
Bahagia itu sebenarnya sangat sederhana, hanya dari saling menyayangi, perhatian dan limpahan cinta serta kasih sayang yang tulus akan membuat hati bahagia, seperti inilah keluarga Ken, yang mencintai istri dan anak-anaknya dengan caranya sendiri, memperhatikan istri dan keluarga membuat hatinya sangat bahagia.
Dengan selalu melayani suami tercintanya, memperhatikan keperluannya, menyediakan kebutuhan sehari-hari saat mau berangkat kerja sudah membuat Imma sangat bahagia, mendapatkan limpahan cinta yang tulus, tanpa ada riak ombak yang besar dalam keluarga kecilnya, saat ini Imma tinggal menunggu hari kelahiran putra yang rencananya di berikan nama Kenzo lahir.
Ken sama sekali tidak berani meninggalkan Imma dalam waktu lama, selalu menjadi suami siaga, karena tidak ingin terjadi lagi seperti saat Fia lahir tanpa ada yang menemaninya.
Faro dan Fia juga selalu di berikan amanah untuk selalu menemani uminya saat Ken ke kantor, di tambah satu lagi yaitu Uthi Marni yang selalu menemani Imma melakukan aktivitas sehari-hari saat Ken ke kantor.
Saat istirahat malam hari ini, Imma mulai merasakan mulas tetapi sebentar hilang sebentar datang, tidurpun tidak begitu nyaman, Ken yang sedikit capek karena banyaknya pekerjaan hari ini, tetap tertidur pulas di samping Imma.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari semakin sering mulas itu datang, membuat Imma mendesah dan merintih.
"Aaaah, huf .... aduh" kata Imma lirih.
Tetapi Imma belum juga membangunkan Ken yang sedang tertidur pulas di sampingnya karena tidak tega, saat ada gerakan Imma semakin sering Ken mengerjapkan matanya, mengumpulkan nyawanya sejenak, melihat istrinya meringis menahan rasa sakit, sontak Ken matanya terbelalak.
"Honey.... honey apakah sudah waktunya Kenzo keluar?" tanya Ken dengan kaget.
"Sepertinya iya Bi, sudah dari jam delapan malam tadi mulasnya" jawab Imma sambil meringis menahan rasa sakit.
"Ayo kita siap siap, Abi panggil uthi Marni dulu honey sabar ya".
Karena gugup Ken tidak begitu memperhatikan dirinya sendiri, mengambil koper yang sudah di persiapkan sebelumnya, kunci mobil dan bersiap keluar kamar ingin memanggil uthi Marni.
"Sayang...hff aduh" panggil Imma sambil menahan tawa.
"Ada apa honey..kok mukanya begitu?".
"Itu Bi, pakai celana dulu, kenapa cuma pakai CD aja?"
Ken hanya terkekeh dan menepuk dahinya saja sambil memandang ke bawah, memakai kaos oblong dan CD saja, bergegas dia mengambil celana panjang dan hem tidak lupa makai jaket dan mengambilkan switer untuk Imma.
__ADS_1
Kemudian berlari menuju kamar Uthi Marni mengetuk pintunya dan mengajaknya ke rumah sakit, sedangkan Sebelum berangkat uthi Marni juga membangunkan bibi pengasuh Fia dan Faro agar bisa membantu mereka saat bangun tidur nanti.
Uthi Marni turun ke lantai bawah membukakan pintu memanggil satpam yang ada di depan untuk bersiap siap, Ken menggendong Imma masuk mobil dan melaju membelah jalanan ibukota Jakarta yang tidak pernah sepi dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.
Duduk di belakang bersama Uthi Marni, sesekali merasakan mulas yang tiba-tiba muncul, dengan mendesah kecil dan mengambil nafas dalam-dalam, Ken selalu melirik ke spion dalam mobil dan menanyakan bagaimana keadaan istrinya itu.
"Bertahanlah honey.. sebentar lagi sampai apakah mulasnya sudah sering?" tanya Ken dengan begitu khawatir.
"Tidak Bi, ini masih setiap sepuluh menit mulasnya, Abi konsentrasi menyetir aja lihat depan" titah Imma sambil mengelus perut buncitnya.
"Sayang, apakah sudah ada tanda-tanda ada air ketuban keluar?" tanya uthi Marni.
"Sepertinya belum Uthi, ini cuma mulas aja" jawab Imma lirih.
Sampai di depan UGD Ken turun dan berlari membuka pintu mobil, menggendong bridal Imma kembali di baringkan di brankar tempat tidur yang sudah di siapkan oleh petugas rumah sakit.
Semakin lama mulas Imma semakin dekat jarak waktunya, Ken selalu memberikan kekuatan dengan mengelus perut, sesekali mengecup kening, pipi dan bibir Imma dengan lembut.
"Uthi tolong hubungi Papi Bastian atau Mami Winda!" Perintah Ken.
Mami Winda bergegas membangunkan Papi Bastian, Kemmy dan Rama baru mereka menyusul Ken ke rumah sakit.
Imma sudah di pindahkan dari ruang UGD ke ruang bersalin, karena sudah pembukaan enam, sehingga kata dokter bisa melahirkan secara normal, tanpa melakukan operasi Caesar seperti waktu melahirkan Fia.
Imma hanya menahan mulas yang semakin sering dengan sedikit menggigit bibirnya, dan mengeluarkan air matanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, karena sudah melihat Ken yang sudah pucat pasi mukanya.
Ken memang tidak bisa melihat istri tercintanya itu sakit, di peluknya dengan erat, mengelus perut buncitnya, mengecup keningnya, bibirnya bergantian terus menerus tanpa henti, sampai Ken tidak tega melihat istrinya tersiksa Ken meneteskan air matanya.
"Honey... di operasi caesar aja ya, Abi tidak tahan lagi melihat umi tersiksa seperti ini" rayu Ken dengan mengiba.
Imma hanya menggelengkan kepalanya saja, menatap sendu wajah Ken yang begitu pucat, mengusap pipi Ken dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak usah sayang, umi ingin merasakan melahirkan normal seperti ibu yang lain, kalau Abi tidak kuat boleh kok tunggu di luar aja, biar uthi Marni yang menemani" jawab Imma dengan sedikit meringis menahan rasa sakit.
"Tapi Abi tidak tahan melihat umi tersiksa seperti itu".
"Sayang.. ayolah, di nikmati aja, yang penting Abi ada disini selalu memberikan semangat dan kekuatan, pasti kita akan bisa melewatinya".
Akhirnya Ken menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengikuti kemauan istri tercintanya untuk melakukan lahiran dengan cara normal.
Tanpa di rasa ada air bening yang keluar lumayan banyak dan membasahi rok Imma.
"Bi, sepertinya ini ketubannya sudah pecah, bisa tolong panggilkan suster atau dokter Tanti" perintah Imma dengan sedikit cemas.
"Baiklah sebentar honey, di panggil dokternya" ucap Ken sambil mencium kening Imma berlari memanggil suster yang jaga, baru kemudian suster itu menghubungi dokter Tanti.
Ken kembali berlari masuk ruangan, tidak mau meninggalkan sedikitpun Imma yang sedang berjuang antara hidup dan mati memperjuangkan kelahiran putranya yang sedari awal ingin diberi nama Kenzo.
"Bagaimana honey, semakin mulaskah, coba di pindahkan ke Abi aja sakitnya" tanya Ken sambil menautkan kedua tangannya dan menciumi pipi dan bibirnya dengan lembut.
"Mana bisa Bi, sakit kok dipindahkan, memangnya barang" protes Imma dengan mengerucutkan bibirnya.
Datang dokter Tanti dengan sedikit berlari mendekati mereka berdua yang sedang menautkan kedua tangannya dengan mesra.
"Kita periksa dulu ya, berhenti dulu mesra-mesraannya, nanti bersambung lagi" celoteh dokter Tanti dengan sedikit tersenyum.
_________________
ada satu lagi novel ku....
Ikat Pinggang Cinta.....
jangan lupa baca juga ya shobat...
__ADS_1
dan like vote dan komentar nya
Terima kasih