menerawang sendiri, pasalnya tidak ada seorang pun yang mendampinginya saat itu.


Pikirkan nya jauh pergi ke tempat saat ibunya melahirkan Faro tanpa di dampingi oleh suaminya.


"Ibu..... seperti inikah rasanya sendiri tanpa ada dukungan dari orang-orang yang di cintai nya, maafkan Imma Bu, dulu ibu banyak menderita belum sempat Imma membahagiakan ibu" gumam Imma dalam hati.


Walaupun ikhlas Imma masuk kamar operasi sendiri tanpa ada yang mendampinginya, hati nya cukup miris juga, seperti akan memasuki ke pemakaman seorang diri, seperti melihat liang lahat kosong dan dia akan masuk kesana sendiri.


Hati Imma terasa sangat merindukan ibu Lestari, ayah Hariyanto dan ayah Dona, saat masuk kamar operasi hati Imma seperti akan menjumpai mereka, seperti mereka berada di samping nya.


Bayangan Ibu dan kedua ayahnya terpampang nyata di benak hati Imma, seperti ada ibu dan kedua ayahnya sedang menunggu nya di seberang sungai, sedangkan ada Ken, Faro dan putri kecilnya sedang menggandeng tangan nya.


Imma hanya tersenyum kecut, mengambil sisi positif nya saja, dia hanya berharap putri kecilnya akan selamat lahir tanpa kekurangan suatu apapun.


"Bu.... ayo Sebelum di mulai operasi nya kita berdoa dulu, berdoa di mulai...".


Terjadi keheningan sesaat karena semua yang ada di ruang operasi itu menundukkan kepalanya memanjatkan doa kepada Tuhan yang maha Esa mengharapkan lancar nya operasi Caesar itu.


"Aamiin...... Aamiin".


"Bu Imma maaf ya ini biusnya bius total, saya suntikkan di jarum infus sekarang"


"Satu..... dua.... ti..."


Tetapi belum sampai hitungan ke tiga Imma sudah terlelap dalam pengaruh obat bius nya.


Di luar kamar operasi uthi Sumi duduk menenggelamkan kepalanya di antara dua lututnya sambil menangis tersedu-sedu tanpa ada yang bisa di ajak bicara, handphone nya hilang saat turun dari mobil online itu.


Terpaksa uthi Sumi berjalan hampir tiga kilometer untuk mencari kendaraan umum menuju rumah sakit, untung saja dompet masih ada di tangan hanya handphone saja yang tertinggal.


Di lain ruangan dokter Jaka membaca pesan anak didik nya dokter Tanti, dan langsung menghubungi Papi Bastian menceritakan tentang kondisi Imma yang saat ini di kamar operasi.


Papi Bastian saat di hubungi oleh dokter Jaka sedang berada di kantor nya bersama Anton asistennya, berlari ke kantor Ken sambil menarik Anton tanpa tahu ada permasalahan apa.


Tidak menemukan sosok putranya itu Papi Bastian berlari lagi ke ruang rapat, ternyata sedang menandatangani surat surat bersama jajaran direksi perusahaan.


"Kenzie Wiguna......" papi Bastian memanggil anaknya dengan berteriak panik.


"Ada apa Papi?".

__ADS_1


"Handphone kamu kemana tidak di angkat?"


Ken mencari handphone nya ternyata ada di dalam tas, sedangkan tasnya berada di samping Sandi.


"Istrimu sedang di operasi tidak ada yang mendampingi".


Papi Bastian mengatakan itu setelah Ken mengecek handphone nya ada telpon masuk banyak sekali tetapi tidak di angkat nya karena tidak dengar.


Ken yang mendengar istrinya operasi tanpa ada yang mendampingi seketika linglung dan pingsan.


karyawan yang ada di situ menjadi panik, Sandi menangkap Ken dari belakang dan menidurkannya di kursi yang di tata panjang, ada salah satu karyawan mengambilkan kotak obat, dan mengeluarkan minyak kayu putih.


Di oleskan minyak kayu putih itu di bawah hidung nya, mata Ken membuka perlahan.


"Bangun lah bos....ayo bangun, istri anda menunggu saat ini" kata Sandi sambil menggoyangkan badan Ken.


Ken terbangun dari kursinya cepat tanpa memperdulikan keadaan nya, badannya terhuyung saat berdiri setelah terbangun dari pingsan.


"Ken duduk dulu.... jangan di paksakan nanti kau pingsan lagi" pinta papi Bastian saat melihat Ken hampir terjatuh.


"Ken tidak perduli papi, kalau perlu seret saja tubuh ku ini, yang penting sampai di rumah sakit dengan cepat".


"Bos.... aku yang membawa mobil, lempar kuncinya".


Ken melemparkan kunci mobil itu ke arah sandi sambil tetap berlari diikuti juga oleh papi Bastian ketinggalan di belakang serta asisten Anton di samping papi Bastian.


"Tunggu aku anak muda.... nafas rasanya mau lepas dari raga ku". kata Papi Bastian sambil mengatur nafas nya terengah-engah.


Sandi yang lari paling depan sampai dekat pintu mobil membuka dan memutar kemudi dengan cepat dan menghampiri ketiga pria yang berlari di belakang nya itu.


Sandi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah hiruk pikuk jalanan ibukota yang padat, melewati gang dan jalanan mana saja yang sekiranya tidak macet.


"Cepat Sandi, percuma disebut raja jalanan kalau tidak bisa sampai rumah sakit dalam waktu setengah jam" ucap Ken dengan gelisah.


Sandi melewati rute yang pernah dia lewati Sebelum nya yaitu tengah pasar, seolah membelah pasar itu menjadi dua bagian Saat dia melewati nya, padahal pasar itu masih terlihat ramai.


Banyak para ibu-ibu meneriakinya karena suara klakson mobil sandi yang tiada berhenti berbunyi.


"Tiiiin.....tinnnnnn....... tiiiiinnn"'.

__ADS_1


Sampai ujung pasar ada tangga yang menurun sandi tetap meluruskan mobil nya sehingga mobil itu seperti berjoget-joget melewati tangga itu.


"Sandi kamu gila ya.... tangga kau tabrak juga....." kata Papi Bastian marah.


"Maaf bos besar hanya ini jalan alternatif nya".


Waktu Ken dan rombongan dalam perjalanan nya, di depan kamar operasi uthi Sumi di hampiri oleh dokter Jaka.


"Jangan menangis Bu, putri mu di kamar operasi dalam keadaan baik-baik saja, jangan khawatir".


dokter Jaka memeluk uthi Sumi hanya untuk menenangkan hati nya yang rapuh, tetapi uthi Sumi tetap menangis menyesali apa yang terjadi saat ini, meninggalkan putri kesayangannya operasi tanpa ada dirinya di samping nya.


Ketakutan hati uthi Sumi bukan tanpa alasan, karena selama ini mendampingi Imma sebagian besar hidupnya banyak mengalami penderitaan dan cobaan hidup yang sangat berat.


Sandi belum sempat memarkirkan mobilnya dengan sempurna Ken sudah loncat dari mobil itu dan berlari melesat kilat melewati orang yang berlalu-lalang di gang gang rumah sakit.


"Dasar..... Kenzie.... tidak bisa hati hati kah?" ucap Papi Bastian saat Ken tanpa sengaja menginjak sepatu nya saat melewati mau turun dari mobil itu.


"Maaf Papi....Ken buru buru.....".


Ken sampai depan kamar operasi melihat sosok uthi Sumi dalam pelukan dokter Jaka.


"Uthi......uthi..... mana Umi?.


"A......A...... Abi... hu.....hu.... itu.... itu !" ucap uthi Sumi terbata bata sambil menangis tersedu-sedu.


Bersamaan pula lampu kamar operasi yang berada di atas pintu itu padam menandakan jika operasi selesai di laksanakan dan terbuka pula pintu kamar operasi itu.


Ada dua suster mendorong brankar tempat tidur dan ada Imma disana masih memejamkan matanya.


"Umi......umi.....umi....".


Ken memanggil namanya sambil mengikuti brankar itu berjalan, dan diikuti oleh seluruh anggota keluarga dari belakang.


Imma membuka matanya perlahan lahan sambil merasakan nyeri di perut nya.


"Apakah anda malaikat maut yang mau menyambut nyawaku?" kata Imma yang masih setengah sadar karena obat bius.


"Enak saja mana ada malaikat maut seganteng Abi" jawab Ken sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2